Mendaki Yokogura, Konon Gunung Pertama yang Muncul di Jepang

Oleh Rezka Kenara Bintang Putra*

Pekan lalu, tepatnya pada Minggu (11/8/2019) saya dan beberapa teman mendapat kesempatan mendaku Gunung Yokogura di Jepang. Saat jarum jam masih menunjukkan angka pukul 06.15 pagi, saya sudah mempersiapkan pakaian, botol minum, dan beberapa makanan ringan untuk keperluan naik gunung. Saat itu kantor tempat saya bekerja sedang libur selama empat hari. Sejak seminggu sebelumnya saya dan beberapa teman telah membuat janji untuk mendaki gunung Yokogura bersama.

Lokasi gunung ini tidak begitu jauh dari tempat tinggalku di pedalaman Jepang di Kota Ochi, Provinsi Kochi, Jepang. Saya lantas bergegas menuju rumah Sacho (sebutan untuk pimpinan perusahana di Jepang, kami menggunakannya untuk menyapa pimpinan perusahaan kami) karena kami akan pergi bersamanya. Tak lama menunggu Sacho muncul dan menyapa kami dengan hangat.

Ohaiyogozaimasu,” ucapnya.

Ini merupakan sapaan khusus apabila saling bertemu dan menyapa di pagi hari. Sacho kemudian membuka pintu belakang mobilnya untuk memasukkan peralatan pribadinya untuk keperluan saat naik gunung. Setelah itu perjalanan kami dimulai dan menghabiskan waktu selama satu jam. Selama perjalanan kami banyak bertukar cerita tentang Jepang dan Indonesia.

Saya penasaran, apakah orang Jepang benar-benar mempercayai mitos bila saat musim panas tidak boleh main ke pantai atau sungai? Sacho membenarkan hal itu, tetapi katanya itu kepercayaan zaman dulu. Sekarang, orang-orang tetap pergi ke sungai atau laut saat musim panas dan selama tetap berhati-hati dan mematuhi aturan kita tetap akan selamat.

Saya pun memberitahunya bahwa mitos semacam ini juga ada di daerah saya di Takengon, Aceh Tengah. Bahwa selain orang Takengon sebaiknya tidak mandi di Danau Laut Tawar karena akan ditarik mahluk halus. Kemudian kami melanjutkan dengan beberapa cerita lain. Bahasa Jepang saya masih sangat terbatas jadi saya belum berani menanyakan pandangan-pandangan beliau mengenai suatu hal, takutnya bila Sacho menjelaskan panjang lebar saya malah tidak mengerti.

Kami pun sampai di pemberhentian terakhir mobil. Perjalanan kini dilanjutkan dengan berjalan kaki. Sebelum memulai pendakian, ada peta di dekat jalan yang kami lewati berbentuk seperti majalah dinding. Kemudian kami menuju ke sana dan Sacho menjelaskan rute perjalanan kami hari itu. Orang-orang di Jepang sangat terbiasa dengan membaca peta. Menurut mereka, peta membuat segalanya menjadi sangat mudah dan terarah jadi jangan heran jika banyak sekali peta di Jepang. Misalnya sebelum memasuki sebuah kompleks juga ada peta, saat masuk wahana wisata seperti Disneyland atau lainnya juga ada peta. Dan bagi saya peta adalah sesuatu yang sulit, menunjuk arah menunggu akan arah mata angin seperti barat, timur, selatan, dan utara membuat saya kebingungan. Biasanya untuk menunjuk arah, saya hanya menggunakan istilah lurus, kanan, kiri, atau belok saja.

Jalur yang kami lalui tidak terlalu mendaki sehingga tidak sampai membuat napas tersengal-sengal. Sejak di Jepang, saya mengalami perbaikan kesehatan seperti tidak mudah capek, tidak mudah mengantuk, dan lebih bersemangat. Hal ini bisa saya dapatkan karena sejak di sini, ada aktivitas berjalan kaki yang saya lakukan setiap hari. Selain itu, makanan yang saya konsumsi juga tidak terlalu berminyak jadi mungkin kesehatan saya sedikit terperbaiki.

Sepanjang pendakian karena saya merasa kelelahan, Sacho membuka obrolan dengan bertanya apakah ada yang berbeda dari pendakian gunung di Jepang dibanding Indonesia? Saya menjelaskan, bahwa secara umum bentuk hutan dan jalannya sama, tapi di sini jalannya sedikit lebih mudah. Lalu Sacho melanjutkan dengan mengatakan, Takengon itu lebih bagus karena ada danau jadi pemandangannya menjadi lebih bagus. Ternyata peribahasa “rumput tetangga lebih hijau” masih relevan juga untuk orang Jepang.

Setelah berjalan kurang lebih 45 menit, kami melihat sebuah bangunan tua yang terbuat dari kayu yang kemudian kami ketahui bahwa bangunan itu adalah tempat ibadah kepercayaan Shinto. Di sekitar bangunan ini bersih dan tidak ditumbuhi rumput liar. Menurut penjelasan Sacho, ada yang rutin membersihkannya beberapa waktu sekali. Di depan tempat ini juga terdapat pohon dengan umur 500 dan 600 tahun. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, dahulu Jepang itu merupakan wilayah lautan sampai muncul gunung pertama, yaitu Gunung Yokogura yang kami daki tersebut. Barulah setelah itu muncul pulau-pulau lain di Jepang.

Cerita ini terdengar seperti sebuah mitos, tapi ternyata cerita ini tidak hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut saja. Ada sebuah museum di jalan menuju gunung ini yang memberi penjelasan dan bukti ilmiah bahwa pulau ini dahulunya laut kemudian muncul ke daratan. Di museum juga dipajang bukti berupa batu, fosil hewan, dan lainnya yang mendukung pernyataan tersebut.

Akhirnya kami mencapai puncak gunung dan mengabadikannya melalui beberapa foto. Teman saya ada yang membawa drone dan membuatnya begitu bersemangat mengabadikan momen berada di puncak gunung. Kurang lebih dua jam perjalanan menuju gunung ini.

Dalam pemikiran saya, naik gunung adalah berjalan dari bawah kemudian menuju puncak lalu kembali lagi. Ternyata di Jepang tidak demikian. Setelah kami sampai di puncak, Sacho menunjukkan saya peta dan memperlihatkan beberapa spot yang bisa dikunjungi. Karena saya belum lihai melihat peta, jadi saya meminta Sacho yang memutuskan. Akhirnya, kami kembali berjalan sekitar 20 menit menuju salah satu tempat yang pernah menjadi tempat rahasia saat terjadi kecamuk perang. Di tempat inilah dulu orang-orang Jepang bersembunyi agar tidak diketahui musuh. Lalu kami melanjutkan perjalanan melihat spot-spot lain misalnya melihat pemandangan Kota Ochi, melihat view seluruh desa yang indah. Sebuah pengalaman baru yang saya dapat ternyata mendaki di Jepang bukan hanya tentang menuju sampai puncak, tapi juga mengunjungi apa yang ada di sekitar gunung.

Sambil turun gunung saya pun menanyakan pada Sacho, apakah benar di Jepang orang-orang akan membuang orang tuanya jika sudah tua ke gunung? Karena di Indonesia cerita ini juga sangat populer. Sacho menjawab bahwa cerita tersebut sama sekali tidak benar, hal itu tidak pernah terjadi di kota tempat tinggalnya bahwa menurutnya di mana pun hal seperti itu tidak mungkin dilakukan.

Sambil turun gunung kemudian saya menanyakan pertanyaan random, sejak kapan orang-orang di Jepang belajar tentang sampah dan kenapa di Jepang tidak ada tempat sampah umum, tapi bisa bersih. Belajar sampah dimulai sejak umur enam tahun selain belajar di rumah, di sekolah juga diajarkan mengenai pengelolaan sampah. Bahkan yang terbaru siswa sekolah dasar juga diajak mengunjungi pabrik pengolahan sampah agar mereka semakin paham kenapa sampah-sampah harus dipilah. Mengenai tempat sampah umum, menurutnya tempat sampah umum penanggung jawabnya tidak ada, jadi akan sangat sulit jadi sampah masing-masing adalah tanggung jawab masing-masing. Nanti di lain kesempatan kita akan bahas banyak mengenai sampah.

Kami pun sampai di tempat pemberhentian mobil. Naik gunung hari itu benar-benar mengenyangkan dan saya bersyukur mengalami perbaikan kesehatan, sehingga perjalanan ini tidak sampai membuat saya sulit bernapas. Kami pun pulang dan mengunjungi museum yang saya ceritakan sebelumnya mengenai bukti ilmiah bahwa gunung ini berasal dari laut. Karena semuanya ditulis dengan huruf kanji Jepang, jadi saya mendapat informasi hanya dari penjelasan Sacho saja.[]

Penulis saat ini sedang mengikuti program pelatihan di Okabayashi Farm, perusahaan perkebunan dan pengolahan jeruk di kota Ochi Provinsi Kochi, Jepang.Program ini kerja sama antara Pemerintah Jepang diwakili oleh JICA dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK