Nursalliya: Alumnus Adoc Junior Mahasiswi Pertama dari Aceh yang Kuliah di IKJ

Oleh Akbar Rafsanjani*

Nursalliya sedang menghabiskan masa libur kuliahnya di Aceh. Kami menghubunginya untuk bertanya-tanya tentang pengalaman bagaimana sampai ia bisa melanjutkan pendidikan film di salah satu kampus bergengsi Indonesia, Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Nursal, sapaan akrabnya, menjawab setiap pertanyaan dengan ramah. Dimulai dengan obrolan yang hangat via telepon, Nursal berbagi cerita menarik tentang prosesnya dalam dunia perfilman. Mari simak cuplikan obrolan kami dengan Nursalliya.

Coba Nursal memperkenalkan diri, bagaimana orang bisa mengenalmu? Bisakah kamu menjelaskan identitas dirimu?

Nama lengkap saya Nursalliya Ansari Baziyad, biasa dipanggil Nursal. Saya lahir di Lhokseumawe, 24 September 1999. Saat ini saya tengah melanjutkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi yaitu di Institut Kesenian Jakarta, Fakultas Film dan Televisi. Berkat rekomendasi Aceh Documentary, saya mendapatkan beasiswa Pusbang, dari Kemdikbud.

2. Ceritakan sedikit tentang bagaimana kamu memulai pembuatan film. Apakah itu sesuatu yang selalu kamu impikan sejak masih kecil?

Awal mula saya mengenal tentang pembuatan sebuah film dari kating (kakak tingkat) di sekolah saya waktu SMA. Kating tersebut sebelumnya telah mengikuti program Aceh Documentary Junior (ADJ) pada tahun 2015. Setelah memiliki sedikit banyak ilmu tentang pembuatan film, dia dan beberapa kating lainnya memperkenalkan dan membagi ilmu tersebut kepada adik kelasnya di sekolah.

Saya yang saat itu baru pindah ke sekolah tersebut tertarik untuk ikut bergabung bersama mereka, kebetulan pada saat itu ADJ 2016 membuka pendaftaran untuk para siswa tingkat SMA untuk ikut berpartisipasi dalam program tahunan tersebut. Saya bersama dengan teman saya ikut mendaftar ADJ pada tahun 2016 saat itu namun gagal. Tidak mau menyerah, tahun berikutnya saya kembali mendaftar ADJ pada tahun 2017 dan alhamdulillah saya berhasil lolos hingga tahap produksi.

Membuat sebuah film bukan impian saya sejak kecil. Pada awalnya saya sangat ingin menjadi seorang pilot kini berubah semenjak saya mengenal dunia perfilman walau masih sangat dini. Sebelumnya saya tidak pernah menyangka saya dapat belajar dan membuat sebuah film. Ini merupakan hal yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, bisa membuat sebuah film saat masih duduk di bangku SMA, apalagi dapat melanjutkan hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan perfilman ini.

Bagaimana ceritanya kamu bisa mengikuti kompetisi Aceh Documentary Junior?

Awal saya bisa mengikuti Aceh Documentary Junior (ADJ) ini karena saya mendapat info dari kating saya di sekolah tentang program Aceh Documentary Junior. Setelah mendapatkan beberapa informasi lebih lanjut tentang bagaimana cara mengikutinya, saya mengirim proposal ide cerita ke kantor Aceh Dokumenter untuk selanjutnya diseleksi oleh beberapa juri yang ada.

Apa yang menyebabkan kamu ingin mengikuti program Aceh Documentary Junior ini?

Yang menyebabkan saya ingin mengikuti program ADJ ini pada awalnya karena penasaran apa itu ADJ dan juga ingin lebih banyak mengetahui, bagaimana cara pembuatan sebuah film dokumenter yang pada saat itu agak asing bagi saya.

Pengalaman apa yang kamu dapat di Aceh Documentary Junior?

Cukup banyak pengalaman yang saya dapat dari ADJ ini, mulai dari saling mengenal beberapa teman baru dari berbagai daerah yang belum pernah dikenal sebelumnya. Di ADJ ini saya juga lebih dapat belajar bagaimana kita harus belajar mengontrol emosi, belajar bertanggung jawab, melatih kekompakan dan juga bagaimana kita saling memahami bahwa membuat sebuah film tidak bisa dengan sendirinya. Dalam artian membuat film berarti menyatukan beberapa kepala yang tentunya berbeda-beda isi antar satu dengan lainnya.

Apa judul film karyamu di Aceh Documentary Junior, bisa jelaskan sinopsisnya?

Judul film saya di ADJ adalah Bocah Rapai Plok.

Sinopsis film: Munir dan teman-temannya sangat senang bermain rapa-i. Namun keinginan itu terhalang karena mereka tidak diizinkan warga di kampungnya untuk bermain rapa-i karena usia mereka yang masih terlalu kecil. Dengan tekad yang kuat Munir dan kawan-kawan berusaha mencari cara agar mereka dapat bermain rapa-i.

7. Bagaimana filmmu tersebut bisa membawa sesuatu perubahan terhadap Aceh?

Saya harap dengan adanya film saya tersebut lebih menyadarkan lagi kepada beberapa orang yang mungkin lebih dewasa ataupun orang tua untuk tidak membatasi jiwa seni dan kreativitas yang ada dalam diri anak-anaknya, walaupun mereka masih kecil untuk melakukan hal-hal yang mungkin dianggap serius namun ternyata biasa saja. Bukannya seni dan kreativitas yang timbul sejak dini itu harus tetap dikembangkan dan dipertahankan?

Saya juga berharap dengan adanya film tersebut dapat menjadi motivasi dan edukasi bagi anak-anak lainnya untuk terus mengembangkan bakat yang dimilikinya selagi belia. Dengan film tersebut juga dapat menjadi tamparan keras bagi anak-anak zaman sekarang. Mereka lebih memilih menyibukkan diri masing-masing dengan gadget yang mereka punya tanpa peduli dengan lingkungan sekitar. Hal tersebutlah yang cukup berdampak buruk bagi sosial anak-anak sekarang yang akan menyebabkan timbulnya rasa apatis terhadap lingkungan sekitarnya.

Bagaimana dengan pendidikanmu sekarang? Bisakah kamu ceritakan pengalamannya?

Saat ini saya melanjutkan pendidikan di Institut Kesenian Jakarta, Fakultas Film dan Televisi atau biasa disebut FFTV-IKJ. Saya masuk ke IKJ melalui jalur beasiswa unggulan (Pusbang Film, Kemdikbud). Berkat beberapa sertifikat dan penghargaan yang saya miliki dari film yang diproduksi bersama dengan Aceh Dokumenter, saya lulus tahap administrasi dan lanjut ke tahap wawancara juga tes tulis hingga akhirnya lulus menjadi mahasiswa baru FFTV-IKJ pada tahun 2018. Betapa bangganya saya bisa lulus menjadi mahasiswa FFTV-IKJ, dan saya merupakan satu-satunya perwakilan dari Aceh. Konon, saya mahasiswa perempuan dari Aceh pertama yang kuliah di IKJ.

Film apa yang sudah kamu produksi sejauh ini?

Semenjak mulai dari SMA hingga sekarang kuliah, saya baru memproduksi beberapa film pendek seperti satu film dokumenter (Bocah Rapai Plok) dan tiga film fiksi (Hening, Kado Untuk Sahabat, dan Anniversary)

Apa cita-cita kamu untuk perfilman di Aceh?

Ya, saya ingin perfilman Aceh tetap terus berkembang dan maju seperti daerah-daerah lainnya. tidak adanya bioskop megah bukan berarti perfilman di Aceh lemah. Justru karena belum adanya bioskop seperti daerah lain kita harus terus meningkatkan kualitas dan kuantitas perfilman di Aceh. Bioskop tidak menjamin kualitas suatu perfilman daerah menjadi lebih baik, karena tidak semua film berkualitas ditayangkan di bioskop pula.

Teruslah maju perfilman Aceh, karena saat ini lingkungan perkuliahan saya sudah mulai merasa akan mendapat saingan baru dengan semakin berkembangnya perfilman Aceh. Bahkan beberapa orang juga mulai bangga dengan perfilman Aceh.

Semoga kelak perfilman Aceh mulai dikenalkan dalam sekolah-sekolah menengah atas, agar mereka dapat belajar danĀ  merasakan proses pembuatan film dengan harapan semakin banyak pula sineas Aceh yang dapat menghasilkan film bagus yang patut disandingkan dengan daerah lainnya. Dan juga semoga saja ketika perfilman Aceh semakin maju, maka perguruan tinggi di Aceh dapat pula menambahkan fakultas film dengan jurusan yang berkaitan pula.

Bagaimana menurutmu pengaruh ADJ terhadap pendidikanmu sekarang?

Bagi pendidikan saya sekarang ini ADJ cukup berpengaruh. Karena mulai dari ADJ lah saya mengetahui sedikit banyak tentang bagaimana memproduksi sebuah film dokumenter hingga saya bisa melanjutkan pendidikan yang juga terfokus pada produksi sebuah film. Dapat dikatakan juga, ADJ merupakan cikal-bakal saya bisa masuk ke IKJ, karena jika saja saya tidak mengikuti program tahunan Aceh Dokumenter ini, pastinya saya tidak mengetahui dan mengenal apa dan bagaimana pembuatan sebuah film.[]

Penulis adalah Programer Aceh Menonton

KOMENTAR FACEBOOK