Merefleksikan Kembali Makna Wisuda

Oleh Mardhatillah*

Sebagai kampus kesehatan terbesar di Aceh, tahun 2019 menjadi sejarah baru bagi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aceh karena akan mewisuda hampir dua ribu calon sarjana. Angka tersebut bagi Poltekkes tentunya bukanlah jumlah yang sedikit. Oleh karena itu, pihak kampus membutuhkan tempat yang memadai agar dapat menampung seluruh wisudawan dalam pergelaran yang akan dilaksanakan secara serentak.

Setelah menimbang beberapa pilihan tempat yang mungkin sesuai untuk pergelaran tersebut, akhirnya pihak kampus memilih Banda Aceh Convention Hall sebagai tempat yang dianggap memadai untuk menampung keseluruhan calon wisudawan Poltekkes. Wisuda tersebut sejatinya digelar pada 27 Agustus 2019, sesuai jadwal pelaksanaannya. Namun sangat disayangkan, seminggu menjelang hari H, terjadi polemik pengurusan izin pemakaian Banda Aceh Convention Hall yang masih belum final. Hambatan terjadi karena gedung tersebut masih dalam kasus sengketa antara Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Kota Banda Aceh yang hingga saat ini ternyata belum jelas status kepemilikannya.

Kabar tersebut tentunya membuat pihak kampus harus bertindak cepat untuk mencari alternatif gedung lain. Hingga Jumat siang (23/8), akibat pembatalan penggunaan Banda Aceh Convention Hall dan tidak memadainya alternatif gedung lain, sementara waktu semakin mepet, akhirnya pihak kampus memutuskan untuk menyelenggarakan wisuda di Lapangan Poltekkes Kemenkes Aceh dengan fasilitas tenda full AC. Acara perayaan tersebut pun harus dilaksanakan selama dua hari, dari tanggal 27-28 Agustus 2019.

Keputusan tersebut tentu membuat hampir seluruh mahasiswa kecewa lantaran setiap tahunnya acara wisuda gelombang I selalu dilaksanakan di gedung khusus seperti di AAC Dayan Dawood. Keputusan pihak kampus untuk segera menggelar wisuda, walau di halaman kampus, didasari pada pertimbangan kondisi keluarga wisudawan dari berbagai wilayah yang sejak jauh-jauh hari telah mempersiapkan keberangkatan, bahkan ada yang sudah tiba di Banda Aceh dan mengambil jadwal cuti demi menyaksikan acara perayaan kelulusan tersebut. Belum lagi mengingat biaya penginapan, transportasi, dan makanan yang harus dikeluarkan para tamu undangan selama berada di Banda Aceh.

Namun di balik kebijakan dan alasan logis yang telah dipaparkan pihak kampus, para calon sarjana tetap merasa dirugikan. Pasalnya, perayaan wisuda merupakan momen sakral yang seharusnya menjadi kenangan manis setelah perjuangan panjang di bangku perkuliahan selama bertahun-tahun. Selain itu, para mahasiswa berpendapat bahwa fasilitas tempat wisuda yang disediakan di lapangan kampus tidak sebanding dengan biaya penyewaan gedung wisuda yang dikeluarkan. Padahal euforia menyongsong momen kemenangan tersebut telah jauh-jauh hari dipersiapkan oleh para calon wisudawan dengan menguras waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Dari menjahit baju terbaik untuk wisuda, menyewa fotografer, menjadwalkan antrean untuk penata rias wajah, menjahit seragam keluarga, dan berbagai persiapan penting lainnya yang telah dijadwalkan sesuai tanggal pelaksanaan acara.

Oleh karena para calon sarjana merasa dirugikan dengan kebijakan tersebut, maka perwakilan mahasiswa dari setiap jurusan berkumpul melakukan aksi demo menuntut agar wisuda ditunda hingga mendapatkan gedung yang layak untuk pelaksanaan wisuda. Protes tersebut juga dilayangkan terhadap pihak kampus melalui pesan WhatsApp berantai ke seluruh ketua jurusan, ketua prodi bahkan sampai ke Direktur Poltekkes Kemenkes Aceh.

Aksi tersebut kemudian ditanggapi oleh Direktur Poltekkes Kemenkes Aceh dengan memfasilitasi mahasiswa beraudiensi untuk menyampaikan aspirasinya. Dari hasil audiensi tersebut akhirnya diputuskan bahwa pergelaran wisuda akan tetap dilaksanakan pada tanggal 27 Agustus 2019 di halaman kampus, tetapi hanya untuk mahasiswa RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) saja. RPL adalah program percepatan pendidikan bagi tenaga kesehatan di bawah Diploma I agar dapat meningkatkan kualifikasi pendidikan sampai jenjang Diploma III, yang telah diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 8 tahun 2012. Sedangkan untuk mahasiswa reguler Diploma III dan Diploma IV, wisuda ditunda hingga waktu yang belum ditetapkan.

Dari kejadian ini, mahasiswa calon wisudawan terpecah menjadi dua kubu yaitu “anak gedung” dan “anak halaman”. Mahasiswa yang memilih untuk menunda wisuda hingga tersedianya gedung dianggap sebagai anak high class, sedangkan yang memilih agar wisuda tetap dilaksanakan sesuai jadwal, di halaman kampus, dianggap sebaliknya. Ironisnya, pergesekan ini justru menimbulkan “sensitivitas interaksi sosial” antara sesama mahasiswa dan juga pihak kampus. Padahal jika ditinjau secara bijak, boleh jadi mahasiswa yang memilih pelaksanaan wisuda di gedung dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi kepada keluarga mereka yang telah jauh-jauh datang dari kampung halaman, bahkan mungkin baru pertama kali ke Banda Aceh, hanya untuk menyaksikan anak mereka berwisuda, naik panggung, layaknya pergelaran wisuda pada umumnya. Sedangkan mahasiswa yang memilih untuk tetap segera berwisuda, walau hanya di halaman kampus, boleh jadi memprioritaskan agar cepat mendapatkan ijazah sehingga bisa segera melamar pekerjaan demi membantu perekonomian keluarga.

Kejadian ini, mengingatkan saya pada masa kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) yang telah kita lewati beberapa bulan lalu. Euforia pesta demokrasi yang begitu panas, membuat kita terpecah belah oleh “angka”, baik itu pendukung 01 maupun 02, yang sama-sama berambisi agar paslonnya (pasangan calon) juara. Kita secara brutal menghayati berbagai pemberitaan di media, tanpa berempati kepada mereka yang berbeda pendapatnya sehingga membuat kita mudah sekali menghujat orang yang berbeda pilihan dengan kita.

Begitu juga dengan momen perbedaan keputusan wisuda yang sedang kita hadapi. Mungkin dikarenakan wisuda pada umumnya diselenggarakan di gedung, kita menjadi cenderung emosi. Kemudian ingin menuntut hak yang serupa ketika wisuda hanya dilaksanakan di halaman kampus saja. Lantas apa sebenarnya makna dari wisuda dan bagaimana seharusnya kita merayakan momen sakral tersebut? Jika benar bahwa wisuda adalah upacara peneguhan atau pelantikan bagi seseorang yang telah menempuh pendidikan, maka momen wisuda dapat dirayakan sesuai versi masing-masing; baik di halaman kampus atau pun gedung dan bersama keluarga, teman, maupun pasangan. Layaknya kata Soe Hok Gie, “apalagi yang berharga dari seorang pemuda kalau bukan heroisme dan idealisme”.

Namun, sebagai mahasiswa kesehatan, yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana peran dan kontribusi kita kelak pascalulus sebagai tenaga kesehatan dalam membantu masyarakat mendapatkan akses kesehatan yang lebih baik. Dengan begitu nantinya peran para lulusan Poltekkes mampu meningkatkan angka harapan hidup penduduk negeri ini menjadi lebih tinggi. Sebagai abdi kesehatan, mari kita merapatkan barisan, menghentikan perdebatan, dan membumikan keadilan sosial. Bersama menjadi penggerak perubahan demi meningkatkan kesehatan masyarakat.[]

Keterangan:

Mardhatillah – Mahasiswi Diploma IV Gizi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aceh dan pengurus The Leader, e-mail: maardhaa@gmail.com

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK