Di Puncak Bukit Gunungsitoli, Situs Nisan Islam Aceh Menyatu dengan Artefak Megalitikum

Oleh Ichwan Azhari*

Rabu (4/9/2019), dengan hati berdebar saya memanjat sebuah bukit setinggi sekitar 1.000 mdpl. Dua malam sebelumnya, di Museum Pusaka Nias Gunungsitoli, saya berdiskusi panjang lebar dengan pastor  asal Jerman, Johannes M Haemmerle, pendiri museum itu, tentang jejak Islam Aceh di Nias. Diskusi itu  mengganggu rasa penasaran saya akan situs Islam batu Aceh yang ada di atas bukit yang berjarak sekitar 11 km dari Kota Gunung Sitoli ini.

Pastor Johannes meminta saya menyiapkan fisik untuk sampai ke atas bukit situs megalith Ononamolo Tumba dan Sibatua. Ah saya tak mau kalah, masak pastor Jerman berusia 78 tahun ini pernah sanggup ke sana, sedangkan saya yang jauh lebih muda tak sanggup? Untuk sampai ke lokasi saya dipandu oleh pegawai Museum Pusaka Nias dan warga setempat.

Bukitnya curam dan rasanya seperti lebih sulit (karena tanpa tangga), dibanding mendaki makam Papan Tinggi di Barus. Saya beberapa kali tergelincir, beberapa kali berhenti menarik napas, bergerak tanpa sepatu dan masih pakaian kantoran karena memanfaatkan sedikit waktu menuju bandara. Dan rasa lelah dengan dengkul hampir lepas ini terobati saat sampai di atas menemukan lima nisan Batu Aceh. Batu Aceh merupakan istilah arkeologi untuk jenis batu nisan yang diproduksi di Aceh dan tersebar tersebar ke luar Aceh termasuk sampai ke Jawa.

Ini benar-benar mencengangkan. Batu Aceh berada di bebukitan, di kompleks runtuhan tradisi budaya batu batu besar/megalitikum, runtuhan desa kuno Nias. Jika nisan batu Aceh selama ini sering berada di kawasan dataran rendah dekat pantai dan sungai, maka kali ini batu Aceh ikut tradisi kampung Nias kuno, berada di atas bukit, bagian dari kampung kuno sebagai sistem pertahanan perang antarkampung.

Teka-teki yang kusutpun mulai masuk ke kepala. Siapa yang dimakamkan ini? Orang Aceh? Aulia penyebar Islam? Kalau bukan orang Nias, ngapain dimakamkan di atas bukit menyatu dengan tradisi kampung kuno? Atau ini makam  bangsawan Nias yang pertama masuk Islam?

Pastor Johannes berhipotesa, ini agaknya makam orang Nias pertama yang masuk Islam, jauh masa sebelum orang Eropa masuk ke pulau Nias. Kompleks makam ini berbeda dengan kompleks makam situs Aceh lain yang berada di kawasan Kampung Mudik, Kota Gunung Sitoli.

Saya menginap di rumah tradisional Nias yang dalamnya disulap Pastor Johannes menjadi kamar hotel bintang tiga di Kompleks Museum Pusaka yang didirikannya. Di museum itu oleh kepala museum yang juga teman saya Pak Nata Duha, saya diperlihatkan sejumlah pecahan keramik dan tembikar temuan situs Aceh Nias ini. Sebagian besar dari Dynasti Qing abad 18-19. Nisan batu Aceh ini sendiri kemungkinan berasal dari abad 17. Di bukit saya juga menemukan beberapa ceceran pecahan keramik Dynasti Qing. Tapi saya dan juga Pastor Johannes belum dapat menghubungkan situs Nisan Aceh di bukit Ononamo Tumba ini dengan situs Islam mudik abad 17 di pesisir Gunung Sitoli.

Temuan ini bisa menjadi titik tolak memahami Nias dari dimensi lain, yakni kontak Nias dengan peradaban dunia luar berabad-abad yang lalu, jauh sebelum pengaruh Barat datang. Di Museum Pusaka Nias ditampilkan manik-manik kuno yang memperlihatkan kontak Nias dengan India dan Indo Pasifik. 

Islam masuk ke sekitar Gunung Sitoli sejak 1642 sebagaimana ditulis M.I Polem dkk dalam buku yang dieditori Pastor Johannes (2008). Ini juga menjadi penjelas kenapa ada komunitas muslim dan mesjid di kawasan Gunung Sitoli, komunitas yang berasal dari keturunan Islam lama dan bukan Islam pendatang baru abad 20. Komunitas ini jugalah yang menjadi pembentuk marga baru di Nias, yakni marga Polem.

Lebih dari itu, situs-situs  Islam ini bisa menjadi penghubung pengetahuan kita kenapa toleransi antara pemeluk Kristen dan Islam sangat baik di kawasan yang mayoritas beragama Kristen di Nias. Saya harus mengakhiri catatan di atas pesawat Wings yang menerbangkan saya dari Bandara Binaka ke Kualanamu ini. Teka-teki belum bisa dijawab. Mengapa makam muslim dengan  nisan gaya Aceh berada di kampung Nias di atas bukit, menyatu dengan arca kuno dan tradisi megalit kuno?

Jawaban ini memerlukan riset lebih lanjut yang lebih mendalam dan bisa dilakukan oleh sejarawan khususnya sejarawan Nias di masa mendatang.[]

Penulis adalah Dosen Universitas Negeri Medan

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK