Mulut dan Telinga

ILustrasi. Sumber: Wikipedia.

Oleh Muhajir Juli

Perbedaan mencolok antara orang tidak berilmu dengan orang berilmu, adalah pada kemampuan untuk mendengar. Semakin jahil seseorang, maka semakin ia gemar bicara dan enggan untuk mendengar. Dalam alam pikir orang jahil, kebenaran hanya apa yang ia sampaikan saja, di luar itu, semua tidaklah benar.

Dalam sebuah pelajaran kaidah hidup, orang-orang berilmu sangat dilarang berdebat di tengah-tengah pasar. Mengapa? Sebagai tempat terburuk, pasar merupakan ruang sosial yang dihuni oleh manusia dengan ragam kapasitas. Di dalam sebuah pasar, kebenaran selalu diukur dari seberapa lantang seseorang berani menentang orang lain. Maka tidak heran, bila di dalam sebuah pasar, kelompok preman adalah pemilik narasi kebenaran.

Dalam bahasa keseharian orang Aceh, seringkali disebutkan: daripada kajak meudawa ngon ureung jahe, leubeh got kajak tulak meulasah saboh sidroe keuh (Ketimbang berdebat dengan orang jahil, lebih bagus mendorong meunasah sendirian).

Akhir-akhir ini, ruang interaksi kita seringkali disuguhkan penampilan rasa solidaritas yang selalu mencoba mengakali nilai-nilai kebenaran. Kebenaran tidak lagi diukur dengan parameter keilmuan, tapi sudah diukur dengan bentuk penggalangan opini publik. Maka acapkali muncul tagar-tagar yang sejatinya menyesatkan dan mendistorsi kebenaran.

Dengan mengutip ayat di dalam kitab suci, dengan mengutip pendapat para ahli, dengan mengutip kata-kata mutiara, banyak orang telah menjadi hakim, tanpa memiliki ilmu tentang apa yang sedang ia hakimi. Benar dan salah menjadi sangat kabur, karena semua dibangun dengan narasi berdasarkan kepentingan politik, “solidaritas pertemanan,” “mutualisme” jejaring fund.

maka tidak heran, citra seseorang tiba-tiba menjadi sangat buruk, bukan karena ia memang benar-benar buruk. Tapi karena ada “gerakan solidaritas” yang sedang berupaya menghancurkannya. Di sisi lain, ada seseorang yang digadang-dagang sebagai orang sangat baik, bukan karena ia benar-benar baik, tapi karena ada kepentingan dan solidaritas hana meupu cap yang sedang mendukung dirinya.

***
Dalam sebuah diskusi informal, seorang pakar komunikasi di Aceh pernah mengatakan, titel seseorang, hanya sebagai bukti bila ia pernah menempuh pendidikan formal. Akan tetapi, pendidikan formal demikian, belumlah menjadi jaminan seseorang itu akan menjadi manusia seutuhnya. Masih ada sifat-sifat hewani di dalam dirinya. Masih ada kesombongan di dalam jiwanya. Masih ada keangkuhan di dalam hatinya. Karena seringkali, orang-orang berpendidikan tinggi, dihanyutkan oleh nafsu amarah. Merasa diri paling benar.

Sang pakar itu mengatakan, sejatinya orang berpendidikan adalah ianya yang mampu mengedepankan telinga ketimbang mulut. Orang berilmu sejatinya adalah ia yang mampu lebih banyak mendengar ketimbang bicara.

Saya iseng bertanya “Nah, jikalau orang-orang berpendidikan pun lebih mengedepankan mulut ketimbang telinga, itu pertanda apa?”

Sembari tersenyum ia menjawab : “Perbedaan antara orang berilmu dengan tidak berilmu hanya ada pada dua hal tadi. Antara mulut dan telinga. Bila ianya hanya mampu mengedepankan mulut, apa bedanya ia dengan robot?” Ia melanjutkan sebagai penutup “Bukankah iblis awalnya hidup di dalam surga? Mengapa terusir? Karena ia lebih memilih berdebat dengan Allah, ketimbang mendengar apa yang difirmankan oleh Allah.”

Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK