Bagaimana Kabar Perokok Indonesia?

Oleh Dyah Tari Nur’aini, SST*

Siapa yang tak kenal dengan rokok? Benda satu ini dikenal sebagai barang konsumsi rutin sehari-hari oleh para penggermarnya, atau sebagai barang yang membawa kerugian bagi mereka yang tak menyukainya. Bahan kandungan rokok yang terdiri atas kurang lebih 6.000 bahan kimia dengan beragam zat berbahaya menjadikannya barang yang sangat harus dijauhi. Di sisi lain, zat tersebut yang menjadikan para penggunanya merasa ketagihan hingga ketergantungan. 

Lalu bagaimana kabar perokok di Indonesia kini? Berdasarkan data World Health Organization (WHO), Indonesia telah menjuarai peringkat pertama dengan persentase jumlah perokok tertinggi di dunia. Hal ini menjadi prestasi yang sangat disayangkan sekali, di mana sebanyak 70,2 persen dari total jumlah penduduk Indonesia adalah perokok. Artinya, ada sekitar 29,8 persen penduduk Indonesia yang menjadi perokok pasif yang di antaranya adalah bayi, balita, ibu hamil, dan orang tua yang sangat rentan sekali dengan bahaya asap rokok. Mereka bukanlah perokok, tapi memiliki risiko kanker paru-paru lebih besar dibandingkan mereka yang merokok.

Lebih lanjut berdasarkan data WHO, rokok menjadi penyebab kematian akibat kanker sebesar 22 persen. Pria yang merokok memiliki risiko 23 kali lebih mungkin terkena kanker paru, sementara wanita 13 kali lebih mungkin. Dan sangat disayangkan, perokok pasif memiliki 20-30 persen lebih tinggi terkena kanker paru apabila terpapar asap rokok di rumah atau kantor. Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) juga menyatakan kandungan dari rokok akan sangat mengganggu kerja tubuh jika dikonsumsi jangka panjang dan menimbulkan kerusakan yang tidak bisa disembuhkan.

Mengutip perkataan Senior Advisor on gender and Youth dari WHO, Diah Saminarsih, bahwa harga rokok yang kian naik tidak berpengaruh terhadap konsumsi rokok kaum muda, terlihat dari data jumlah perokok yang makin meningkat di usia produktif. Anehnya bukan hanya remaja, di Indonesia bahkan anak-anak kecil yang belum bisa mencari uang sendiri pun telah banyak yang menjadi perokok aktif.

Data BPS menyebutkan bahwa pengeluaran untuk rokok dan tembakau mencapai 67 ribu per kapita per bulan, atau sekitar 12 batang rokok per bulan. Nilai tersebut merupakan peringkat kedua terbesar setelah pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi. Bahkan jumlah tersebut melebihi pengeluaran atas kebutuhan pangan seperti padi-padian, daging, dan buah. Hal ini menyatakan bahwa rokok menjadi salah satu prioritas yang utama untuk dipenuhi.

BPS juga menyatakan bahwa faktor utama penyumbang kemiskinan adalah rokok. Tak heran karena tak hanya penduduk menengah ke atas saja, penduduk yang tergolong miskin pun tetap mengusahakan membeli rokok. Hal tersebut terjadi meskipun harga rokok filter yang setiap tahunnya terus meningkat dan mengalami inflasi setidaknya 0,01 persen setiap bulan. Harga rokok filter tersebut memiliki sumbangan sebesar 11,38 persen kemiskinan di pedesaan dan 12,22 persen di perkotaan.

Berkaca pada beberapa negara lain, mereka mematok harga rokok dengan harga yang terbilang sangat tinggi jika dibandingkan dengan harga rokok di Indonesia yang relatif jauh lebih murah. Dikutip dari laman ladbible.com, negara dengan harga rokok termahal seperti Australia, Selandia Baru, Inggris, dan Amerika Serikat menjual rokok dengan harga berkisar 125 ribu hingga 271 ribu. Sayangnya peningkatan harga rokok di Indonesia tidaklah seberapa, sehingga bukannya menyebabkan berkurangnya jumlah perokok tapi justru meningkatkan penduduk miskin.

Kementerian Kesehatan sedikit banyak telah melakukan usaha untuk mengurangi bahaya merokok di kalangan masyarakat, yakni dengan membuat peraturan tentang tempat yang wajib bebas dari paparan asap rokok. Beberapa tempat tersebut di antaranya, fasilitas pelayanan kesehatan, tempat belajar atau sekolah, tempat bermain anak, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, serta fasilitas umum baik yang dikelola pemerintah maupun swasta. Namun sayangnya, peraturan dengan mudahnya dihalau tanpa adanya tidak sanksi tegas bagi pelanggarnya. Karena nyatanya, masih banyak pihak-pihak yang merokok di angkutan umum, tempat kerja, bahkan di sekitar tempat fasilitas kesehatan.

Tentunya yang menjadi perhatian utama adalah kualitas dari penduduk Indonesia yang menjadi pelaku konsumen rokok. Jika mereka masih mengabaikan efek buruk dari kandungan rokok, serta masih saja tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan sekitar, sudah pasti permasalahan rokok ini tidak akan bisa teratasi. Karena meskipun iklan rokok dilarang menampilkan adegan merokok, spanduk-spanduk iklan rokok ditambahkan mengenai bahaya merokok, ataupun gambar korban rokok pada setiap bungkusnya, itu semua seakan tidak mempan dalam mengurangi keinginan masyarakat untuk merokok.

Oleh karena itu, penting adanya peran aktif dari berbagai pihak untuk mengurangi prevalensi perokok di Indonesia. Adanya edukasi ataupun kampanye kesehatan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran mengenai risiko rokok harus lebih digalakkan. Selain itu, penting juga untuk memberikan akses layanan strategis bagi mereka yang ingin berhenti dari merokok namun mengalami kesulitan menghilangkan kecanduan.

Pemerintah diharapkan juga memberikan regulasi yang ketat mengenai pengendalian rokok di Indonesia, baik perihal harga jual, pemasaran, ataupun peraturan publik terkait merokok. Iklan rokok di media massa apapun diharapkan dapat dilarang secara total, bukan hanya diberikan syarat-syarat tertentu dalam penayangannya. Meningkatkan harga dan cukai rokok dengan signifikan juga diharapkan mampu menurunkan daya beli rokok.

Semua itu tentunya tidak hanya soal aturan saja, tetapi harus ada sanksi dan konsekuensi yang memberatkan pelanggar. Komitmen pemerintah, lembaga sipil, sektor swasta, hingga organisasi masyarakat dalam melaksanakan kebijakan pengendalian rokok sangat dibutuhkan untuk mengurangi tingkat konsumsi rokok di Indonesia.[]

Penulis adalah Statistisi Ahli Pertama BPS Kab. Kolaka, Sulawesi Tenggara

KOMENTAR FACEBOOK