Upacara HUT RI di Gosong Telaga Singkil Berlangsung di Sungai

ACEHTREND.COM, Singkil – Biasanya upacara memperingati HUT RI selalu diselenggarakan di lapangan terbuka. Entah itu di lapangan sepak bola, tak jarang di arena luas dan dataran lainnya.

Namun di sebuah desa di Aceh Singkil, tepatnya di Desa Gosong Telaga Utara, Singkil Utara, warga malah memperingati HUT ke-74 RI di tempat yang tak lazim, yakni di permukaan sungai yang sudah dangkal.

Sebagaimana lazimnya sebuah upacara, selalu ada atribut upacara, petugas upacara, dan prosesi pelaksanaan upacara.

Dalam upacara HUT ke-74 RI yang digelar di sungai tersebut, turut dihadiri aparat desa dan TNI-Polri, semuanya lengkap dan berlangsung seperti apa adanya.

Ada pembacaan teks Proklamasi, penggerekan bendera Merah Putih, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta “pidato pedesaan” dari kepala desa.

Malah yang bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Kepala Desa Gosong Telaga Utara dengan mengenakan pakaian “kebesaran”, pakaian resmi, putih-putih, pakai topi, dasi, plus atributnya. Lengkap dengan pengawalan sebelah kiri dan kanan aparat TNI-Polri.

Amatan aceHTrend, warga terlihat antusias mengikuti upacara itu, apalagi saat hormat pada bendera Merah Putih yang digerek oleh petugas sembari bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Kepala Desa Gosong Telaga, Moh Dhin, kepada aceHTrend mengatakan, upacara yang sengaja digelar di sana bukanlah karena tidak ada lapangan luas yang terbuka dan bukan pula untuk mencari sensasi.

Namun, karena ingin tampil beda dalam menggelorakan semangat kecintaan pada bangsa, tanah air, dan negara. Selain itu juga sebagai bentuk kritik konstruktif pada Pemkab Aceh Singkil yang dinilai belum aspiratif dalam melaksanakan pembangunan dan keberpihakan pada kepentingan rakyat.

Pemkab Aceh Singkil hingga saat ini, kata Moh Dhin, belum merespons mewujudkan pengerukan sungai dan penutupan parit penyebab terjadinya pendangkalan sungai di kawasan itu. Padahal keberadaan sungai itu, menjadi sumber hajat kehidupan orang banyak.

“Penutupan parit itu, sudah berkali-kali kami ajukan ke Pemkab Aceh Singkil. Namun sampai detik ini belum  direspons apalagi direalisasikan. Keberadaan sungai ini hajat kehidupan orang banyak,” ujar Keucik Moh Dhin, Sabtu (17/8/2019).

Faktor dangkalnya alur sungai tempat diselenggarakan upacara ini, tambah Moh Dhin lagi, karena timbunan tanah yang dibawa air deras melalui parit dari areal perkebunan sawit.

Akibatnya, berimbas pada warga nelayan yang saban hari melintas di sungai tersebut. Hal itu juga dirasakan nelayan desa tetangga, seperti warga nelayan Gosong Telaga Selatan dan Gosong Telaga Timur.

“Sungai dangkal tempat upacara ini merupakan jalan lintas nelayan. Dengan adanya upacara di sini, hati kita bisa terbuka,” pungkas Moh Dhin.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK