Asa Penjual Jemblang di Jembatan Pante Pirak

@aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Bagi para pencari nafkah, pergantian waktu dari siang ke malam atau sebaliknya bukanlah persoalan. Tak heran bila hampir di sepanjang ruas jalan protokol di Banda Aceh, begitu mudahnya menemukan para pedagang. Tak terkecuali di sepanjang jembatan Pante Pirak di kawasan Simpang Lima Banda Aceh. Umumnya di sini menjadi area bagi PKL untuk berjualan buah jemblang atau jambe kleng. Buah berwarna ungu pekat ini memiliki cita rasa asam bercampur manis dan sepat. Konon bibitnya berasal dari India yang dibawa pada pedagang hingga sampai ke Aceh.

Salah satu pedagang yang ditemui aceHTrend, Ruhaini (43), mengaku saban hari berjualan di jembatan tersebut. Aktivitas sehari-hari Ruhaini yang berasal dari Krueng Raya, Aceh Besar itu dimulai sejak subuh, diawali dengan salat Subuh, lalu menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Barulah setelah itu ia mempersiapkan buah jemblang yang akan didagangkannya, dibantu suami dan anaknya.

Buah-buah jemblang yang akan dijual dimasukkan dalam plastik atau wadah lainnya, dipisahkan dari bumbu colek berupa garam dan pliek u (patarana). Peralatan untuk berdagang yang dibawanya pun tidak banyak. Hanya ada beberapa kardus berisi stok dagangan dan payung untuk berteduh dari terik atau hujan. Tepat pukul 10.00 WIB, ia sudah menaiki labi-labi dari Krueng Raya menuju lapaknya berjualan yang berjarak sekitar 38 kilometer.

“Satu bambu saya beli seharga Rp30 ribu. Kemudian saya pisahkan dalam plastik besar dan kecil. Ukuran besar saya jual Rp10 ribu, sedangkan yang kecil seharga Rp5 ribu),” ujar Ruhaini kepada aceHTrend, Sabtu malam (18/8/2019).

Sama halnya seperti pedagang lainnya, Ruhaini berteduh di pinggiran trotoar jembatan. Di siang harinya, ia selalu menggunakan payung untuk berlindung diri dari sengatan terik matahari. Jika pembeli ramai, Ruhaini mengaku mampu menghabiskan lebih dari lima bambu, sehingga memperoleh keuntungan yang lumayan banyak. Bahkan di hari-hari libur, ia turut dibantu dua anak-anaknya untuk berjualan jemblang.

“Untungnya juga tidak banyak, alhamdulillah cukup untuk satu bambu beras. Asalkan kita mau berusaha, insyaallah rejeki pasti ada),” ujar Ruhaini.

Aktivitas para PKL di jembatan tersebut seolah telah menjadi “ikon” tersendiri. Mereka mengabaikan tak hanya cuaca yang silih berganti, tetapi juga polusi dari debu dan asap kendaraan yang mereka hirup secara langsung. Tak hanya di kawasan ini, para PKL yang menjual buah kaya antioksidan tersebut juga terdapat di Darussalam, kawasan Pasar Atjeh, dan Lampineung, dan beberapa lokasi lainnya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK