Siapa Mencemarkan Siapa?

Oleh Fajran Zain*

Jagad akademik Aceh dikejutkan oleh berita tersangkanya Saudara Saiful Mahdi (SM), Dosen Fakultas MIPA Unsyiah. SM adalah Doktor lulusan Cornell University, Amerika yang dilaporkan oleh koleganya dari kampus yang sama. Adalah Dr. Ir. Taufik Saidi, M.Eng (TS), Dekan Fakultas Tehnik merasa nama baiknya dicemarkan melalui cuitan SM dalam Group WA Unsyiah Kita.

Sedikit flash back, cuitan SM berisikan kritik atas proses rekrutmen dosen yang beraroma nepotistik ketika ada satu calon yang dipandang sangat layak, namun tidak mendapat tiket masuk ke wadah Jantong Hate itu. Sebaliknya ada yang dipandang kurang kapabel malah mendapatkan tiket. Dari sinilah cerita bermula.

TS gerah karena menurutnya cuitan itu tidak berdasarkan data. Melalui Senat Universitas Komisi F, Rektor mendesak agar SM meminta maaf yang ditolak SM karena ketidakjelasan poin apa yang membuatnya bersalah. Hingga titik ini kondisi mulai kritis.

Krisis TS dan SM ini menambah PR Aceh yang energinya sedang tersedot oleh isu Kasasi Irwandi, bendera Aceh, dan revisi UUPA. Jagad maya heboh dengan crang-cringnya pesan masuk mengupdate masalah. Banyak sekali yang menyesalkan fakta ini; Kenapa urusan rumah tangga harus dibawa ke ranah hukum?

Izinkan saya menggunakan sedikit kebebasan akademik dalam memberikan analisis yang mudah-mudahan menjadi suluh penyelesaian.

Formulasi Variabel TS – SM

Terkait dengan wacana TS dan SM, secara kebetulan linguistik dalam diskursus “political dynamic” kita juga mengenal istilah TSM (Terstruktur–Sistematis–Massive). Tafsir dari formulasi itu adalah T=Struktur/Kekuasaan, S=Sistematika hujjah/Intelek, dan M=Massive/Massa akar rumput. Ada kesamaan tafsir yang bisa kita gunakan untuk memetakan masalah TS – SM menggunakan formula TSM di atas. Mari kita kaji bersama-sama.

Hubungan antara TS dan SM dipertemukan oleh kesamaan variable S, sama-sama ada huruf S pada nama mereka, sama-sama memiliki kekuataan sistematika hujjah, sama-sama intelektual bergelar Doktor. Bedanya ada faktor T pada nama TS yang bermakna dukungan kekuasaan di belakang TS yaitu dukungan Biro Rektorat dan Senat Universitas. Hal ini tidak aneh karena TS adalah Dekan dengan perangkat dan lembaga lain bersamanya. TS memiliki power T (Struktur), tetapi tidak memiliki power M (Massa)

Sementara pada sisi lain ada faktor M pada nama SM yang bermakna dukungan akar rumput di belakang SM seperti LBH, CSO, Ormas dan simpul gerakan mahasiswa. Hal ini tidak lepas dari pengaruh SM yang dekat dengan kalangan CSO. SM memiliki power M (Massa) tetapi tidak memiliki power T (Struktur).

Hingga titik ini petanya menjadi sederhana. Walau yang terlihat dipermukaan adalah geliat kasus TS versus SM, sebenarnya boleh jadi masalah ini adalah refleksi dari fenomena puncak gunung es. Sebenarnya ada persoalan lain yang lebih substansial yaitu tarik-tarik hubungan antara Kekuasaan (variable struktur) yang terkesan semakin anti-dialog, berhadapan dengan hajatan intelektual dan aktivis (variable massa) yang berharap pada kehidupan akademik yang lebih reformis dan lebih egalitarian.

TS lebih mewakili kepentingan jajaran pimpinan Unsyiah (Baca: Dukungan Rektor dalam AceHTrend edisi 1/9/19, dan dukungan IKAFT dalam Dialeksis edisi 1/9/19). Sementara SM lebih merepresentasikan arus reformasi yang tidak berani disuarakan secara terbuka oleh semua orang (lihat mobilisasi dukungan dan tanda tangan yang digalang oleh para aktivis melalui link change.org). Bisa diprediksikan dari waktu ke waktu laga dua kekuatan ini akan terus mengkerucut. Ada T yang berhadapan dengan M; kekuatan struktural (T) yang berhadapan dengan kekuatan massa (M), Power versus Masses.

Mari Fokus Pada Variable S

Namun kita tidak sedang membahas tentang kontradiksi kekuasaan dan massa itu (T versus M). Mari lebih fokus pada variable S (sistematika hujjah atau dimensi intelek) yang ada pada nama TS dan nama SM. Mereka sama-sama orang pintar yang lebih mudah menyusun kerangka penyelesaian yang bermartabat. Maka sangat disayangkan kenapa masalah miskomunikasi internal ini harus masuk ke ranah hukum.

Menariknya, selain berdimensi intelek, variable S bagi masyarakat Aceh juga bermakna akhlak. S adalah huruf Sin, huruf kedua belas dalam huruf Hijaiyah, yang menjadi akar dari kata ISLAM (Sa-La-Ma) yang berarti DAMAI. Maka mari temukan jalan yang mendamaikan kedua belah pihak. Bila ada dua pihak yang berseteru maka temukan jalan tengah (Al-Hujarat ayat 9).

Pendekatan win-win solution ini semestinya sudah dilakukan lebih intensif lagi oleh Senat Universitas dengan mendudukkan para pihak diatas tikar yang sama. Tidak dengan meminta satu pihak untuk melayangkan maaf atau dihukum bila tidak mengindahkannya. Model apologi yang bernarasi kekuasaan seperti ini bukanlah bagian dari pendekatan win-win solution. Senat Universitas yang bersifat collective collegial dan berisikan para professor harus lebih independen dan leading dalam menemukan jalan keluar.

Pun hari ini pada saat masalah sudah melampaui wilayah senat, dan sudah masuk ke ranah hukum, pendekatan win-win masih bisa juga diupayakan. Tidak ada nihilitas bila mau menekan ego masing-masing. Mengalahkan ego memang berat. Ini alasan kenapa Rasulullah SAW seusai memenangkan Perang Badar memperingatkan bahwa menaklukkan serdadu kafir bukanlah hal yang sulit, sebab musuh terbesar adalah ego yang ada dalam diri setiap kita.

C’mon…Man. Taklukkan ego masing-masing dan pilihlah jalan damai, jalan tengah, jalan washatan. Masih banyak PR di luar sana yang membutuhkan konsentrasi dan kolaborasi bersama. Musuh kita bukan di Aceh, tetapi pada kebijakan-kebijakan yang menindas yang diproduksi di Jakarta. Konon lagi kasus ini membawa-bawa nama Unsyiah, citra intelektualitas, dan institusi yang diharapkan oleh rakyat awam mampu menunjukkan tingkat keadaban yang tinggi. Malu kita pada rakyat awam dan malu kita pada orang-orang di luar Aceh sana.

Sebenarnya dalam kondisi begini, siapa mencemarkan siapa? Wallaahu’alam.

strong>*)Dosen Psikologi Politik, Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK