Kolom: Gelagat

Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bertemu di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar Jakarta Pusat, Rabu (24/7/2019). - Istimewa

Oleh Bung Alkaf

Kita tidak pernah tahu, maunya politisi itu apa. Atau, kita juga tidak tahu, langkah demi langkah politisi hendak kemana. Kita malah sibuk menafsirkan. Padahal tanpa diminta. Tapi riuh memberi makna dari perilaku atau perkataan politisi. Entah itu tentang wayang, tempat pertemuan, simbol, pidato, sindiran, nasi goreng maupun aksi yang lebih remeh lagi.

Jelasnya, apa yang dipikirkan politisi, kita gelap! Tidak tahu. Kecuali kita membaca dengan seksama, gelagat demi gelagat yang muncul. Moga-moga benar. Padahal, bilapun salah, tak juga mengapa.

Misalnya, kita ambil beberapa peristiwa politik akhir-akhir ini. Prabowo jumpa Megawati. Anies bertemu Paloh. Di hari yang sama, bahkan pada jam yang berdekatan. Lalu, Prabowo yang sowan ke Kongres PDIP dan berbicara, selama ini gerbongnya ada penumpang gelap.

Entah siapa yang dimaksud penumpang gelap. Lagi-lagi kita berusaha menangkap itu dari gelagatnya. Apakah itu kelompok garis tidak lunak, atau teman koalisi yang mencla-mencle.

Tapi jangan bertindak untuk potong kompas, menanyakan langsung kepada politisi tentang langkah catur mereka. Tidak akan dijawab. Malah yang ada menambah drama. Ya, tafsirkan sendiri, dijawabanya, dengan senyum mengembang.

Atau, memberi jawaban normatif, “kita harus berfikir demi bagsa dan negara. Itu komitmen politik kami.”

Berpolitik dengan menunjukkan gelagat mungkin diawali oleh tradisi politik Orde Baru, dengan Suharto sebagai porosnya. Segala sikap tanduknya dimaknai. Mulai dari diamnya, gerak tangannya, senyum, nama yang berganti dengan tambahan nama Arab sebelum nama Jawanya, atau mukul beduk di hari tuanya bahkan juga soal gebuk-menggebuk.

Sukarno tidak melakukan itu. Dia tidak pandai menunjukkan gelagat. Semuanya terang benderang. Sebab dia senang dengan keterus-terangan. Adu konsepsi, kubur partai politik dan berteriak lantang – kalau idenya ditolak. Tapi dia tanpa gelagat. Begitu juga Hatta. Demikian juga Natsir, Sjahrir dan deretan nama lainnya – kalau mau ditulis.

Tetapi terlalu lama menunjukkan gelagat malah bikin jengah. Membuat susah orang yang menyaksikan. Mengapa politisi tidak langsung-langsung saja untuk menunjukkan apa yang dikehendaki. Dalam hal ini, politisi Aceh dapat jadi suri tauladan.

Misalnya, mau bendera daerah yang mereka putuskan diizinkan untuk digerek ke atas tiang. Ya terang-terang aja, “kalau gak direstui, maka kami akan kembali ke jalan yang dulu,” kata politisi yang dulunya manggul senjata. Langsung dipidatokan. Disampaikan di muka umum. Tanpa perlu menunjukkan simbol, tanda, atau sinyal, seperti manggul senapan angin tau menembak burung di hutan.

Keterus-terangan penting dalam dunia politik. Misalnya, katakan saja maunya apa? Kursi menteri? Ya langsung sampaikan, “kami mau kursi menteri yang banyak dan strategis.” Jangan katakan tidak minta jatah menteri, tapi di belakang kasak-kusuk.

Atau, karena hendak dapat kawan baru, lalu kawan lama dilupakan. Harusnya katakan saja. Kenapa harus pakai gelap-gelapan segala.

Akan tetapi kalau politisi tidak lagi dipenuhi gelagat. Semua berterus terang. Terus kita, mau menyaksikan apa lagi. Jangan-jangan, kita ikut menikmati, gelagat demi gelagat itu.

KOMENTAR FACEBOOK