Mengasah Critical Thinking Melalui Pembuatan Film Dokumenter

Dhian

Oleh Akbar Rafsanjani*

Selama ini film selalu dihubungkan dengan “sesuatu yang ditonton di waktu senggang”, atau film adalah bagian dari bisnis dan industri. Dua hal tersebut memang benar adanya, tetapi tidak dipungkiri juga film bisa digunakan sebagai media pembelajaran. Dengan demikian, produk audio-visual ini adalah bagian dari pendidikan pula. Dalam hal ini film yang bisa digunakan untuk media pembelajaran meliputi film fiksi dan dokumenter. Film biasanya bersifat persuasif dan membawa pesan-pesan kebaikan tertentu.

Beberapa hari lalu, saya menemui seorang pengajar Prodi Pendidikan Bahasa Inggris di Perguruan Tinggi swasta; STKIP Bumi Persada Lhokseumawe, Rizki Dhian Nushur, M.Pd. Saat itu ia sedang mengikuti workshop pembekalan penelitian di salah satu hotel di Banda Aceh. Saya langsung menghubunginya via Whatsapp dan membuat janji untuk bertemu. Kami menikmati sore di sebuah warung kopi yang tak jauh dari hotel tersebut, sambil mendiskusikan proyek penilitian yang sedang beliau kerjakan.

Fokus studi beliau adalah Ilmu Pendidikan dan Bahasa. Sehingga sebagai dosen pada prodi pendidikan bahasa Inggris, Dhian dituntut untuk menghasilkan tulisan-tulisan dan karya ilmiah yang berhubungan dengan dunia kependidikan dan bahasa, termasuk di dalamnya inovasi pendekatan dan metode pembelajaran. Dhian saat ini sedang mengerjakan sebuah penelitian tentang meningkatkan pola pikir kritis mahasiswa melalui pendekatan pembelajaran Project Based Learning (PjBL), yaitu sebuah project yang harus diselesaikan oleh para peserta didik. Dalam penelitian ini, peserta didik melakukan penggarapan film dokumenter. Proses penggarapan film dokumenter sendiri melewati tahapan yang sangat mirip dengan proses penulisan karya ilmiah, yang mana menuntut pelaksananya untuk berfikir kritis terhadap data dan fakta dalam penggarapannya.

Penelitian dilakukan pada sebuah program yang dibuat oleh Yayasan Aceh Documentary, yaitu Aceh Documentary Competition (ADC). Aceh Documentary memiliki program tahunan yang sangat sesuai dengan proses penelitian yang ingin dilakukan, yaitu penggarapan film dokumenter. Film dokumenter sendiri merupakan salah satu jenis film yang paling sesuai untuk diaplikasikan dalam dunia pendidikan.

Jika ditinjau lebih lanjut, maka proses penggarapan film dokumenter yang digagas dalam program Aceh Documentary Competition maupun Aceh Documentary Junior juga sangat mirip dengan proses penulisan karya ilmiah, yaitu sama-sama dimulai dengan melakukan persiapan atau observasi awal, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data, pengorganisasian dan perumusan ide, pemeriksaan atau penyuntingan konsep, lalu penyajian. Penyajian pada karya ilmiah yaitu pelaksanaan penelitian, sedangkan pada penggarapan film dokumenter yaitu mulai melaksanakan garapan film. Sehingga, diharapkan bahwa penggarapan film dokumenter ini dapat meningkatkan pola pikir kritis siswa dan mahasiswa.

Menurut Dhian, Aceh Documentary merupakan lembaga yang sangat informatif dan edukatif. Lembaga ini menyalurkan ilmu dengan menggunakan ide pelaksanaan learning by doing (belajar sambil praktik). Para peserta diseleksi dan dituntun dengan sangat cermat dalam pelaksanaan garapan film dokumenter. Lembaga-lembaga seperti ini sudah seharusnya mendapat perhatian dari pelaksana dan peserta pendidikan, karena belajar bukan hanya di kelas. Selama ini kita berupaya untuk mengurangi hoax dengan berbagai macam cara, seperti mengadakan seminar dan sosialisasi. Tetapi cara yang paling tepat adalah dengan meningkatkan critical thinking di kalangan pelajar dan masyarakat dan Aceh Documentary telah melakukannya sejak berdiri pada tahun 2013. Aceh Documentary juga sedang membuka kesempatan untuk siswa SMA/Sederajat untuk bisa mengikuti program kompetisi film dokumenter Aceh Documentary Junior 2019, untuk lebih jelasnya bisa mengunjungi websitenya: acehdocumentary.com.[]

Akbar Rafsanjani, Programmer Aceh Film Festival

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK