aceHTrend Menghadirkan Cuda Meuch’ap untuk Pembaca

Cuda Meuchap @aceHTrend/Cut Putri Ayasofia

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, cara orang “membaca” juga mengalami perkembangan. Tak lagi melulu melalui medium yang kita sebut sebagai teks (literasi aksara). Di era canggihnya perangkat teknologi dan ilmu pengetahuan, berbagai realita kehidupan, pesan-pesan sosial, perkembangan sains dan teknologi bisa dipelajari melalui media visual atau gambar. Baik yang bergerak atau statis.

Inilah yang disebut dengan literasi visual, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh co-founder International Visual Literacy Association, John Debes, pada tahun 1969. Melalui medium ini, seseorang bisa menginterpretasikan dan memberi makna dari sebuah informasi yang berbentuk gambar/visual.

Tidak menutup kemungkinan, sebuah media visual justru memiliki pesan-pesan yang lebih kuat dan dahsyat dari media teks.

Semangat itulah yang mendasari aceHTrend untuk memunculkan sosok visual Cuda Meuch’ap sebagai salah satu sarana “berkomunikasi” dengan pembaca kami yang kritis dan beragam.

Melalui Cuda Meuch’ap, kami ingin merepresentasikan kehadiran perempuan dalam tatanan kehidupan sosial yang kritis dan peka dengan berbagai kejadian di sekitarnya. Sejatinya, dalam bahasa Aceh “cuda” bermakna “kakak” dan “meuch’ap” bisa dimaknai sebagai “cerewet” yang suka mengomentari apa saja yang dilihat oleh seseorang di sekitarnya. Dalam konteks ini kami melekatkannya pada berbagai aspek sosial yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.

Untuk mewujudkan itu, aceHTrend menggandeng seorang kartunis perempuan, Cut Putri Ayasofia, yang memiliki bakat luar biasa di bidang literasi visual, khususnya kartun dan sejenisnya. Bukan tanpa alasan kami menggandeng Cut.

Ibu satu anak ini memiliki nilai-nilai idealisme yang tinggi dalam seni rupa. Bersama suaminya Idrus bin Harun, mereka kerap menyuarakan kegelisahan sosial melalui coretan-coretan pensil atau kuas.

Salah satu karyanya yang luar biasa adalah komik anak tentang pengislaman wilayah Kerajaan Tiro di Bulukumba, Sulawesi Selatan oleh Utusan Kerajaan Aceh (Sultan Alauddin Riayat Syah) pada awal abad ke-16. Komik ini berjumlah 21 halaman dan hanya digarap selama enam hari setelah sebelumnya melakukan riset di Bulukumba, sampai akhirnya dipamerkan dalam Makassar Biennale pada November 2017.

Sebagai orang yang mewujudkan imajinasi mengenai sosok Cuda Meuch’ap, Cut punya penilaian sendiri mengenai sosok ini.

“Cuda Meuch’ap ini mewakili ibu-ibu yang hidup di era keterbukaan informasi dan teknologi, selalu kritis dalam menerima informasi, dan tak gampang termakan berita gosip atau hoaks,” kata Cut yang pernah mengenyam pendidikan di Jurusan TEN UIN Ar-Raniry ini.

Semoga dengan kehadiran Cuda Meuch’ap, tak hanya meningkatkan interaksi antara aceHTrend dengan pembaca, tetapi juga lebih banyak nilai-nilai yang bisa kami tangkap dan sebarkan sebagai pesan dan nilai-nilai kebaikan.[]

KOMENTAR FACEBOOK