Menghela Irwandi ke Luar Gelanggang

Dipilih untuk kali kedua, dengan harapan ia dapat membangun Aceh–setelah rakyat kecewa kepada pasangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf–siapa nyangka Irwandi justru dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi. Kini, ia pun coba dihela ke luar gelanggang Partai Nasional Aceh, yang ia dirikan bersama koleganya.

Semua sepakat bila sejak awal Irwandi Yusuf adalah lelaki yang tidak bisa diatur-atur. ia begitu liar. Mulutnya terlalu pedas. Tak jarang oleh sikapnya itu, banyak orang-orang yang awalnya mendukungnya 100 %, justru mundur karena makan hati. Di sisi lain secara sistematis, orang-orang berupa agen handle, petualang politik, serta grup-grup lain, berhasil menyusup ke dalam barisan dan mencapai ring 1 Irwandi-Nova.

Pertarungan pasca Pilkada 2017 semakin kencang. saling berebut proyek, merupakan lelaku keseharian orang-orang yang berada di link utama Irwandi kala itu. Untuk mendapatkan prioritas, perilaku tak terpuji pun dilakukan. Saling menggunting dalam lipatan, menikam kawan seperjuangan, serta memasukkan orang lain, adalah perilaku umum yang bisa dilihat secara mata telanjang kala itu. Tidak sedikit yang menjadi korban. Irwandi pun semakin tenggelam dalam segenap puja-puji.

Di sisi lain, kritik segera bertumbuh di media sosial. Netizen yang jengah dengan sikap dan perilaku rezim yang sempat diharapkan bisa membawa perubahan positif untuk Aceh, justru berperilaku sebaliknya. Netizen marah dan mencaci maki pemerintah. Termasuk mengkritisi Irwandi yang semakin sibuk terbang ke sana kemari, sedangkan rakyat tak ada yang peduli. Tapi reaksi Irwandi petantang-petenteng. Dia justru membalas cacian netizen dengan kata-kata kasar.

Peristiwa pendaratan darurat ketika pesawat Shark Aero yang dipiloti Irwandi karena mati mesin di kawasan Gampong Lam Awe, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, pada Sabtu (17/2/2019) sore, diharapkan bisa menjadi iktibar bagi Irwandi. Tapi ternyata tidak. Dia masih saja tak mampu mengendalikan diri di media sosial.

Di sisi lain, sejak awal terpilih sebagai Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf segera memiliki konflik dengan Samsul Bahri bin Amiren. lelaki yang akrab dipanggil Tiyong itu, sejak Irwandi terpilih sebagai Gubernur Aceh, telah mengundurkan diri sebanyak dua kali dari posisi Ketua Harian. Masing-masing 30 Agustus 2017 dan 25 Juni 2018. Pada kali pertama mengundurkan diri, Tiyong mengajukan alasan jabatannya sebagai Ketua DPW PNA Bireuen, tak memungkinkan dirinya menjabat Ketua Harian DPP PNA. Kali kedua, ia mundur dengan alasan maju sebagai bakal calon anggota DPRA dapil III.

Banyak yang menilai bila itu hanya dalih saja, karena selama beberapa bulan sebelumnya hingga saat mengundurkan diri, Tiyong dan Irwandi terlibat perang di Facebook. Mereka saling menyindir di media sosial. Bahkan dari kalimat-kalimat yang dilontarkan, mereka tidak sedang dalam “propaganda politik”, tapi memang memiliki sentimen yang tidak bisa dianggap kecil. Termasuk dakwa-dakwi dugaan soal bagi-bagi paket-paket di Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Aceh.

Perihal pengunduran diri untuk kedua kalinya itu, Irwandi sudah memberikan restu. Belum pun itu diproses, Irwandi ditangkap KPK. Tidak berselang lama, Tiyong kembali melakukan manuver. Kali ini, di FB dia menulis: Menunggu proses PAW DPRA, dri Partai Nanggroe Aceh,, semoga yang di ganti lebih baik dari saya.

Tidak lama setelah penangkapan Irwandi, DPP PNA menggelar konferensi pers. Mereka menyatakan bahwa Tiyong diminta kembali menjabat Ketua Harian PNA. Pada Jumat (6/7/2018) dia mengatakan bersedia kembali menjabat sebagai ketua harian, dan akan melakukan konsolidasi internal.

Tentang “klaim” dirinya akan di PAW, tidak terbukti sampai Tiyong terpilih kembali sebagai anggota DPRA pemilu 2019.

Irwandi Dikudeta?

Irwandi Yusuf ditangkap oleh KPK pada 3 Juli 2018 dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT). Tertangkapnya Irwandi disambut gembira oleh sejumlah netizen. Juga oleh sebagian orang yang selama ini berada di lingkaran Irwandi. Terlepas bila Teungku Agam ditangkap karena OTT, tapi seakan-akan ada hal-hal lain yang telah disusun matang, sebelum yang bersangkutan diringkus KPK. Di luar asumsi KPK tahu atau tidak, tapi ada dugaan, bila ada kelompok tertentu yang telah lama ditanam ke dalam ring utama Irwandi, dengan tugas mengacaukan psikologi Irwandi sehingga tidak sempat berpikir jernih.

Sejak Irwandi ditangkap KPK, desas-desus tentang akan digantinya Irwandi Yusuf dari kursi Ketua Umum, mencuat dan dibicarakan cukup santer di kalangan tertentu. Ada kelompok yang ingin segera menamatkan karir politik Irwandi di Aceh.

Apalagi pada Pileg 2019, PNA bukan lagi partai semenjana. Mereka dapat kursi di mana-mana walau tidak semuanya signifikan. di DPRA mereka berhasil mendapatkan satu fraksi. Sebuah prestasi fantastis, yang diduga akibat dari Irwandi effect.

Tapi, desas-desus tersebut tetap menjadi haba meja kupi, hingga akhirnya secara tiba-tiba Irwandi Yusuf menunjuk Darwati A. Gani sebagai Ketuah Harian PNA, menunjuk Muharram Idris sebagai Sekjen PNA, serta mencopot Samsul Bahri bin Amiren dari kursi Ketua Harian, serta memberhentikan Miswar Fuady dari posisi sekjen.

Tiyong bergeliat, Miswar Fuady walau tak banyak bicara juga bergeliat. Ketua Majelis Tinggi Partai (MTP) Irwansyah juga memberikan bukti nyata telah siap berhadap-hadapan dengan Irwandi. Irwansyah ditambah Miswar Fuady dan Soenarko telah menggelar rapat khusus di Hermes Palace Hotel pada Kamis (5/9/2019). Salah satu hasil dari rapat tersebut adalah penunjukkan kembali Tiyong dan Miswar Fuady ke jabatan semula, dengan status Plt, hingga Kongres Luar Biasa digelar. Mereka tidak mengakui Darwati dan Muharram. Apalagi sejak ditunjuk oleh Irwandi, kedua orang itu, tidak bisa masuk ke kantor DPP PNA yang dijaga ketat oleh loyalis Tiyong.

Di lapangan, pengurus PNA pecah. Sejumlah DPW dan DPK menyatakan mendukung Tiyong dan mendesak segera digelar Kongres Luar Biasa PNA. Mereka mengatakan bahwa Irwandi sudah tidak pantas lagi duduk sebagai Ketua Umum PNA, karena sudah ditangkap atas kasus korupsi. Di sisi lain, masih banyak pula yang menganggap Irwandi sebagai pemimpin mereka. Sehingga apa yang sedang dilakukan oleh Irwansyah, Tiyong dan sejumlah DPW dan DPK, sebagai bentuk nyata pengkhianatan mereka terhadap Irwandi Yusuf.

Sekretaris MTP, Sayuti Abubakar, yang juga orang dekat Irwandi, mengatakan bahwa keputusan rapat khusus tersebut tidak sah. Karena tidak melibatkan semua struktur MTP. Sebagai sekretaris, ia tidak pernah diberitahu tentang rapat tersebut. Sehingga, selain bertentangan dengan AD/ART PNA, upaya melengserkan Irwandi dari Ketua Umum, adalah upaya yang melawan hukum.

lalu, apakah Irwandi benar-benar akan mampu ditendang ke luar gelanggang melalui “perang Baratayudha” yang disebut Kongres Luar Biasa? Ataukah justru Irwandi yang akan memenangkan perang besar di ujung? Banyak pula yang mengatakan bila PNA akan segera tenggelam. karena, siapapun yang menang pada “perang saudara” tersebut, ibarat kata pepatah Melayu: Kalah jadi abu menang jadi arang. []

KOMENTAR FACEBOOK