Ruang Kosong Pemuda di Aceh

Zulfikar Halim Lumintang, SST.

Oleh Zulfikar Halim Lumintang, SST*

Usia muda adalah usia yang berapi-api. Begitu kurang lebih istilah yang sering disematkan kepada kaum milenial sekarang ini. Hal tersebut memang sudah cocok pada kodratnya, karena sedang memasuki masa pubernya. Masa puber yang dilalui setiap pemuda bisa berbeda pada tiap individu. Biasanya perempuan lebih cepat memasuki masa puber dibandingkan laki-laki. Tercatat perempuan mulai memasuki pubertas pada usia 8 sampai dengan 13 tahun. Sedangkan laki-laki memasuki masa puber pada rentang usia 10 sampai dengan 16 tahun.

Pemuda dalam konsep Badan Pusat Statistik (BPS) adalah penduduk yang berada dalam usia 16-30 tahun. Konsep tersebut berdasar pada UU No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan (Pasal 1 Ayat 1), pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah pemuda di Provinsi Aceh sekitar 1,28 juta jiwa atau 28,83% dari jumlah penduduk Aceh secara keseluruhan pada tahun 2010 berjumlah 4,49 juta jiwa. Berdasarkan kelompok umur, terlihat bahwa pemuda mempunyai persentase yang paling kecil jika dibandingkan dengan persentase penduduk usia di bawah 16 tahun (34,03%) dan penduduk di atas 30 tahun (37,13%). Dengan jumlah yang hampir sepertiga penduduk Aceh, potensi pemuda untuk menjadi penyokong pembangunan di Aceh sangat besar. Mengingat di tangan mereka jugalah penduduk berusia 15 tahun ke bawah dan usia lanjut bergantung.

Oleh karena itu, modal Sumber Daya Manusia (SDM) pemuda di Aceh juga perlu untuk ditinjau kembali guna menciptakan pemuda yang mampu bersaing di tengah persaingan yang sangat ketat ini. Hal sederhana yang mungkin sangat berpengaruh adalah pemahaman terhadap bahasa Indonesia. Tercatat dari hasil Sensus Penduduk 2010 pemuda Aceh yang mampu berbahasa Indonesia sebanyak 1,26 juta jiwa atau sekitar (98,43%) sedangkan 20 ribu jiwa atau sekitar (1,57%) tidak mampu berbahasa Indonesia. Dari persentase mungkin terlihat kecil, namun secara nominal jumlah tersebut sangat besar mengingat kemampuan berbahasa Indonesia merupakan hal yang sangat mendasar guna berkomunikasi dengan orang lain. Apa jadinya negara kita, jika pemudanya ada yang tidak mampu berbahasa Indonesia. Sedangkan pemuda negara lain sudah sangat fasih berbahasa Inggris.

Lebih jauh lagi, partisipasi sekolah para pemuda juga bisa menggambarkan bagaimana akses pemuda terhadap sekolah. Ada faktor dari luar (eksternal) yang mungkin menjadi pemicu seorang pemuda tidak melanjutkan sekolah, seperti tidak tersedianya sekolah di sekitar tempat tinggal, maupun akses menuju ke sekolah yang sulit. Padahal ada kemauan dari dalam (internal) untuk melanjutkan sekolah lagi. BPS mencatat pada tahun 2010 pemuda Aceh yang tidak/belum pernah sekolah sebanyak 14.922 jiwa, jumlah tersebut setara dengan 1,16% dari total seluruh pemuda Aceh pada tahun 2010. Melihat jumlah pemuda Aceh yang tidak/belum pernah sekolah mencapai lima digit, tentu yang menjadi pertanyaan adalah masihkah kita menganggap pendidikan itu modal dasar SDM kita? Kalau masih, tentu kita tidak akan membiarkan pemuda sebagai generasi penerus hidup tanpa pernah mendapatkan pendidikan.

Bagaimanapun juga, kita tidak bisa meremehkan peran pemuda dalam pencapaian kemerdekaan bagi Indonesia. Masih hangat dalam ingatan kita peran pemuda yang mengasingkan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta ketika Jepang keos, karena dibombardir oleh sekutu. Para pemuda berinisiatif agar Ir. Soekarno dan Moh. Hatta segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada bulan Agustus 1945. Meski melalui perdebatan yang cukup panjang, alhasil Indonesia berhasil merdeka pada 17 Agustus 1945. Dan di tahun ini Indonesia sudah berusia 74 tahun. Dari sejarah tersebut, kita bisa memahami bahwa pemuda yang berapi-api dalam hal positif pasti akan membawa dampak yang positif juga. Oleh karenanya pemuda harus pintar menjaga diri, tentu perlunya pembekalan dari orang tua sejak dini untuk tahap awalnya.

Aceh sebagai provinsi yang terletak di paling barat Indonesia, tentu sangat riskan dengan gerakan separatisme. Seperti Papua, Aceh terkenal dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka memanfaatkan para pemuda yang berpendidikan rendah untuk dicekoki pemahaman separatis. Bahkan para mahasiswa yang seharusnya bisa membedakan mana yang benar dan tidak, berhasil didoktrin pemahaman yang seolah-olah benar. Sehingga, menyimak data-data mengenai pemahaman berbahasa Indonesia dan partisipasi sekolah maka pembangunan Sumber Daya Pemuda di Aceh sangat penting untuk terus digalakkan. Mengingat masih rawannya terhadap gerakan separatisme di Aceh.

*)Penulis merupakan Statistisi Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.

KOMENTAR FACEBOOK