Menemukan (Kembali) Mindset Aceh

Fahmi M. Nasir (kanan).

Oleh Fahmi M. Nasir

Saya merasa beruntung ketika AceHTrend memberikan kesempatan untuk menjadi kolumnis di media daring ini. Mulanya pilihan nama untuk kolom ini adalah antara ‘wakaf’ atau ‘diaspora’.

Kalau saya pilih ‘wakaf’, maka tulisan di sana kelak akan berbicara seputar studi, tata kelola, perkembangan dan segala seluk beluk wakaf. Sudah tentu tema-tema seputar wakaf sangat akrab bagi saya yang sedang menekuni studi wakaf di Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM). Kebetulan juga wakaf sedang menjadi ‘big thing’ dalam dunia keuangan Islam.

Jika ‘diaspora’ yang menjadi pilihan, maka rencananya kolom ini akan berisi kiprah dan kisah-kisah sukses orang-orang Aceh baik yang dahulu ataupun generasi muda sekarang ini baik di dalam atau di luar negeri.

Kolom ini diproyeksikan untuk mengabarkan betapa hebatnya potensi SDM yang dimiliki oleh Aceh baik dahulu ataupun sekarang sehingga ia bisa menjadi inspirasi bagi generasi penerus di Aceh. Ia akan menjadi alternatif informasi di tengah berbagai berita negatif yang mengepung kita sehingga menimbulkan rasa pesimis terhadap masa depan Aceh.

Untuk masalah berbagi informasi positif, kebetulan saya punya kawan lama sewaktu bekerja di Muslim Aid Indonesia yang kemudian sukses mendirikan Good News From Indonesia (GNFI). Konten utama GNFI adalah membagikan berita baik tentang Indonesia. Akhyari Hananto, pendiri GNFI itu, kini dikenal sebagai salah seorang pegiat sosial media yang paling berpengaruh di Indonesia.

Ia mendirikan GNFI, pada tahun 2008, sebagai jawaban atas kegelisahannya melihat bagaimana media di Indonesia terus menerus memberitakan berita buruk sehingga menimbulkan persepsi negatif mengenai Indonesia baik di mata masyarakat sendiri ataupun di mata masyarakat luar.

Pilihan untuk tema ‘diaspora’ juga semakin menarik karena pada 18 April lalu guru saya Prof. Yusny Saby mengajak saya menghadiri kuliah mingguannya di ICAIOS (International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies), Banda Aceh. Rupanya dia sedang membahas topik ‘Diaspora Aceh’ dengan mengidentifikasi tokoh-tokoh Aceh di dalam dan luar negara untuk kemudian dituliskan profil mereka satu per satu sehingga keberadaan mereka dikenali oleh generasi penerus kita.

Hari itu saya juga diminta untuk berbagi sedikit pengetahuan mengenai ‘Diaspora Aceh di Malaysia’. Iya, banyak sekali orang-orang keturunan Aceh yang ternyata memiliki rekam jejak gemilang di negeri jiran itu. Kebetulan saya mempunyai sedikit informasi tentang hal itu karena sudah sekian lama merantau ke sana dan juga berkesempatan bekerja pada almarhum Tan Sri Sanusi Junid, salah seorang permata Aceh yang lama malang melintang di dunia politik di Malaysia.

Ketika sedang menimbang-nimbang pilihan nama antara ‘wakaf’ dan ‘diaspora’, saya membaca salah satu buku terbaru yang ditulis oleh salah seorang dosen saya ketika mengambil program S2 di UIAM pada tahun 2002/2003 yang lalu. Setelah berhenti dari UIAM pada tahun 2005 lalu, dia mendirikan perusahaan sendiri yang kemudian dikenal sebagai salah satu perusahaan papan atas dalam bidang ekonomi Islam. Dia sendiri pun kemudian dikenal sebagai salah satu pakar papan atas dalam bidang itu. Baru-baru ini, dia kembali ke kampus UIAM setelah diangkat sebagai Presiden UIAM ke-8 untuk periode 2019-2022.

Buku yang ditulis oleh Datuk Dr. Mohd Daud Bakar itu berjudul “Mindset is Everything” yang merupakan kompilasi dari 23 tulisannya di majalah miliknya, Malaysia Business, sejak tahun 2016. Dia berargumen bahwa yang paling penting dalam semua hal adalah ‘mindset’. ‘Mindset’ merupakan kunci keberhasilan ataupun kegagalan. Memiliki ‘mindset’ yang tepat akan membuat sesuatu yang sepertinya mustahil akan dapat kita wujudkan menjadi suatu kenyataan.

Dalam salah satu tulisannya itu dia melemparkan suatu pertanyaan yang mungkin juga menjadi pertanyaan banyak orang. Kenapa sebuah negara itu dapat membangun dengan lebih cepat dan lebih baik dibandingkan negara lain. Kemudian dia memberikan jawaban bahwa faktor yang memiliki andil paling besar untuk itu adalah ‘mindset’.

Pertanyaan kita sekarang, apakah ‘mindset’ itu? Menurut Carol S. Dweck, mindset adalah bagaimana kita meyakini suatu tentang diri dan sifat dasar yang kita miliki baik berupa kecerdasan, talenta ataupun kepribadian. Apakah kita meyakini sifat tersebut adalah sesuatu yang tetap (fixed mindset) dan tidak bisa diubah ataukah ia merupakan sesuatu yang bisa diubah (growth mindset) melalui berbagai usaha.

Mindset manakah yang kita perlukan atau yang bisa kita katakan sebagai mindset yang tepat? Dalam artikelnya itu, Datuk Dr Mohd Daud Bakar menyarankan kita untuk memiliki ‘growth mindset’. Inilah yang menjadi pembeda antara keberhasilan dan kegagalan baik dalam tataran individu ataupun organisasi.

Pada masa yang sama saya juga menyaksikan bagaimana terjadi perubahan-perubahan besar di Malaysia baik dalam tataran politik ataupun di universitas tempat saya menuntut ilmu. Di Malaysia, dalam Pemilu ke-14 pada 9 Mei 2018 lalu, pemerintah koalisi Barisan Nasional yang sudah memerintah lebih dari enam dekade, untuk pertama sekali sejak negara itu merdeka tahun 1957 kalah kepada koalisi oposisi di bawah pimpinan Tun Dr. Mahathir Mohamad. Sejak saat itu berbagai perubahan dalam segala bidang sedang giat dilakukan oleh pemerintah untuk memenuhi manifesto yang mereka janjikan kepada rakyat Malaysia.

Di UIAM pula, kampus yang memiliki moto Taman Budi dan Ilmu (Garden of Knowledge and Virtue) sekarang sedang dilakukan berbagai perubahan untuk mencapai tujuan awal pendiriannya pada 35 tahun yang lalu. Segala perubahan yang dilakukan itu diarahkan untuk memastikan tercapainya visi yang disebut ‘leading the way’ yang nantinya akan bermuara kepada terwujudnya UIAM sebagai Taman Budi dan Ilmu.

Apa yang menarik dari kedua perubahan yang dilakukan baik dalam tataran negara atau universitas itu adalah besarnya peranan ‘mindset’ di sana. Di sisi lain keberhasilan sektor ‘wakaf’ dan ‘diaspora Aceh’ juga tidak bisa dilepaskan dari peranan ‘mindset’. Sudah tentu tema seputar wakaf dan diaspora pun tetap bisa masuk ke dalam kolom ‘mindset’.

Oleh karena itulah saya memutuskan untuk menjadikan ‘mindset’ sebagai nama untuk kolom yang saya tulis ini. Mudah-mudahan dalam perjalanan ke depan kita bisa sama-sama menemukan kembali ‘mindset’ yang membuat orang Aceh dulu berjaya untuk kita replikasikan di masa sekarang.

KOMENTAR FACEBOOK