Ada Beruang Dipukul?

Baru-baru ini di beranda media sosial beredar sebuah video dugaan pemukulan terhadap seorang anggota DPR Aceh oleh oknum polisi. Dalam narasi video yang di-share tersebut tertulis sebuah kalimat unik: “Ada Beruang Dipukul.” Namun sayangnya dalam video tersebut sama sekali tidak terlihat seekor beruang pun.

Awalnya saya tidak paham dengan kalimat yang berbentuk “majas” itu. Karena didorong rasa penasaran saya pun membiarkan video itu “berputar.” Dalam video itu terlihat seorang anggota dewan dari Partai Aceh sedang dikeroyok oleh beberapa anak manusia yang di antaranya berpakaian mirip polisi.

Karena saya tidak berada di lokasi, jadi saya tidak berani memastikan apakah itu polisi betulan atau mungkin anak karnaval yang sedang latihan untuk perayaan HUT RI. Makanya saya menyebutnya mirip polisi karena ia berpakaian polisi–pakaian yang juga sering dipakai anak-anak dalam karnaval.

Setelah video habis, saya baru paham bahwa yang dipukul itu seorang anggota dewan bernama Cage yang jika diterjemahkan sesuai KBBI bermakna beruang, salah satu jenis binatang buas berbulu tebal, bercakar, bermoncong panjang dan bisa berdiri seperti manusia. Beruang yang oleh orang Aceh disebut “cage” adalah salah satu binatang yang paling ditakuti manusia. Karenanya tidak ada seorang pun yang bercita-cita ingin dikejar beruang.

Saking takutnya, bahkan orang yang ingin bunuh diri sekali pun lebih memilih melompat dari gedung yang tinggi daripada melompat ke kandang beruang. Melompat dari gedung tinggi lebih disukai karena efeknya yang seketika dan cepat sehingga prosesi bunuh diri itu pun bisa segera selesai.

Lain halnya dengan melompat ke arah beruang. Kalau yang diterkam adalah kepala mungkin tidak menjadi soal sebab efeknya sama seperti melompat dari gedung. Tapi yang dikhawatirkan adalah pada saat beruang itu sedang menjalankan diet. Hari ini dimakannya tangan kanan dulu, besok dilanjutkan menggigit kuping, besoknya lagi jari kaki, dan seterusnya. Jika begini, maka orang-orang yang awalnya ingin bunuh diri justru merasa menyesal sebab prosesnya yang tak mudah.

Saya tidak tahu, apakah penggunaan nama Cage oleh abang kita itu karena terinspirasi dari beruang atau mungkin ada alasan-alasan filosofis yang lebih akademis. Terlepas dari segala asumsi, yang jelas abang kita memang sudah populer dengan nama Cage sejak sebelum menjadi anggota dewan.

Di kalangan GAM sendiri penggunaan nama-nama samaran semisal “cage”, “geuleupak”, “sidom apui”, dan “sungiek”, adalah hal yang lazim. Meskipun pada awalnya nama itu hanya sebagai strategi kamuflase untuk mengelabui tentara Republik Indonesia. Namun dalam perkembangan selanjutnya nama-nama itu justru menjadi kebanggaan. Artinya mereka lebih bangga dipanggil “geuleupak” daripada nama aslinya disebut-sebut.

Pertanyaannya kemudian, kenapa ada netizen yang menulis beruang dipukul? Saya mencoba ber-husnudhan. Mungkin maksud abang netizen menulis kata “beruang” agar semua pembaca di luar Aceh tidak kebingungan. Artinya si netizen paham bahwa menggunakan istilah-istilah asing dalam penulisan dapat menyiksa pembaca. Sebab itulah dia memilih menerjemahkan istilah itu ke dalam bahasa yang lebih umum.

Seandainya dia menulis Cage dipukul, mungkin dia akan kewalahan menjawab pertanyaan di kolom komentar yang di antaranya berbunyi: “Cage itu apa ya?” Seorang netizen yang cerdas dan bijak tentu akan memangkas peluang munculnya pertanyaan-pertanyaan konyol serupa ini. Sebab membiarkan kekonyolan terjadi akan berdampak pada munculnya kekonyolan-kekonyolan baru.

Lagi pula seperti kita ketahui bersama, netizen yang bermukim di dunia maya memang punya hak yang melebihi warga biasa. Mereka bisa berkomentar apa saja sambil ongkang-ongkang kaki atau sambil tiduran di jambo jaga. Sesuatu yang tidak mungkin mereka lakukan di dunia nyata yang jika salah sedikit langsung keunong paleut.

Nah, kira-kira pelajaran apa yang bisa dipetik dari kejadian pemukulan beruang? Tentu ada banyak hal yang bisa dipetik, tapi saya memilih memetik setangkai saja; bahwa membiasakan membaca tuntas sebuah tulisan dan menonton habis sebuah video hingga selesai itu lebih selamat.

Buktinya, ketika saya membaca kalimat “Beruang dipukul,” saya sempat gembira karena sudah ada manusia yang berani memukul beruang. Tapi setelah melanjutkan menonton, saya justru harus berduka karena yang kena pukul ternyata bukan beruang yang ada dalam imajinasi saya, tapi hanya seorang anak manusia yang “kagum” pada beruang dan mungkin sedang “beruang”.

Semoga saja abang-abang kita dari kepolisian bisa segera mengungkap insiden pemukulan terhadap Cage alias beruang demi tegaknya hukum. Jika nantinya pelaku itu benar anak karnaval, mohon dimaafkan. Tapi kalau pelakunya polisi betulan, ya kiban gop meunan tanyo.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK