Tiga Warga Tangan-Tangan yang Ditangkap Polisi Dapat Jaminan Bebas Penahanan

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Tiga warga Gampong Adan, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten aceh Barat Daya (Abdya) yang ditangkap oleh Polres Abdya pada Rabu (21/8/2019) di Kecamatan Susoh akhirnya mendapat jaminan bebas penahanan dari polisi.

Ketiganya ditangkap karena kedapatan sedang mengangkut kayu jenis semantok sepanjang 18 meter dengan becak mesin. Mereka, yaitu Agusman (27), Rahmadi (33), dan Marzuki alias Udoe Ki (35).

Hal itu disampaikan Kapolres Abdya, AKBP Moh Basori SIK, kepada aceHTrend di Mapolres Abdya di Blangpidie, Jumat (23/8/2019).

“Mereka kita tahan 1×24 jam, jadi berakhirnya itu kan sore kemarin. Jadi warga Gampong Adan mendatangi kita kemarin meminta agar warganya tidak ditahan. Dan itu enggak apa-apa karena penahanan tidak mutlak harus penuhi proses penyelidikan, yang penting kemarin itu ada penjaminnya,” ujarnya.

Kapolres menyebutkan, ketiga warga yang ditahan pihaknya tersebut dijamin oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Abdya, Agusri Samhadi, dan dua orang warga Gampong Adan lainnya.

“Kemarin itu tiga orang warga menghadap saya, dan saya suruh buatkan permohonan agar ada yang menjamin. Dan setelah itu mereka membuat permohonan tersebut dengan pernyataan bahwa mereka akan kooperatif dan sanggup hadir, ya silakan saja tidak apa-apa. Tapi saya pastikan kasusnya tetap berlanjut. Intinya, ketiga warga itu tidak ditangguhkan, tapi dijamin,” jelasnya.

Kapolres menambahkan, kemarin pihaknya memang ingin menahan ketiga warga tersebut, sebab ketiganya sudah memenuhi bukti. Atas dasar itu, kata Kapalres, dirinya berani mengatakan kalau kasus tersebut tetap akan berlanjut.

“Memang kemarin itu mau kita tahan, karena sudah terbukti, maka saya berani mengatakan kasus itu tetap berlanjut,” paparnya.

Sekarang ini, sambungnya, masalah ilegal loging memang cukup marak, tapi barang buktinya masih tergolong kecil, ada yang setengah kubik dan satu kubik, karena hanya memenuhi komsumsi pasar lokal.

“Saya harapkan kepada masyarakat, kalau memang menebang, menebanglah sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan urus dulu izinnya, apalagi sekarang sudah mudah dalam mengurus dokumen-dokumen itu. Kalau pembalakan liar, maka harus diproses sebenarnya,” kata Kapolres.

Sebenarnya, lanjut Kapolres pihak tidak melarang melakukan penebangan, akan tetapi area hutan itu harus ditata dan dikelola dengan baik, terutama area mana yang boleh ditebang, dan area mana yang tidak boleh dilakukan penebangan.

“Ada area yang belum ditebang, maka wajib urus izin, harus membayar PSDH dan sebagainya, kalau memang seperti itu daerah juga mendapatkan manfaatnya dari segi retribusi,” terangnya.

Masalah ilegal loging ini, lanjutnya, tentu tidak bisa hanya bertumpu pada pihak penegakan hukum semata. Artinya semua komponen masyarakat, instansi pemerintahan dan pemangku kepentingan juga harus berperan, jangan seolah-olah semua dilimpahkan pada penegak hukum, sehingga dapat memunculkan benturan antara masyarakat dengan pihak kepolisian.

“Masyarakat kita juga butuh makan, kalau hanya dilarang saja, nanti masyarakat cari makan di mana, seperti kejadian kemarin masyarakat sampaikan ke saya bahwa ketiga orang itu merupakan tulang punggung keluarga, kalau mereka ditangkap bagaimana keluarganya makan apa. Inilah kendalanya selama ini di penegakan hukum. Sementara kalau sudah masuk ke dalam  LP harus berjalan terus ini kasusnya, karena kalau sudah masuk ke dalam ranah hukum tidak mengenal yang namanya masalah perut,” tegas Kapolres.

Maka, kata Kapolres, pihak pemerintah daerah, pemangku kepentingan, serta komponen masyarakat lainnya harus peduli dan terlibat terhadap masalah ilegal loging ini, jangan hanya semata-mata urusan pihak kepolisian saja.

“Pada intinya kasus ini tetap berlanjut, nanti seterusnya biar di kejaksaan saja keputusannya, karena di kejaksaan nanti ada yang meringankan dan ada yang memberatkan. Untuk barang buktinya masih kita sita, dan ketiga warga itu sudah kita serahkan kepada pihak keluarga dengan catatan mereka dalam jaminan orang yang menjamin mereka,” pungkas Kapolres.

Seperti diberitakan sebeumnya, ratusan ibu-ibu dari Gampong Adan, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Abdya mendatangi Mapolres Abdya untuk meminta agar tiga warga yang ditangkap polisi dibebaskan.

Ibu-ibu tersebut mendatangi Mapolres Abdya menggunakan lima mobil pick up sekitar pukul 10.45 WIB. Setelah diturunkan di jalan, mereka lantas masuk melalui pintu gerbang dan berkumpul di bawah pohon cemara yang ada di halaman kantor.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK