Jelang Hari Merdeka, Persekusi Mahasiswa Papua Terjadi di Surabaya

Polisi berusaha amankan mahasiswa Papua di Surabaya. (Foto: Merdeka.Com)

ACEHTREND.COM, Surabaya- Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia, di Jalan kalasan, Pacar Keling, Surabaya, Jumat (16/8/2019) sejumlah orang dari organisasi masyarakat (Ormas) Front Pembela Islam (FPI) dan Pemuda Pancasila (PP) melakukan aksi penyerangan terhadap Asrama Mahasiswa Papua.

Dilansir situs online Tagar.Id, Salah seorang peserta aksi bernama Muhammad menyebutkan, kedatangan ratusan orang dari sejumlah ormas lantaran beredarnya foto di media sosial, yang menampilkan tiang bendera dipatahkan oleh oknum mahasiswa diduga berasal dari Papua.

Muhammad mengatakan, massa mulai mendatangi Asrama Mahasiswa Papua sejak pukul 14.00 untuk meminta kejelasan terkait gambar tersebut.

“Gambar itu beredar di grup (WhatsApp). Dalam gambar yang beredar terlihat bendera merah putih telah dipatah-patahkan dan dibuang di selokan. Ini kelihatan tiang-tiangnya,” ujarnya kepada sejumlah wartawan.

“Apakah pantas bendera kita di buang di selokan,” kata Muhammad.

Kedatangan FPI dan PP, menurut juru bicara mahasiswa Papua Dorlince Iyowau, diawali oleh aksi pengrusakan asrama yang dilakukan oleh sejumlah polisi, pukul 15.20 WIB.

“Mereka masuk ke depan asrama lalu merusaki semua pagar. Mereka memaki kami dengan kata-kata rasis,” kata dia.

Setelah kejadian itu, ujar Dorlince, selanjutnya ormas yang datang melakukan pelemparan ke Asrama Mahasiswa Papua sehingga menyebabkan kaca pecah.

“Mereka mencoba mendobrak pintu depan dan belakang asrama. Kami terkurung di Aula. Sampai saat ini belum masuk, masih di luar pagar,” ujarnya.

Diserang Gas Air mata

Mahasiswa Papua terus saja terkurung dalam kepungan masa. Sejak Jumat hingga Sabtu mereka tidak bisa keluar. pasokan logistik juga terputus. Mereka kelaparan dan terpaksa tidur di lantai sembari menjaga kondisi. Mereka mempersiapkan diri atas kondisi terpahit.

Memasuki Sabtu (17/8/2019) situasi Asrama Mahasiswa Papua, kembali mencekam. Negosiasi antara mahasiswa Papua dengan pihak kepolisian, camat, serta tokoh masyarakat, menemui jalan buntu. Polisi pun meminta mahasiswa Papua segera keluar dari dalam asrama.

Sebab, rencananya, mahasiswa Papua tersebut akan dibawa ke Polrestabes Surabaya untuk dimintai keterangan soal dugaan Bendera Merah Putih dibuang ke selokan.

“Sekali lagi kami imbau kepada adik-adik di dalam untuk segera keluar. Atas nama undang-undang, kami dari Kepolisian RI mengimbau penghuni Jalan Kalasan nomor 10 menyerahkan diri,” kata salah seorang polisi menggunakan pengeras suara. “Jika tidak, akan kami tindak tegas,” lanjut dia.

Namun, imbauan polisi yang dilakukan beberapa kali melalui pengeras suara itu tak direspons. Mahasiswa Papua tetap bertahan di dalam asrama.

Sehingga, sekitar pukul 14.45 WIB, polisi menembakkan gas air mata sebanyak sepuluh kali ke dalam asrama. Sejumlah polisi yang menggunakan perisai kemudian menerobos masuk dengan mendobrak pagar dan menjebol pintu pagar asrama Papua tersebut.

Sebelum polisi memaksa masuk ke dalam asrama, kuasa hukum mahasiswa Papua, Ikar Dhani Nawipa sempat melakukan negosiasi. Ia meminta penjelasan tentang apa yang menyebabkan mahasiswa Papua tidak diizinkan keluar dari asrama, bahkan untuk membeli makanan sekalipun.

Kemudian, ia meminta bukti berupa video dan foto yang menyebut mahasiswa Papua telah mematahkan tiang bendera dan membuang Bendera Merah Putih ke dalam selokan, seperti yang dituduhkan kelompok organisasi masyarakat (ormas). “Apa yang membuat bapak-bapak sampai sekarang di sini. Kira-kira bisa dibuktikan (tuduhan) itu pakai foto, pakai video dan lain-lain?” kata Dhani.

Mahasiswa Papua Ditangkap

Kemudian, sebanyak 43 mahasiswa Papua dibawa ke Mapolrestabes Surabaya setelah polisi menembakkan gas air mata dan menjebol pintu pagar Asrama Mahasiswa Papua.

Puluhan mahasiswa Papua tersebut diangkut paksa dan dimasukkan ke dalam truk oleh aparat kepolisian dari asrama mereka di Jalan Kalasan, Surabaya, Jawa Timur. Wakapolrestabes Surabaya AKBP Leonardus Simarmata mengatakan, mahasiswa Papua tersebut dibawa untuk kepentingan pemeriksaan. Polisi, kata dia, akan mendalami perusakan dan pembuangan Bendera Merah Putih ke dalam selokan yang diduga dilakukan oknum mahasiswa Papua.

“Saat ini (mereka), kami ambil keterangan di Polrestabes Surabaya, seluruhnya ada 43 (mahasiswa Papua yang ditangkap),” kata Leo, di Asrama Mahasiswa Papua, Sabtu. Leo mengatakan, 43 mahasiswa Papua tersebut terdiri daei 40 mahasiswa laki-laki dan tiga orang perempuan. Ia memastikan, mahasiswa Papua akan dikembalikan setelah kepentenginan pemeriksaan selesai.

“Setelah selesai kami akan kembalikan. Kami perlakukan (mereka) dengan sangat baik, kami berikan juga waktu mau ke belakang, mau minum dan lain-lain, tetap kami berikan. Hak-haknya tetap kami berikan semuanya,” ujar dia. Sebelumnya, situasi Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya, Jawa Timur, kembali mencekam, Sabtu siang.

Sumber: Tagar.Id, Kompas, dan sumber independen lainnya.

KOMENTAR FACEBOOK