Karena Babi Tak Boleh Benar

TIAP kali seorang manusia kesal atau marah kepada sesamanya, maka semua keburukan ditimpakan kepada babi. Padahal sepanjang sejarah, babi tak pernah melakukan kesalahan seperti kelakukan manusia.

Saya seringkali mendengar sumpah serapah dari orang-orang kepada orang lain, seperti ucapan : Jih lage bui (dia seperti babi), akai jih peureuseh bui (Perilakunya seperti babi). Atau juga: “Hai bui, bek kaboh broh sinoe (hai babi, (jangan buang sampah di sini).

Ini tentulah sangat lucu. Apakah bangsa babi juga melakukan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, primordial, dan segala macam. Atau apakah babi juga buang sampah sembarangan, lazimnya yang dilakukan manusia?

Tentu saja tidak. Sejauh ini saya belum menemukan kasus babi melakukan KKN. Apalagi bersikap primordial. Babi juga tidak membuang sampah sembarangan. Konon lagi menjadikan isu agama dan identitas bangsa untuk kepentingan merebut kekuasaan. Bahkan, saya jamin babi atheis. Binatang itu tidak beragama.

Bila melihat cara manusia membersihakn diri dari segala cela, selalu mencari “babi hitam” sebagai apologi untuk mengatakan secara tersirat bila manusia tidak pernah salah. Bila ada yang salah, itu semua kesalahan babi.

Nah, ada satu hal yang ditiru oleh manusia dari babi. Yaitu melakukan hubugan seks tanpa memperhatikan jenis kelamin. Asalkan memiliki hole, maka semua akan sama di mata babi. Tak peduli itu anus atawa alat kelamin.

Akan tetapi, perbuatan keji itu tidak diasosiasikan kepada babi. Manusia justru menjaga perilaku menyimpang itu dengan istilah yang sangat manusiawi yaitu HAM. Melarang manusia berhubungan badan dengan sesama jenis, akan dianggap melanggar HAM. Bila ada pemimpin yang menerbitkan seruan-seruan melarang LGBT, akan dicitrakan kolot dan fundamentalis.

Andaikan perilaku LGBT itu mau diakui oleh manusia sebagai kebiasaan bangsa babi, sungguh babi akan bangga. Mereka akan berkata: “Lihatlah, perilaku kita telah diikuti oleh manusia. Mereka mengakui sebagai kodrat yang tidak bisa ditolak.”

Penulis adalah CEO aceHTrend.

Foto: dikutip dari Facebook Mirza Ferdian.

KOMENTAR FACEBOOK