Kerbau Mati Mendadak di Singkil karena Terserang Penyakit Ngorok

ACEHTREND.COM, Singkil – Penyebab matinya ternak warga secara mendadak di Desa Gosong Telaga, Kecamatan Singkil Utara, Kabupaten Aceh Singkil mulai terungkap. Diduga terjadi karena serangan penyakit ngorok atau Septicaemia epizootica (SE).

Keterangan ini disampaikan Petugas Pusat Kesehatan Hewan (puskeswan) Singkil Utara, Bhakti Prasetia Nanda, kepada aceHTrend, Kamis (15/8/2019), setelah pihaknya meninjau dan melakukan vaksinisasi terhadap kerbau-kerbau di desa itu.

“Setelah ditinjau ke lokasi ternak, dilihat dari gejala yang ada, kerbau-kerbau itu mati karena serangan penyakit SE atau ngorok yang disebabkan bakteri sejenis pasteurella,” ucap Bhakti.

Penyakit SE ini, jelas Bhakti termasuk penyakit hewan yang cepat sekali menular dan mematikan. Jika tak cepat ditangani, maka bisa menyerang ke ternak lain.

Untuk pencegahan agar penyakit ini tidak menular, Bhakti mengajak para peternak agar rutin melakukan vaksinasi terhadap ternaknya.

“Tetapi jika kerbau telah terjangkit dan banyak yang mati, harus menyuntikkan antibiotik dan melakukan pembersihan kandang,” ulas Bhakti lagi.

Dalam kesempatan itu Bhakti meminta pemilik ternak kerbau agar mengumpulkan ternaknya agar tidak menular pada ternak yang lain.

Di samping itu, Bhakti juga mengajak peternak agar punya kesadaran akan pentingnya vaksinasi SE. Selama ini kata Bhakti, jika ada vaksinasi peternak banyak yang tidak mau kerbaunya divaksin. Alasanya karena susah dikumpulkan.

Seorang peternak kerbau, Lutfansyah, mengaku bahwa pihak Puskeswan Singkil Utara, telah datang memeriksa dan melakukan vaksinasi terhadap ternak mereka.

“Setelah kami ikuti arahan petugas termasuk sanitasi kandang plus pengobatan secara tradisional, ternak-ternak tadi mulai membaik. Semoga virus tidak lagi berjangkit. Kami sangat khawatir dengan kejadian ini karena sangat merugikan peternak,” kata Lutfansyah.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, dalam sepekan ini lebih dari 20 ternak kerbau telah mati di berbagai tempat Aceh Singkil.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK