Ini Tanggapan PLTU Terkait Pencemaran Limbah Batu Bara di Aceh Barat

ACEHTREND.COM, Meulaboh – Terkait pencemaran limbah batu bara di pantai Gampong Peunaga Pasie, Kecamatan Meurebo, Aceh Barat, manajemen PLTU Nagan Raya, mengatakan, ceceran batu bara di laut hingga sampai ke pinggir itu bukan karena unsur kesengajaan pihak perusahaan, tapi sebabkan cuaca buruk dan arus gelombang tinggi.

Hal tersebut dikatakan Bustami, pejabat struktural di Divisi Lingkungan, PLTU Nagan Raya, saat dikonfirmasi wartawan terkait kepemilikan batu bara yang tumpah hingga mencamari air laut dan pantai pada Rabu sore (4/9/2019).

“Kami tahu masalah ini sejak seminggu terakhir. Setelah berkoordinasi dengan PT Mifa, kami langsung turun ke lokasi untuk membersihkan secara manual juga bersama-sama masyarakat. Ceceran batu bara hingga mencemari pantai ini bukan karena disengaja, tapi kerena efek cuaca musim barat dan arus gelombang tinggi,” jelas Bustami.

Menyangkut kepemilikan limbah batu bara tersebut, Bustami belum bisa memastikan karena menurutnya dari segi bentuk atau ukuran belum bisa menjadi patokan batu bara itu milik siapa.

“Kita akui ada dua perusahaan yang beraktivitas dengan batu bara di laut yaitu PLTU dan PT Mifa. Tapi kerena kita adalah salah satu yang menggunakan aktivitas batu bara di laut, otomatis ada yang beranggapan bahwa batu bara itu milik kita,” kata Bustami.

Bustami kembali menjelaskan soal kepemilikan, batu bara yang dibawa arus ke pinggir pantai itu, tidak bisa berpatokan dari bentuk atau ukuran, karena ukuran atau bentuk batu bara bervariasi.

Meski demikian, pihak PLTU ke depan siap melakukan evalusi untuk memperkuat standar operasional prosedur (SOP), terutama yang menyangkut pembongkaran batu bara di laut.

“Yang selama ini kita jalankan sesuai SOP. Ke depan kita evaluasi di mana ada kekurangan kita akan perbaiki,” katanya.

Bustami menambahkan, lokasi pembongkaran batu bara milik PLTU berjarak sekitar 10 mil dari pantai. Sedangkan jumlah batu bara yang dipasok dari luar yakni Sumatera Selatan, sejak beberapa bulan terakhir sudah berkurang dari periode sebelumnya, karena sebagiannya sudah menggunakan batu bara lokal.

“Jumlah batu bara dipasok dari luar, sejak beberapa bulan terakhir sudah berkurang. Jumlahnya sekitar 20 ribu ton setiap bulan. Karena sebagiannya sudah menggunakan batu bara lokal,” demikian jelas Bustami.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK