Rektor Unsyiah: Hasil Sidang Etik, Saiful Mahdi Bersalah

LBH Banda Aceh Advokasi Kasus Saiful Mahdi

Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M. Eng.

ACEHTREND.COM,Banda Aceh- Kisruh antara Dr.Saiful Mahdi,S.Si.,M.Sc dosen Fakultas MIPA Unsyiah dan Dekan Fakultas Teknik Unsyiah Dr.Ir. Taufiq Saidi,M.Eng., yang diawali oleh komentar di grub WA, kian mengalir ke sana kemari.

Di media sosial, sejak Sabtu (31/8/2019) dimotori oleh YLBHI-LBH Banda Aceh, sejumlah pihak semakin gencar menyebarkan #SaifulMahdi. Berturut-turut kemudian muncul #selamatkanUnsyiahKita, #selamatkanKebebasanMimbarAkademik, #SaifulMahdiAdalahKita. Tidak cukup dengan itu, di media sosial, para penggiat LSM juga menyebarkan petisi: Selamatkan Mimbar Akademik dan Stop Pembungkaman Civitas Akademika. Salah satu paragraf di dalam petisi itu adalah sebagai berikut:

Saiful Mahdi hanya ingin menyampaikan pendapatnya terhadap hasil Tes CPNS Dosen Unsyiah tahun 2019 terutama di Fakultas Teknik yang dinilai janggal, menurut hasil analisa berdasarkan ilmu statistik yang dia geluti. Saiful Mahdi tidak berniat untuk mencemarkan nama baik seseorang, namun untuk kepentingan umum semata. Namun, Dekan Fakultas Teknik malah melaporkan Saiful Mahdi dengan tuduhan pencemaran nama baik dan Saiful Mahdi telah diperiksa oleh kepolisian di Polresta Banda Aceh menggunakan Pasal 27 Ayat (3) Undang-undang ITE.

Hingga berita ini dibuat, petisi yang dibuat via Change.Org., telah ditandatangani 500 orang.

Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Samsul Rizal,M.Eng., kepada aceHTend, Sabtu (31/8/2019) mengatakan perihal kasus antara Saiful Mahdi dan Taufiq Saidi, telah coba diselesaikan melalui Sidang Etik Senat Universitas yang beranggotakan 13 orang intelektual Unsyiah. Hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Senat Unsyiah, Saiful Mahdi dinyatakan bersalah dan direkomendasikan untuk meminta maaf di media tempat ia menyampaikan pernyataannya itu.

“Saiful Mahdi telah melakukan kesalahan menyebarkan hoaks di dalam media sosial (grub WA). Hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Senat Universitas, ia dinyatakan bersalah. Senat yang periksa dia, bukan saya. Dalam Islam setiap yang melakukan kesalahan harus minta maaf, tapi Saiful Mahdi menolak minta maaf,” kata Rektor.

Ia menjelaskan pula, menyikapi hasil yang dikeluarkan oleh Senat Universitas, Rektor juga menerbitkan surat kepada yang ditujukan kepada Saiful Mahdi agar segera meminta maaf melalui media sosial tempat dia memyebarkan pernyataan yang menurut Prof Samsul adalah hoaks. Tapi Saiful Mahdi tetap menolak.

“Akhirnya, karena Saiful Mahdi terus-menerus merasa tidak bersalah, Dekan Fakultas Teknik yang merasa telah dicemarkan nama baik lembaga yang ia pimpin oleh Saiful Mahdi, memilih melaporkannya ke penegak hukum. Hingga sampai penetapan Saiful Mahdi sebagai tersangka, tentu sudah memenuhi syarat sesuai hukum yang berlaku,” ujar Rektor.

Awal Mula Kasus

Kasus ini diawali oleh komentar Saiful Mahdi di grub WA “UnsyiahKita”. Ia mempertanyakan hasil seleksi CPNS di lingkungan Fakultas Teknik Unsyiah. Di grub WA tersebut Saiful menulis:

“Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Dapat kabar duka matinya akal sehat dalam jajaran pimpinan FT Unsyiah saat tes PNS kemarin. Bukti determinisme teknik itu sangat mudah dikorup.? Gong Xi Fat Cai!!! Kenapa ada fakultas yang pernah berjaya kemudian memble? Kenapa ada fakultas baru begitu membanggakan? Karena meritokrasi berlaku sejak rekrutmen hanya pada medioker atau terjerat “hutang” yang takut meritokrasi”

Grup WA itu dihuni oleh seratusan orang, terdiri dari dosen dan karyawan Unsyiah. Komen Saiful Mahdi membuat anggota grub menggeliat. Beberapa orang segera mengonfirmasi ke Taufiq. Sebagian lagi tidak menunjukkan reaksi. Taufik kecewa. Apalagi yang menyampaikan “pendapat” demikian adalah seorang dosen yang dikenal sangat kritis.

Kepada aceHTrend, Sabtu (31/8/2019) Taufiq Saidi mengatakan, karena yang mengeluarkan pernyataan tersebut adalah dosen MIPA, ia memilih melaporkannya ke Rektor Unsyiah. Taufiq merasa apa yang disampaikan oleh Saiful Mahdi tidak benar.

“Komentar itu menyudutkan intitusi Fakultas Teknik. Kami dituduh melakukan tindakan tidak terpuji. Ini dipicu oleh adanya sahabat beliau yang tidak lulus PNS di lingkungan Fakultas Teknik. Padahal, kami hanya menyiapkan lembaran soal dan jawaban. Keputusan hasil seleksi ada di Badan Kepegawaian Nasional (BKN) Pusat,” kata Taufiq Saidi.

Atas laporan tersebut, kemudian Rektor Unsyiah memerintahkan Senat Unsyiah menggelar sidang etik. Hasil sidang tersebut memutuskan Saiful Mahdi bersalah.

Tapi, menurut Saiful Mahdi sidang etik tidak pernah digelar.

Saya dipaksa meminta maaf. Sidang Etik itu tidak ada, yang ada hanya klarifikasi. Tidak pernah ada mediasi oleh pihak ketiga yang independen. Saya diminta minta maaf. Minta maaf bila bersalah. Saya tidak bersalah. Tak mungkin meminta maaf,” ujar Saiful Mahdi yang dihubungi aceHtrend via telepon.

Kepada aceHTrend Saiful Mahdi juga mengatakan dia akan mengikuti proses hukum yang sedang berlangsung. Untuk membantunya, ia telah menunjuk YLBHI-LBH Banda Aceh sebagai penasehat hukum.

Pernyataan LBH Banda Aceh

Dalam rilis yang dikirimkan kepada aceHTrend, Direktur YLBHI-LBH Bamda Aceh Syahrul, SH,MH., mengatakan dengan kejadian ini, LBH Banda Aceh akan mendampingi seluruh proses hukum yang sedang dihadapi oleh Saiful Mahdi. LBH Banda Aceh menilai apa yang menimpa Saiful Mahdi sebagai bentuk perjuangan penegakan dan pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) salah satunya kebebasan dalam berpendapat baik masyarakat umum maupun terhadap insan akademik.

“Perilaku seperti ini adalah bentuk pembungkaman insan-insan kritis dalam dunia akademik. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat sipil Aceh untuk berjuang bersama-sama dalam masalah ini sebagai bentuk dukungan kita bersama terhadap kebebasan mimbar akademik,” sebut Syahrul.

Ia juga mengatakan sebagai rakyat Aceh, pihaknya ingin melihat Universitas Syiah Kuala menjadi kampus yang kritis, menjadi kampus yang peduli kepada rakyat Aceh, bukan kampus yang berisi para penjahat ilmu pengetahuan.[]