Pengrajin dan Penggerak Wisata Dilatih Membuat Suvenir Aceh

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh kembali menggelar pelatihan pembuatan cendera mata bagi kelompok penggerak wisata dan pengrajin dari Banda Aceh dan Aceh Besar. Workshop pembuatan suvenir kreasi rajutan dan makrame tersebut dilaksanakan pada 20-21 Agustus 2019 di Hotel Grand Mahoni, Peuniti, Banda Aceh.

Dalam pembukaan acara yang diikuti oleh 45 orang tersebut, Ismail, selaku Plt. Kabid Pengembangan Usaha Pariwisata dan Kelembagaan (PUPK) Disbudpar Aceh berharap pelatihan ini dapat memperkaya ragam opsi cendera mata bagi para wisatawan yang berkunjung ke Aceh.

“Pengembangan produk cendera mata bagi pariwisata di Aceh harus dikreasikan lebih beragam, unik, dan menarik sehingga wisatawan tertarik untuk membeli produk tersebut untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh,” kata Ismail melalui siaran pers, Jumat malam (23/8/2019).

Pengembangan suvenir modern berbentuk seni rajut benang dan pilinan tali menjadi opsi tambahan dalam memperkaya cendera mata yang telah beredar di pasaran Provisi Aceh. Penambahan simbol-simbol khas budaya dan hasil alam Aceh—seperti pinto Aceh, rincong, bungong seulanga, lobster—pada produk suvenir modern juga mampu menjadikan produk oleh-oleh umum tersebut membawa ciri khas keacehan yang tidak didapatkan di wilayah lainnya.

Pelatihan yang digelar selama dua hari tersebut berhasil menciptakan produk-produk unik berbahan dasar benang rajut dan tali kur seperti tas, gantungan kunci, sarung gawai, dan bunga hias. Walau bergaya modern, pada suvenir-suvenir tersebut turut disematkan simbol-simbol bercirikhaskan keacehan demi memperkuat brand pariwisata Provinsi Aceh.

Selaku provinsi yang telah menyandang gelar sebagai salah satu provinsi andalan wisata halal di Indonesia, Disbudpar Aceh tidak pernah absen mengedukasi masyarakat terkait segala bentuk kehalalan yang harus diutamakan dalam pengembangan pariwisata di Aceh. Bukan hanya makanan dan minuman saja yang harus diperhatikan kehalalannya, tetapi juga cendera mata.

“Suvenir Aceh yang dijual di pasaran haruslah menggunakan bahan-bahan halal, misalnya tidak berbahan kulit babi, dan proses pembuatannya juga diharapkan terjaga dari kemungkinan terkena najis dan sebagainya,” ujarnya lagi.

Pencetusan tema wisata halal di Aceh dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan maksimal kepada seluruh wisatawan lokal maupun global, terutama wisatawan muslim. Ketersediaan akses (transportasi), amenitas (fasilitas), dan atraksi ramah muslim dimaksudkan agar para pelancong bisa berpelesiran dengan nyaman tanpa harus mengalami kesulitan saat menjalankan ibadah. Oleh karenanya, potensi wisata halal di Aceh sudah saatnya dimaksimalkan bersama. Apalagi yang terkait dengan keterjagaan kerbersihan lingkungan wisata.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK