Renungan Hardikda Ke-60: Aceh Butuh Qanun Warkop

Pagi hari ini, Senin (2/2019), di momentum Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Provinsi Aceh ke-60, saya menyaksikan sejumlah remaja putra berseragam putih abu-abu satu per satu masuk sebuah warkop di dekat Kota Banda Aceh. Bagai antrean bebek, mereka satu per satu naik ke lantai II. Pada bahu baju mereka tertera logo SMA sekian di Aceh.

Di setiap lantai, warkop ini menyediakan jaringan Wi-Fi sehingga para pelanggan merasa nyaman dalam akses internet. Harga minuman dan makan juga bersahabat. Pro-rakyat, kata orang.

Ketika saya ke toilet di lantai dua, terlihat para remaja itu menguasai hampir semua meja di sana. Jari-jari tangan mereka sangat lihat dalam memainkan kibor di Android masing-masing, sebuah “kemajuan” tentunya.

Di beberapa meja terletak helm gaul nan rapi. Mereka saling berbicara dan tertawa sambil bercengkerama. Asap rokok terus mengepul dari mulut sebagian mereka. Dari raut wajah mereka tampak rona “bahagia” dan sangat menikmati hidup ini.

Saya yakin, orang tua mereka mengira anak-anaknya sedang sangat serius belajar di bawah bimbingan guru, apalagi hari ini adalah hari spesial karena bertepatan dengan momentum peringatan Hardikda.

Beranjak dari fenomena di atas, saya berpikir Aceh yang sudah mendeklarasikan diri sebagai wilayah berlaku Syariat Islam sejak tahun 2003, kiranya perlu menyusun qanun tentang penertiban penggunaan warung kopi dan kafe untuk anak-anak sekolah. Qanun ini nantinya bisa menjadi alasan bagi pemilik warung dan publik untuk menegur atau melarang anak-anak sekolah nongkrong di warung kopi pada jam-jam tertentu.

Menurut saya, qanun penertiban remaja di warung kopi kiranya lebih utama dibanding qanun atau peraturan bupati tentang cara duduk di atas sepeda motor, pelihara jenggot, berkain sarung, atau berbahasa Aceh pada hari tertentu.

Perlu diingat, anak-anak hari ini merupakan penerus kepemimpinan bangsa di masa yang akan datang. Kalau semua orang (terutama pemerintah) tak peduli pada permasalahan anak di daerahnya, maka bersiaplah menerima kehancuran di masa mendatang. Na’uuzubillaah min zaalik.[]

*Penulis adalah guru di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, tercatat sebagai mahasiswa Phd di UUM Malaysia

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK