Menanti Matahari Terbit di Kota Sejuk Tanpa Salju

@aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

ACEHTREND.COM, Sigli – Usai salat Subuh berjamaah, lantunan selawat dan zikir masih bergema di balik pengeras suara di masjid-masjid dan menasah.

Saya bersama rekan-rekan kembali ke Mess Pemda Pidie yang terletak di bukit Cot Kumbang, Tangse, Minggu (25/8). Kicauan burung bersahut-sahutan di balik rerimbunan pohon dan gemericik air dari sungai-sungai kecil yang mengalir tanpa jeda memecah keheningan pagi.

Saat beranjak dari menasah, hawa dingin masih terus menusuk tulang. Embusan angin terasa menggigit tulang.

Leupie that mantong, lagee lam AC suhu 60 derajat. Sang ka meuteungeut lom (Cuacanya masih terasa dingin, seperti dalam AC bersuhu 60 derajat. Sepertinya ingin tidur kembali),” seloroh Mukas Abu Kasem kepada aceHTrend.

Saya hanya menanggapi dingin pernyataan Abu Kasem, meski rasa ngantuk masih plus cuaca sejuk masih menggodaku untuk kembali merebahkan diri di atas kasur. Saya tak ingin melewati momen terbaik di pagi ini, yaitu menikmati pesona matahari terbit di kota kecil yang dijuluki “kota sejuk tanpa salju” ini.

Setiba di losmen, saya bergegas menuju beranda depan yang menghadap ke pusat ibu kota Tangse. Di sini, semua aktivitas warga di bawahnya terawasi dengan mudah meski terkadang terhalang dengan kabut pagi yang masih menyelimuti bukit.

Dari ufuk timur, Gunung Halimon terlihat berdiri megah. Dipagari kaki pegunungan Bukit Barisan seakan laksana kastil yang kokoh. Bagi masyarakat Aceh, khususnya mantan eks-kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Halimon sangat melegenda dan menjadi saksi penting di balik sejarah lahirnya perjuangan GAM. Di sinilah, sang deklarator GAM, allahyarham Teungku Hasan Muhammad di Tiro bersama rekan seidenya mengobarkan perlawanan dengan Pemerintah Republik Indonesia pada 4 Desember 1976.

Pemandangan semakin menakjubkan tatkala kabut tebal berarak di sekitar perbukitan Halimon semakin menyala. Tak berapa lama, tepat di atas puncak Gunong Halimon, sang surya mulai memperlihatkan diri. Pelan-pelan, ia mendaki langit laksana keluar dari sela kabut putih pekat. Cahayanya yang semula merah berubah menjadi kilauan sinar keemasan terang benderang. Meski matahari mulai bersinar terang serta angin bertiup kencang, kabut tebal di depan Bukit Barisan bergeming, sehingga menyuguhkan pesona yang menawan.

Di kawasan puncak Tangse ini, pengunjung juga dapat menikmati hamparan lahan-lahan pertanian warga. Lahan ini didominasi hamparan persawahan dan perkebunan durian yang tumbuh lereng bukit. Ada juga pemukiman penduduk dengan latar pemandangan Masjid Tuha yang tak kalah asyik untuk dijadikan latar belakang berswafoto ria.

Pengunjung juga bisa mendapatkan sambutan hangat nan ramah dari penduduk desa. Selama di sini, kesan bersahabat yang disuguhkan membuat pengunjung betah berlama-lama dan bercengkerama dengan mereka. Tidak jarang pengunjung akan sering diajak mampir untuk sekadar menyeruput segelas kopi liberika khas Tangse.

“Subhanallah, luarbiasa indahnya alam Tangse. Ini sebuah anugerah besar yang patut disyukuri,” ujar Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud yang tiba-tiba ikut nimbrung bersama saya.

“Jelas sekali. Apalagi suasana pagi yang terlihat cerah, pemandangan alamnya juga luar biasa indahnya dan masih natural,” timpal Mukas Abu Kasem yang tiba-tiba juga ikutan nimbrung.

Fadhlullah berharap, kota kecil di pedalaman Pidie, yakni Tangse, Mane dan Geumpang dapat mengembangkan berbagai destinasi wisata alam.

Pasalnya, ketiga kecamatan tersebut merupakan kawasan yang memiliki lanskap pegunungan dengan tanaman hijau subur nan asri. Begitu halnya dengan jernihnya air sungai dengan mengalir di setiap celah-celah perbukitan. Dalam hal ini, Pemkab Pidie direncanakan akan memfokuskan pengembangan ekosistem sungai sebagai salah satu sumber daya alam potensial. Menurutnya, program inilah yang menjadi suatu cara untuk menggenjot daya tarik pengunjung sehingga bisa menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

“Ini juga bisa memberikan semacam program edukasi dalam mengampanyekan keselamatan lingkungan agar bisa dinikmati oleh anak cucu kita kelak,” ujar Fadhlullah TM Daud.

Sinar mentari sudah sepenggalah, kami segera beranjak dari aula depan.

“Mari kita ngopi pagi dan sarapan,” ujar Fadhlullah TM Daud.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK