Emirat Belah Yaman, Saudi Kalah?

Tentara Yaman memeriksa lokasi serangan bom mobil yang menargetkan kantor polisi di Aden [Najeeb Almahboobi / EPA-EFE]

Oleh Affan Ramli*

Abd Rabbuh Mansur Hadi, Presiden Yaman patah hati lagi. Dua minggu lalu pasukannya diserbu kawan sendiri. Padahal sekoalisi. Milisi gerakan Yaman Selatan, di bawah pimpinan Aidaroos Zubaidi mengepung Istana Mansur Hadi. Akibatnya, perang pecah selama empat hari. Berhenti di hari Meugang. Satu hari sebelum Idul Adha. Istana dan kemp-kemp militer pasukan Hadi jatuh. Direbut pasukan Dewan Transisi Selatan (STC) Yaman.

Pasukan Hadi tampak lemah. Umumnya dari orang-orang utara. Lari ke selatan setelah kalah perang dari Houthi. Ini istana kedua presiden Hadi diambil alih lawan. Istana pertama di Sana’a, ibu kota Yaman. Ke dua di Aden, ibu kota sementara. Hadi terusir dari kedua istananya. Ia terpaksa lari dan tinggal di Riyadh, Arab Saudi. Masih untung, Hadi tetap diakui PBB sebagai presiden Yaman.

Sekarang kedua ibu kota Yaman dikuasai milisi. Sana’a (utara) di bawah Houthi, milisi sekutu Iran. Aden (selatan) di bawah milisi Dewan Transisi Selatan, sekutu Uni Emirat Arab (UEA). Arab Saudi tidak menguasai banyak. Setelah menghabiskan 100 milyar dolar (setara 1.456 triliun rupiah) untuk empat tahun perang, Saudi hanya menguasai seorang presiden terguling Yaman, Mansur Hadi. Tapi Saudi belum menyerah.

Berebut Mandeb

Lagian perang Yaman ini bukan soal perebutan ibu kota atau istana presiden. Banyak yang lupa, ini perang merebut selat, rute perdagangan laut. Mandeb, di antara tujuh selat terpenting dalam perdagangan minyak dunia. Berada di pantai selatan Yaman. Sekitar 5 juta barel minyak melewati selat Mandeb tiap hari. Diperkirakan 60 sampai 70 kapal dagang menggunakan selat ini saban harinya.

Koalisi Saudi tidak jujur menjelaskan alasan paling hakiki mereka terlibat dalam perang Yaman. Semua negara agresor mengaku, mereka hanya ingin membungkam pemberontak Houthi. Sebab houthi proksinya Iran. Pada narasi lain, sebab houthi bermazhab Syiah Zaidiah.

Publik Indonesia kebanyakan percaya, perang Yaman itu perang mazhab. Tiba-tiba orang-orang amnesia. Selama lebih 30 tahun, Yaman dipimpin Presiden Ali Abdullah Saleh, sekutu dekat Saudi, seorang penganut Syiah Zaidiah. Yaman dan Saudi bukan saja sangat akur di periode itu, Saudi bahkan memberikan bantuan ekonomi rutin tiap tahun ke rezim Saleh. Bukti jelas, Saudi tidak memusuhi syiah Yaman, baik dari klan Houthi atau klan Yahya. Perang saat ini tidak ada sangkut pautnya dengan agama.

Saudi memerangi Yaman untuk alasan lain yang lebih krusial. Lebih penting dari bisnis agama. Persisnya, perebutan kontrol atas selat Mandeb, chokepoint maritim paling strategis, yang menghubungkan laut merah ke Samudra Hindia dan Teluk Aden. Mandeb pula penghubung strategis antara Laut Mediterrania dan Laut Hindia, yang membawa hampir semua barang ekspor dari Teluk Persia menuju Terusan Suez.

Pada 2014, Houthi menumbangkan Pemerintahan Mansur Hadi, sekutu Saudi. Lalu menguasai selat Mandeb. Ini menciptakan kepanikan di negara tetangga. Terutama Saudi dan negara-negara teluk lainnya. Di tahun itu, Houthi mengirim satu delegasi elitnya menemui Raja Salman. Berusaha menenangkan kerajaan itu. Tapi Saudi melihat Houthi mewakili wajah ambisi Iran. Berbahaya bagi eksistensinya. Bukan cuma itu, sumbu nafas Israel bisa lebih pendek jika Mandeb dikontrol Iran.

Yaman harus diserang. Tapi Saudi tidak berani sendirian. Pada 2015, 34 negara lain diajak bergabung. Hanya beberapa negara bersedia. Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kuwait, Yordania, Maroko, Mesir, dan Sudan menyahuti. Koalisi militer dari negara-negara ini dibentuk. Berbagai media mengabarkan 185 pesawat tempur mulai menyerang kota-kota Yaman pada Maret 2015. UEA dan Sudan mengirim pasukan daratnya ke Selatan Yaman. Amerika Serikat dan Inggris mensuplai senjata dan intelijen untuk memenangkan perang ini.

Koalisi Pecah

Setelah lebih empat tahun, perang ini buntu. Tak ada hasil. Puluhan ribu meninggal. Jutaan warga mengungsi. Lebih separuh rakyat Yaman kelaparan. PBB menyebutnya tragedi kemanusiaan paling buruk sepanjang sejarah. Qatar tidak ambil pusing, lansung mengundurkan diri dari koalisi. Anggota lainnya dilanda skeptis. UEA yakin perang ini tidak bisa dimenangkan.

Bulan lalu, UEA mengumumkan mundur dari Yaman. 5000 pasukan ditarik. 80 persen tentaranya di pelabuhan strategis Hodaidah pulang kampung. Perlengkapan militer dan senjata berat diangkut keluar dari zona-zona tempur. Saat bersamaan UEA mengirim satu delegasi militer ke Tehran, ibu kota Iran, berunding. Menurunkan ketegangan antara kedua negara.

Arab Saudi kecewa. Lebih dari itu, kelabakan. Situs berita Middle East Eye menggambarkan penarikan UEA dari Yaman sebagai tanda bubarnya koalisi pimpinan saudi. Kedua negara, Saudi-UEA, meski berperang satu kubu menundukan Houthi, keduanya berbeda pandangan tentang masa depan Yaman. Saudi ingin mengembalikan Mansur Hadi ke Ibu Kota Yaman di utara, yang sudah jatuh ke tangan Houthi. UEA mengejar ambisinya sendiri di Selatan Yaman. Berbeda dari Saudi, UEA tidak mempercayai Presiden Hadi, karena ia dari partai Islah, partai Islam Ikhwanul Muslimin.

Awal bulan ini, UEA memobilisasi 90.000 milisi dukungannya mengambil alih istana Hadi di selatan. Merebut seluruh pangkalan militer yang dikuasai tentara negara. Beberapa hari kemudian ribuan massa dikerahkan untuk demonstrasi damai di kota Aden mengkampanyekan kemerdekaan selatan Yaman. Dewan Transisi Selatan mempersiapkan berdirinya negara baru. Lebih tepatnya, menyambung kembali negara lama mereka, Republik Demokratik Rakyat Yaman, yang bubar pada tahun 1990 akibat penyatuan dengan negara utara Yaman.

Republik Demokratik Rakyat Yaman berdiri tahun 1967 di wilayah selatan sebagai satu-satunya negara Timur tengah berhaluan komunisme. Terlibat beberapa fase perang dengan Republik Arab Yaman di utara. Keduanya menyatu menjadi Republik Yaman pada 1990, setelah penemuan sumur migas di perbatasan kedua negara.

Sejak memenangkan perang di Aden dan beberapa provinsi sekitarnya awal bulan ini, gerakan selatan nampak tak terbendungkan. Bendera Republik Demokratik Rakyat Yaman kembali berkibar se antero selatan Yaman. Defacto, pemisahan diri selatan sepenuhnya berhasil. Uni Emirat Arab jelas diuntungkan dengan perkembangan terkini. Mereka dijanjikan menguasai Pulau Socotra dan pelabuhan-pelabuhan di selatan Yaman. Sialnya, Arab Saudi tidak dapat apa-apa selain menjadi pecundang perang.

Houthi berfokus di utara. Menguasai pelabuhan Hodaidah. Pasukannya merengsek ke dalam wilayah tiga provinsi Arab Saudi: Asir, Jizan, dan Najran. Ketiga provinsi ini bekas wilayah Yaman yang dicaplok Saudi. Para pengamat memperkirakan ketiga provinsi ini akan bergabung kembali ke Yaman setelah perang usai. Bila ini terjadi, efek berikutnya pemberontakan di Qatif akan berkobar dan revolusi Bahrain pada akhirnya meledak. Perang di kubangan Yaman menyeret kerajaan Saudi terisolasi. Monarkhi keluarga Saud itu terkepung dari semua arah dengan kekuatan poros perlawanan (mukawamah) rakyat Arab.

*)Penulis adalah peminat kajian geopolitik.

KOMENTAR FACEBOOK