Aksi Tunggal Sri Wahyuni Menolak Tambang

Aksi tunggal Sri Wahyuni di Simpang Lima Banda Aceh, Kamis, 22 Agustus 2019

TAK ada yang berbeda dari aktivitas Sri Wahyuni di pagi Kamis, 22 Agustus 2019. Ia bangun pagi seperti biasa. Lalu menyiapkan kebutuhan ketiga putrinya: Azizah, Amina, dan Aya hingga berangkat ke sekolah masing-masing.

Setelah itu giliran dirinya yang membersihkan diri. Berkemas-kemas. Kalaupun ada yang berbeda, mungkin pada pakaian yang dikenakannya seusai itu. Ayu—begitu ia akrab disapa—memilih pakaian terbaiknya. Berupa setelan rok dari kerawang Gayo dipadu dengan blus merah menyala.

Kepalanya ditutupi kerudung hitam kombinasi merah. Senada dengan warna blusnya. Sebelumnya ia telah menyapu wajahnya dengan bedak dan memoles bibirnya dengan pemulas yang juga berwarna merah terang.

Ayu juga telah mempersiapkan selembar kain upuh ulen-ulen untuk disampirkan di pundaknya nanti. Ini merupakan kain spesial yang biasanya khusus dikenakan para perempuan Gayo di acara-acara khusus semisal pesta pernikahan dan acara adat lainnya. Upuh ulen-ulen itu bukanlah miliknya sendiri, melainkan hasil sewaan dari salah satu kerabatnya di Bener Meriah sana. Kampung halaman Sri Wahyuni.

“Ini karena punya saudara jadi saya bisa dapat harga sewa yang miring, kalau tidak mahal…” ujar Ayu saat berbincang dengan aceHTrend di sebuah kedai kopi di Banda Aceh pada Kamis petang, 22 Agustus 2019.

Dengan dandanan seapik itu, ditambah harus mengenakan kain upuh ulen-ulen pula, apakah Ayu akan menghadiri sebuah hajatan pesta pernikahan? Bukan! Ayu justru hendak menuju ke Bundaran Simpang Lima Banda Aceh. Salah satu kawasan padat di Banda Aceh yang menjadi pusat mobilitas masyarakat.

Sekitar pukul 09.00 WIB, dengan menumpang layanan taksi online, Ayu lantas bergegas menuju ke Bundaran Simpang Lima dari rumahnya di Gampong Pangoe, Kecamatan Ulee Kareng. Tak lupa ia “membawa” serta seluruh gundah gulananya yang telah ia pendam.

Di Simpang Lima, sebuah “panggung” permanen telah menantinya. Tanpa protokoler layaknya di acara-acara seremoni pemerintah, begitu turun dari mobil, Ayu melangkah pasti menuju panggung tersebut. Ditumpahkannya semua kesedihan. Rasa gundah yang tak terbendung lagi. Ya, Ayu sedang melakukan aksi tunggal menolak kehadiran perusahaan tambang di Kecamatan Linge, Aceh Tengah.

Sri Wahyuni @ist

Dengan “bekal” gerakan tari guel yang sudah dipelajarinya sejak kecil, Ayu lantas menciptakan gerakan tarinya sendiri sebagai aksi teatrikal untuk menceritakan tentang kesedihan-kesedihan seorang perempuan. Khususnya tentang kesedihan ketika menyaksikan perlahan-lahan lingkungan di sekitarnya rusak. Termegap-megap seperti ikan yang terlempar ke darat. Kesedihan yang sukar untuk ia ungkapkan dengan kata-kata.

Aksi teatrikal itu diiringi oleh musik bertajuk Water of Life yang dimainkan secara tunggal oleh Leo Rojas. Seorang musisi cum aktivis yang berasal dari suku Indian nun jauh di Amerika Selatan sana. Rojas—melalui musik-musiknya yang memerindingkan bulu roma itu—juga menyenandungkan perihal kesedihan karena sungai-sungai dan hutan-hutan di sekitarnya telah rusak.

Bukan tanpa alasan Ayu memilih diiringi musik dari Leo Rojas. Suatu ketika di Selandia Baru, Australia, Ayu pernah menyaksikan langsung pertunjukan Leo Rojas. Pengalaman itu begitu membekas. Ia serasa terhirup dalam alunan musik yang menyeruak kalbu ciptaan pria berambut gondrong itu.

“Bahkan tanpa syair pun Leo Rojas melalui musiknya mampu membawa kita pada penghayatan yang sangat tinggi,” kata perempuan berkepala empat itu.

Sudah sejak lama Sri Wahyuni getol mengampanyekan pentingnya menjaga lingkungan. Wajar saja bila jiwanya ingin memberontak ketika tahu ada perusahaan tambang PT Linge Mining Risource akan beroperasi di Aceh Tengah. Apalagi izin operasional perusahaan tersebut sudah turun dan saat ini sedang menunggu proses AMDAL-nya terbit.

Ayu ingin protes. Ia tak ingin tubuh bumi Gayo yang elok semakin tergerus oleh korporasi tambang. Namun, Ayu juga ingin melakukannya dengan pendekatan yang berbeda. Sehingga terpikirlah olehnya untuk melakukan aksi tunggal tersebut sebagai bentuk perlawanannya. Ini merupakan ikhtiarnya sebelum “ketuk palu” dari yang berwenang berupa izin AMDAL turun.

“Saya terpikir untuk bikin aksi yang berbeda, tidak provokatif, dan caranya adalah dengan pendekatan kebudayaan seperti ini. Saya ingin menyentuh hati pemerintah, bukan dengan marah-marah, tetapi dengan perasaan,” katanya.

Hutan dan masyarakat Gayo kata Ayu, merupakan dua hal yang tak bisa dilepaskan. Satu sama lainnya saling terkait. Saling terikat. Sampai saat ini masyarakat Gayo sangat tergantung pada hutan. Mereka masih menggantungkan hidupnya pada sungai, berburu, dan bercocok tanam yang jenis tanamannya sangat bergantung pada suhu dingin seperti kopi. “Orang Gayo itu kalau tidak ada hutan tidak bisa hidup,” ujarnya dengan nada khawatir.

Ia tak bisa membayangkan, bagaimana nantinya bila perusahaan tambang emas yang luas izin eksplorasinya mencapai 10 ribu hektare itu benar-benar beroperasi di sana. Bukan cuma hutan yang akan musnah, tetapi juga sumber mata pencarian masyarakat. Para ine yang biasa memetik sayur di pinggir hutan. Para ama yang biasa menangkap ikan di sungai. Mereka yang tidak memiliki kecakapan hidup selain bergantung pada kelestarian hutan. Mau dibarter dengan apa pekerjaan mereka?

“Kita sudah cukup dengan kopi, dengan kentang, dengan tomat. Ini saja bila dikelola dengan benar sudah sangat menyejahterakan rakyat. Tapi apa, kita sudah 74 tahun merdeka, pemerintah menghadvokasi harga tomat saja nggak bisa. Sudahlah, pemerintah jangan lagi mengabdi pada pemodal.”

Kekhawatiran terbesarnya juga pada bagaimana pengaruh eksplorasi alam terhadap eksistensi Danau Laut Tawar. Danau tersebut yang menjadi hulu dari DAS Krueng Peusangan, dan keberadaan beberapa DAS lainnya di Gayo, tak hanya menjadi sumber air bagi masyarakat di dataran tinggi Gayo saja, tetapi juga dinikmati sampai ke pesisir di utara Aceh. Bila kawasan hulu rusak, otomatis yang di hilir juga tak bisa menikmatinya lagi. Bakal kelimpungan berjemaah.

Selain, di kawasan izin eksplorasi tersebut juga termasuk bagian dari Kawasan Ekosisten Leuser di bagian utara, Taman Buru, dan sebagiannya kawasan Hutan Industri. Ditambah di sana juga terdapat situs-situs budaya peninggalan Kerajaan Linge dan jejak kebudayaan kuno lainnya. Inilah yang menurut Ayu justru menjadi aset yang sebenarnya bagi Gayo secara khusus dan Aceh secara umum.

Satu hal yang disadari benar oleh Ayu, bahwa perempuan dalam terjemahan yang lain adalah alam atau bumi itu sendiri. Karena itu, menjaga alam sejatinya adalah menjaga perempuan. Sebaliknya, ketika bumi itu disakiti, naluri perempuan juga akan merasa sakit.

“Karena bumi itu ibarat rahim tempat tumbuh dan berkembangnya seluruh makhluk. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila rahim itu dirusak?”

Karena itu pula, Ayu tak merasa perlu ada “momentum” khusus untuk melangsungkan aksi tunggalnya. Kalaupun ada, anggap saja momentum agustusan ini yang sering dijadikan momen untuk merefleksikan kemerdekaan.[]

KOMENTAR FACEBOOK