Melihat Tradisi Merendang Kopi di Aceh Selatan

@aceHTrend/Yelli Sustarina

ACEHTREND.COM, Tapaktuan – Bila Anda mendengar olahan rendang ayam, daging, atau jengkol itu merupakan makanan yang umum ditemukan. Namun, bagimana dengan “merendang” kopi yang menjadi bagian tradisi suku Aneuk Jamee di Aceh Selatan ini?

Merendang (sangrai) kopi merupakan sebuah cara yang dilakukan oleh masyarakat sekitar untuk membuat bubuk kopi. Cara manual ini dilakukan dengan merendang biji kopi jenis robusta ke dalam kuali besi di atas tungku api. Tidak hanya biji kopi, dalam proses rendang kopi ini juga ditambahkan beras sebagai bahan campurannya.

Kebiasaan masyarakat Aceh yang suka meminum kopi mengharuskan mereka untuk membuat persediaan bubuk kopi. Terlebih saat acara kenduri pesta pernikahan atau sunatan yang membutuhkan banyak bubuk kopi.

Oleh karena itu, dua minggu menjelang kenduri pemilik rumah mengundang para tetangga untuk melakukan proses merendang kopi dan dilakukan secara bersama-sama. Kopi yang direndang pun dalam jumlah banyak yang ditakar dalam are (satuan takaran masyarakat Aceh, 1 are = 2 liter).

“Biasanya untuk acara kenduri, kami merendang kopi sampai 4 are biji kopi dan dicampur dengan 2 are beras. Karena jumlahnya banyak, makanya perlu bantuan tetangga untuk sama-sama merendang kopi,” ujar Marseha, yang sejak pagi sudah datang ke rumah tetangganya merendang kopi untuk persediaan kenduri kepada aceHTrend, Minggu (25/8/2019).

Uniknya proses merendang kopi di Aceh Selatan ini hanya dilakukan oleh kaum perempuan.  Mulai dari menyiapkan tungku api, merendang beras, merendang biji kopi sampai gosong, menumbuk, dan mengayaknya hingga halus dan menjadi bubuk kopi yang siap diseduh.

Proses tersebut membutuhkan waktu satu hari dan jumlah orang yang banyak. Namun, karena dilakukan bersama-sama kegiatan itu menjadi bagian interaksi sosial dalam masyarakat setempat. Dalam proses merendang kopi ini juga mempunyai nilai saling tolong menolong karena dapat meringankan beban tuan rumah yang hendak melaksanakan kenduri.

Tuan rumah menyediakan makanan seperti bubur, kopi, teh, dan makan siang untuk para tetangga yang merendang kopi di rumahnya. Ketentuan seperti ini sudah berlaku sejak lama dan menjadi sebuah tradisi di masyarakat Aneuk Jamee Aceh Selatan.

Hukum masyarakat pun juga berlaku di sini karena bila tuan rumah tidak mau datang membantu tetangganya merendang kopi saat melakukan kenduri, ia pun akan dikucilkan oleh masyarakat dan tetangga pun juga enggan membantu tuan rumah.

Oleh karena itu pula, hubungan baik sesama tetangga dalam masyarakat Aneuk Jamee ini sangat erat dan perlu dijaga.[]

Editor : Ihan Nurdin