Magun

Oleh Muhajir Juli*

Jumat sore (9/8/2019) beberapa nomor hp dan WA pejabat, sedang off. Besok meugang Iduladha. Lusa lebaran. Demikian juga nomor kontak beberapa politikus. Sedang di luar jangkauan. Berbeda dengan masa pemilu, banyak yang bukan saja mudah ditemui. Tapi seringkali juga ikut menelpon menanyakan keadaan, bagaimana kondisi jelang meugang.

Hari ini saya tidak menelpon siapapun. Kabar tentang banyaknya pejabat yang tidak bisa dihubungi, saya dengar dari beberapa kolega.

Meugang selalu menjadi momok bagi pejabat dan politikus yang berada di parlemen. Karena tiap meugang, pengeluaran mereka banyak untuk pos tidak terduga. Padahal, bila mereka pejabat yang lurus, pendapatannya akan sama saja tiap bulan. Tapi siapa pula yang akan percaya bila ada pejabat yang lurus di zaman ini? Semakin tinggi jabatan, semakin kaya raya. Semakin basah jabatan, semakin besar fee yang didapat dari dana APBD. Itu sudah menjadi rahasia umum. Minimal menjadi hipotesis yang dipercaya secara luas.

Tapi, saya tetap percaya masih ada pejabat dan politikus jujur di negeri ini. Walau tak pantas pula nama-nama itu dituliskan di sini. Karena tidak ada manusia yang sempurna. Sedikit atau banyak, para “pemain bola” tentu ikut menggerus rumput lapangan dengan tapak sepatunya. Demikian kesimpulan saya. Semoga saja kesimpulan itu benar. Kalau salah, maafkanlah.

Menjadi pejabat dan politikus, memang serba salah. Di satu sisi dituntut bersih. Tapi di sisi lain, para penuntut itu juga yang membuat para pejabat dan politikus untuk keluar dari garis lurus. Banyak yang minta uang atas berbagai alasan. Bila ditolak, apalagi berkali-kali, ujung-ujungnya, semua kesalahan akan diuber dan dipublikasi. Termasuk mal administrasi, yang setelah digoreng, akan serupa dengan kejahatan penuh aib.

Meugang adalah harinya magun (memasak) daging lembu/kerbau, atau daging halal lainnya. Setiap keluarga menjadikan meugang sebagai hari berkumpul sembari makan bersama. Makan besar, dengan lauk daging.

Saya tidak tahu sejak kapan meugang menjadi beban bagi pejabat. Karena dulu, sie meugang adalah beban suami (lelaki) atau ianya yang menjadi tulang punggung keluarga. Semua akan bekerja keras mengumpulkan uang. Aib besar bila meminta belas kasihan. Tak seorang pun di luar rumah boleh tahu bila seseorang tak sanggup beli daging meugang.

Itu pengalaman di kampung. Karena di sana, pola ekonomi berbeda dengan yang di kota. Suasana mati hp jelang meugang tentu tidak dilakukan oleh keuchik dan tuha peut gampong. Karena dipastikan tidak akan ada yang berani meminta uang meugang kepada mereka.

Saya kira, yang meminta peng si kepada pejabat bukan dari kalangan kawula di gampong. Karena mereka tak punya akses ke pejabat besar di kota.

Atau, memang rakyat di gampong dan pejabat di kota seaungguhnya tak ada hubungan yang benar-benar dibutuhkan. Keberadaan pejabat besar di kota, hanya sebatas hubungan pemerintahan saja, bukan hubungan pemimpin dengan yang dipimpin.

Entahlah. Besok meugang, semoga semua rakyat Aceh bisa magun dengan hati gembira.

Banda Aceh, 8 Agustus 2019.

KOMENTAR FACEBOOK