Aceh Harus Hijrah

Hijrah kadung dimaknai sempit. Dari yang tadinya badung berubah jadi santun. Yang dagunya klimis jadi berjanggut. Bercelana cingkrang. Dari yang tadinya belum menutup aurat kini berbaju komprang dan jilbab lebar. Ya, karena kadung dianggap sempit itulah, nyaris setiap kali mendengar kata “hijrah” yang terbayang di benak kita pastilah perubahan fisik dan gaya hidup seseorang. Menjadi lebih islami. Padahal, “hijrah” tidak sesederhana itu.

Merujuk pada sejarah umat Islam, hijrah merupakan perpindahan Nabi Muhammad saw dan pengikutnya dari Makkah ke Madinah. Ada beberapa sebab hingga terjadinya peristiwa hijrah. Tujuannya tak lain agar agama Allah tetap tegak dan kaum muslimin tidak terus menerus mendapat diskriminasi dari kaum Quraisy.

Kata hijrah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari, dan berpindah tempat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata hijrah memiliki tiga makna:

  1. n perpindahan Nabi Muhammad saw. bersama sebagian pengikutnya dari Makkah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy.
  2. v berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya):dia — ke Jepang untuk melanjutkan pendidikannya.
  3. n perubahan (sikap, tingkah laku, dan sebagainya) ke arah yang lebih baik.

Merujuk pada definisi di atas, hijrah tidak mutlak menjadikan manusia sebagai subjek. Bisa apa saja. Termasuk sebuah negeri atau daerah. Aceh, misalnya. Sebagai sebuah negeri yang mendambakan kemakmuran, Aceh bisa berhijrah. Harus malah. Banyak faktor yang bisa dijadikan alasan bagi Aceh untuk hijrah.

Fakta bahwa Aceh merupakan provinsi termiskin di Pulau Sumatra dan menduduki posisi keenam di tingkat nasional bisa menjadi alasan kuat untuk segera hijrah. Mengapa? Bukankah Nabi Muhammad saw telah bersabda bahwa kemiskinan itu dekat pada kekufuran. Sebagai sebuah negeri yang memberlakukan hukum syariat Islam, tak sepatutnya kekufuran terjadi di bumi Aceh.

Tapi coba kita lihat realitanya. Peredaran narkoba di mana-mana. Sudah masuk ke pelosok-pelosok. Yang selama ini sering kita anggap sebagai area paling steril dari dampak modernisasi. Banyak orang ditangkap karena menyalahgunakan narkoba. Entah sebagai pengedar. Atau sebagai konsumen.

Banyak warga kehilangan ternak dan kendaraannya karena dicuri. Rumah dirampok. Pembunuhan semakin sering terdengar. Penipuan dengan segala kedok. Pemerkosaan. Kasus-kasus asusila justru muncul dari kantung-kantung agama. Bukankah ini bentuk-bentuk kekufuran? Terjadi di sekeliling kita.

Kondisi tersebut membuat hati rakyat tidak lagi tenang. Tidak merasa damai. Hidup dalam ketakutan. Dibayang-bayangi rasa putus asa. Tak punya harapan. Frustrasi.

Dalam kondisi begini, jangankan diminta mengingat Tuhan. Mengingat diri sendiri pun hampir tak mampu. Belenggu kemiskinan dan beban hidup yang kompleks menyebabkan angka orang dengan gangguan jiwa di Aceh juga tinggi. Komplit benar.

Dengan segala kerunyaman kondisi itu, bukankah sudah seharusnya Aceh hijrah? Meninggalkan segala kejumudan. Meninggalkan segala kesemrawutan itu. Hijrah dari tekanan “kafir” Quraisy dalam wujud praktik korupsi. Pelayanan publik yang buruk. Mengeksploitasi rakyat demi kepentingan diri sendiri. Dan lain-lain. Dan lain-lain.

Memang sih, tantangannya berat. Harus punya azam yang kuat. Harus tahu apa yang mesti ditinggalkan dan ke mana harus dituju. Risikonya pun berat. Bisa-bisa dimusuhi atau diperangi teman sendiri.[]

KOMENTAR FACEBOOK