Fadlullah Wilmot: Mentor dan Inspirator

Oleh Fahmi M. Nasir*

Saya mulai mengenalnya sejak tahun 2001 ketika dia membantu saya dan beberapa rekan dari Aceh untuk masuk ke Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM). Dia jugalah menjemput kami berempat, saya, Muslim Abdul Muthalib, Mukhtaruddin M. Diah dan Anshari Abbas di Terminal Bus Puduraya ketika pertama sekali menginjakkan kaki ke Kuala Lumpur pada 17 Juni 2001.

Saya kemudian mengenalnya lebih dekat lagi baik ketika silaturrahmi biasa sepanjang kuliah di UIAM ataupun ketika saya membantunya mendirikan LSM Muslim Aid Indonesia di Banda Aceh, yang berafiliasi ke Muslim Aid United Kingdom dengan kantor pusatnya di London, pada tahun 2005 setelah gempa bumi dan tsunami yang maha dahsyat melanda Aceh pada 26 Desember 2004.
Ketika masa-masa awal mendirikan Muslim Aid Indonesia, kami banyak sekali dibantu oleh anak muda bernama Rahmat M. Ali Ibrahim. Ia meminjamkan mobilnya untuk memudahkan segala urusan mendirikan Muslim Aid Indonesia. Kalau ada waktu luang, Rahmat sendiri yang mengendarai mobil tersebut, ketika dia tidak ada waktu, maka kami meminta tolong sepupu saya Abdul Haris untuk menggantikannya. Rahmat sendiri kemudian juga menjadi salah satu staf yang paling awal direkrut oleh Muslim Aid Indonesia.

Muslim Aid Indonesia menjadi satu-satunya LSM International yang memiliki kantor pusat di Banda Aceh, ketika LSM lainnya semuanya memiliki kantor pusat di Jakarta, untuk beragam program pemberdayaan dan kemanusiaan di Indonesia.

Setelah itu, sedikit demi sedikit Muslim Aid Indonesia mengembangkan sayapnya dengan memiliki kantor di Yogyakarta, Padang dan Jakarta. Pasca program tsunami, barulah kantor pusat Muslim Aid Indonesia pindah ke Jakarta.
Pada penghujung tahun 2006, saya kembali mendapatkan kesempatan membantunya melakukan berbagai kerja-kerja di Kamboja, Thailand dan Vietnam untuk menjajaki mendirikan LSM Muslim Aid di negara tersebut. Saat itu saya dibantu oleh rekan-rekan dari Kamboja, Thailand dan Vietnam masing-masing Basari, Irfan dan Housen Yousof yang kebetulan merupakan mahasiswa di UIAM ketika itu. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan terutama sekali melihat dari segi urgensi, Muslim Aid memutuskan untuk mendirikan Muslim Aid Kamboja pada Januari 2007.

Lelaki itu bernama Fadlullah Wilmot. Dia lahir di Inggris pada 21 Agustus 1943, lalu pindah ke Australia bersama orang tuanya sewaktu dia masih kecil. Oleh karena itulah, dia menempuh jenjang pendidikan di Australia sejak dari kecil sampai selesai di perguruan tinggi.

Ketika kuliah di Universitas Tasmania, dia banyak bergaul dan berkawan rapat dengan mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari Asia. Dari merekalah lelaki yang akrab dipanggil Abi ini mengenal Islam sehingga akhirnya memeluk Islam ketika berusia 20 tahun.

Setelah lulus belajar di Universitas Tasmania, Abi pun mulai mengajar di sana untuk beberapa tahun. Di sana Abi masuk organisasi yang dinamakan ‘Australian Volunteers Abroad (AVA)’ sebuah lembaga yang mengirim sukarelawan dari Australia untuk mengabdi di negara-negara sahabat.
Lembaga inilah yang kemudian mengirim Abi ke Aceh selama lima tahun mulai tahun 1970-1975 di mana Abi mengajar di Universitas Syiah Kuala dan Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry (kini UIN Ar-Raniry).

Selain di AVA, Abi juga aktif dalam berbagai organisasi lainnya termasuk mendirikan Australian Federation of Muslim Students Associations (AFMSA). Aktivitas-aktivitas inilah yang membuatnya pernah mewakili Australia ke berbagai pertemuan pemuda seperti Pertemuan Pemuda Sedunia di Libya dan Pertemuan Mesjid Sedunia di Makkah, Arab Saudi.

Pada tahun 1976, Abi mewakili AFMSA ke Konvensi Tahunan Ketiga WAMY (World Assembly of Muslim Youth) di Riyadh, Madinah dan Makkah selama tiga minggu.
Di sana Abi bertemu dengan tiga orang delegasi dari Malaysia yaitu Anwar Ibrahim, Ibrahim Ali dan Fadzil Nor. Ketiga orang delegasi Malaysia itu nantinya akan menjadi tokoh-tokoh politik terpandang di Malaysia.

Kembali mengenai hubungannya dengan Indonesia, ternyata Abi pertama sekali ke Indonesia pada tahun 1967. Abi pertama sekali masuk ke Indonesia melalui Timor-Timur. Waktu itu Timtim masih berada di bawah kekuasaan Portugal. Tahun 1976-1999, Timtim menjadi bagian dari Indonesia.
Sejak tahun 1999, pasca referendum, Timor-Timur menjadi negara merdeka di mana kemudian tokoh perjuangan kemerdekaan mereka, Xanana Gusmao, menjadi Presiden pertama mereka mulai dari tahun 2002-2007, pasca pemilu presiden tahun 2002.

Ketika itu, tahun 1967, Abi naik truk menuju ke Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berbatasan langsung dengan Timtim. Dari sana Abi menuju ke Bali untuk menyeberang ke Surabaya, lalu melanjutkan pengembaraan ke kota Malang.

Baru pada tahun 1970-1975, Abi berada di Aceh. Abi mengajar di dua universitas di Darussalam, kota yang dikenal sebagai ‘Jantong Hatee’ atau ‘Jantung Hati’ orang Aceh”. Universitas itu adalah Universitas Syiah Kuala dan Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry (kini UIN Ar-Raniry).

Di sanalah Abi tertarik dengan sejarah, budaya dan masyarakat Aceh. Di Aceh jugalah, pada tahun 1972, Abi menikah dengan Asmah A. Rani, dara Aceh dari Cot Seumeureung, Samatiga, Aceh Barat. Ummi Asmah, begitu kami memanggilnya merupakan alumni jurusan bahasa Inggris di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Abi dan Ummi dikaruniakan 6 anak yang terdiri dari 3 lelaki dan 3 perempuan. Mereka adalah Muhammad Dawud Saifullah, Wardina Safiyyah, Izyani Mastura, Sumayyah Nadirah, Muhammad Irfan Imanullah dan Muhammad Zaki Hidayatullah.

Di sanalah jugalah Abi belajar bahasa Aceh dan bahasa Indonesia. Abi beruntung bisa mengenali dan menjalin persahabatan dengan ulama besar Aceh sekaligus pemimpin perjuangan kemerdekaan Aceh ketika itu, Tengku Muhammad Daud Beureueh.
Menariknya untuk berjumpa, belajar dan berdiskusi dengan Abu Beureueh, Abi pada setiap akhir pekan berangkat ke Beureuneun dengan mengendarai sepeda motor.

Kisah Abu Beureueh yang banyak dikunjungi oleh tokoh atau peneliti dari luar dan dalam negara sudah tentu sering kita dengar. Antroprolog terkenal dari Universitas California, James T. Siegel, juga sering mengunjungi Abu Beureueh terutama ketika dia sedang menjalankan penelitiannya. Siegel menukilkan kisah ini dalam bukunya ‘The Rope of God’ yang kemudian menjadi salah satu rujukan untuk penelitian berbasis etnografi tentang Aceh.

Orang ternama lain yang pernah menulis mengenai Abu Beureueh adalah William Liddle, seorang Indonesianis terkenal yang dosen di Universitas Ohio, Amerika Serikat. Ia yang tinggal di Aceh pada 1985-1987 bahkan hadir pada pemakaman Abu Beureueh di Beureunuen, ketika Abu Beureueh tutup usia tahun 1987.
Setelah selesai kontrak kerja Abi dengan AVA, Abi kembali ke Australia sebentar sebelum kemudian memutuskan menetap di Kuala Lumpur.

Ketika di Malaysia lah Abi berkesempatan bekerja di Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM) sebagai Staff Khusus Rektor UIAM yang kemudian diberi kepercayaan menjadi Kepala Kantor Rektor UIAM.
UIAM memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa yang miskin dari seluruh negara Muslim di dunia. Mahasiswa dari Aceh, banyak yang mendapatkan beasiswa dan kesempatan belajar di UIAM ketika Abi ada di sana.

Pasca bekerja dengan Muslim Aid Indonesia di Aceh, Abi kemudian meneruskan kerja-kerja di bidang kemanusiaan ke berbagai negara termasuk Bangladesh, Pakistan dan Afghanistan baik dengan Muslim Aid ataupun ketika Abi bergabung dengan Islamic Relief.
Ketika di Islamic Relief, Abi kemudian ditugaskan di Australia. Setelah beberapa tahun di negara tempatnya membesar itu, Abi kembali mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan Muslim Aid UK di London sebagai Regional Program Manager Timur Tengah & Afrika.
Kini dalam usianya yang tak lagi muda, Abi masih tetap energik seperti kali pertama mengenalnya 18 tahun yang lalu.

Dedikasi dan semangatnya dalam bekerja yang tidak pernah kenal lelah patut menjadi teladan bagi generasi muda.
Bagi staf Muslim Aid Indonesia, mereka pasti sudah hafal betul dengan kebiasaan Abi yang bekerja minimal 18 jam sehari. Bahkan di ujung minggu pun Abi tetap bekerja seperti biasa.
Banyak cerita menarik dan inspiratif dari Abi terutama sekali ketika bersama Muslim Aid Indonesia. Dalam rapat-rapat lembaga donor dengan instansi pemerintah di Aceh, biasanya LSM luar memerlukan penerjemah karena mereka tidak fasih berbahasa Indonesia.
Kadang-kadang karena terjemahan yang diberikan kurang tepat, Abi langsung membantu menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indoensia dan sebaliknya. Bahkan kalau perlu Abi menerjemahkannya ke dalam bahasa Aceh.
Ciri khas lain yang membuat Abi mudah dikenali adalah kecintaannya pada batik Aceh. Abi sering menggunakan baju bermotif batik Aceh sebagai busana resminya ketika mengikuti berbagai forum. Hal ini terus dilakukannya sampai sekarang. Ini merupakan pertanda betapa besarnya cinta Abi untuk Aceh.

Paling tidak, ini harus menjadi pemicu bagi kita untuk mencintai Aceh dengan memberikan sedikit karya dalam bidang yang kita tekuni masing-masing.

Beberapa hari yang lalu, Abi menyambut ulang tahunnya yang ke 76. Harapan saya dalam kesibukannya dengan berbagai tugas dalam menjalankan misi kemanusian bersama Muslim Aid, Abi mau meluangkan waktu untuk menulis kisah perjalanan hidupnya yang penuh warna untuk menjadi inspirasi bagi kita semua. Mudah-mudahan ke depan kita bisa mengenali Abi lebih dekat lagi dengan membaca memoarnya.

*)Pendiri Pusat Studi dan Konsultasi Wakaf Jeumpa D’Meusara (JDM) Banda Aceh & Mahasiswa S3 Konsentrasi Tata Kelola dan Hukum Wakaf pada Fakultas Hukum International Islamic University Malaysia). Email: fahmi78@gmail.com.

KOMENTAR FACEBOOK