Pantai Lampuuk dan Plang untuk Sosialita

Pesona Pantai Lampuuk @aceHTrend/Mirza Safwandi

ACEHTREND.COM, Jantho – Bagi setiap traveller yang berkunjung ke Aceh, setidaknya menyimpan kesan ketika menatap pantai Lampuuk. Eksotisme pantai yang terletak di Kabupaten Aceh Besar itu menjadi magnet bagi pecinta wisata bahari. Perjalanan yang relatif dekat, cukup ditempuh sejauh 15 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh.

Selain wisatawan lokal, pantai ini juga kerap dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Saat gelombang tsunami menghancurkan pesisir Aceh, Lampuuk ikut mengalami kerusakan paling parah.

Kala itu pesisir Lampuuk porak-poranda, tetapi tanda kekuasaan Allah subḥānahu wa ta’āla tampak dari kokohnya Masjid Rahmatullah Lampuuk, seakan ia tak pernah goyah dari gulungan geulumbang, ia berdiri begitu utuh. Namun apa yang terjadi di sekelilingnya, setiap bangunan rata dengan tanah, tidak menyisakan apa pun kecuali bangunan putih yang berkubah, tempat manusia bersujud.

Masjid yang dibangun sekitar tahun 1990 itu, hanya berjarak 500 meter dari bibir pantai Lampuuk. Pascatsunami, Bulan Sabit Merah Turki memberikan bantuan berupa renovasi masjid.

Seiring berjalannya proses rehab-rekon Aceh, pantai Lampuuk kian menata diri, perlahan wajah pantai yang dikotori oleh ampas bencana terlihat semakin tampil dengan sejuta pesona.

Riza Wahyoe mengakuinya, warga Kota Medan yang ditemui aceHTrend di Pantai Lampuuk ini pun berbagi kisah, setiap berkunjung ke Aceh katanya, ia dan keluarga memilih bersantai di Pantai Lampuuk.

“Saya dan keluarga setiap ke Aceh pasti ke Lampuuk, pantainya indah dan bersih,” ungkap Riza yang mengaku berdarah Gayo ini beberapa waktu lalu.

Ketika ke Lampuuk, ikan bakar menjadi kuliner wajib bagi Riza dan keluarga. “Ikan bakarnya enak, khas bumbu Aceh, biasanya saya pesan kerapu cabang, harganya pun masih terjangkau, sekitar Rp180 ribu/kg,” pungkasnya.

Plang peringatan untuk berhati-hati di Pantai Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar @aceHTrend/Mirza Safwandi

Langit Lampuuk terlihat begitu cerah, bulir pasir putih menjejak di setiap langkah, setapak demi setapak kaki mulai mendekap buih yang terseret kembali ke laut. Sorak anak-anak yang bermain di ujung tepi meluap bahagia, di tengah membirunya laut membelah samudera.

Ada yang menarik dari imbauan keselamatan untuk pengunjung yang dipasang oleh pengelola pantai. Di sebuah plang berwarna merah bertuliskan, “Mohon Mandi Hati-Hati, Jangan Melewati Ombak, Kepada Ibu-Ibu Temani (Awasi) Anak Anda Mandi, Anak Lebih Berharga Dari Pada (Jadi) Sosialita”.

Peringatan yang rada menggelitik itu tidak dapat diabaikan, liburan memang penting untuk merehatkan penat, tapi keselamatan tetap menjadi yang utama, begitu pesan dari plang merah itu. Deru ombak memang menenangkan jiwa kata pujangga, tapi manusia tak kuasa mengatur derasnya gelombang.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK