Kejari Lhokseumawe Kembalikan Berkas Perkara Pencabulan terhadap Santri

Ilustrasi pemerkosaan

ACEHTREND.COM, Lhokseumawe – Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhokseumawe telah mengembalikan berkas perkara pelecehan seksual terhadap santri Pesantren AN oleh tersangka Al (45) dan MY (26) yang dilimpahkan oleh Penyidik Polres Kota Lhokseumawe bulan lalu.

“Iya benar, pihak kejaksaan sudah mengembalikan berkas perkara tersebut ke tim penyidik. Setelah dilakukan penelitian, masih ada berkas yang harus dilengkapi untuk dapat dilimpahkan ke Pengadilan Mahkamah Syar’iah,” kata Kasi Pidana Umum Kejari Lhokseumawe, Fakhrillah, saat dikonfirmasi aceHTrend, Selasa (13/8/2019).

Fakhrillah menjelaskan, pengembalian itu dilakukan pada akhir Juli 2019 lalu dan telah diberitahukan kepada penyidik agar kekurangan dalam berkas itu dilengkapi sesuai petunjuk dan koreksi. Namun saat ditanyai apa saja koreksi dari kejaksaan, Fakhrillah tidak menjelaskan secara detail.

Ia hanya mengatakan, pihaknya memberitahukan perihal apa saja yang harus dilengkapi oleh Penyidik Polres Lhokseumawe pada hari ini. Setelah diperbaiki berkas tersebut harus dikembalikan lagi ke pihak kejaksaan.

Fakhrillah mengatakan, kedua tersangka tetap akan dijerat dengan Qanun Jinayat yang khusus berlaku di Aceh. Menanggapi respons masyarakat yang mengatakan bahwa ancaman dalam qanun tersebut tidak maksimal, ia mengatakan justru hukuman dalam qanun lebih berat.

“Maka ingin diinformasikan, hukuman qanun itu malah lebih berat dari pada hukuman yang ada di Undang-Undang Perlindungan Anak, karena di qanun itu ada ancaman kejahatan terhadap anak bisa dijerat dengan 200 bulan penjara,” pungkasnya.

Sementara itu, Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan, melalui Kasat Reskrim, AKP Indra T Herlambang saat dikonfirmasi aceHTrend mengatakan, berkas itu telah diserahkan ke Kejaksaan Negeri Lhokseumawe sejak dua pekan lalu.

“Pelimpahan berkas itu setelah penyidik melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap saksi dan tersangka, total saksi yang sudah diperiksa lebih dari 10 orang,” katanya, Selasa siang (13/8/2019).

Sebelumnya diberitakan, pimpinan dan guru di pesantren AN ditangkap terkait dugaan kasus pelecehan seksual terhadap sejumlah santri di pesantren tersebut.

Untuk sementara kedua tersangka itu melanggar Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat dengan ancaman cambuk 90 kali, denda paling banyak 900 gram emas murni, atau penjara paling lama 90 bulan.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK