Dewan Tanggapi Pencemaran Batu Bara Di Aceh Barat

Kondisi pantai yang dipenuhi tumpahan batu bara @aceHTrend/Sudirman Z

ACEHTREND.COM, Meulaboh – Sejak pencemaran batu bara di sepanjang pantai di Gampong Peunaga Rayek, Peunaga Pasie, dan Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat perekonomian nelayan di wilayah itu mulai terganggu. Hasil tangkap nelayan tradisional yang bergantung kepada laut menurun drastis.

Terkait hal itu, Ketua DPRK Aceh Barat, Samsi Barmi, mengungkapkan, dua perusahaan pertambangan yang beroperasi di daerah itu, yaitu PLTU dan PT Mifa harus bertanggung jawab. Kata Samsi, sebelum beroperasinya perusahaan tersebut di Aceh Barat, tidak pernah terjadi pencemaran laut hingga merugikan nelayan.

“Perusahaan tambang yang beroperasi kan ada dua. Jadi mereka harus bertanggung jawab tentang masalah ini. Kan ada dana-dana menyangkut lingkungan itu. Mohonlah diberikan perhatian sedikit pada nelayan,” kata Samsi Barmi, ketua dewan sementara DPRK Aceh Barat saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (9/9/2019).

Samsi mengaku, pihaknya berkewajiban menyikapi masalah ini, karena dipilih oleh rakyat dan berbicara atas kepentingan rakyat. Selain itu, menurut Samsi, lembaga terkait perlu memastikan batu bara yang mencemari pantai itu milik siapa sehingga memperjelas duduk persoalannya.

“Ini lebih baik diperjelas dulu batu bara ini milik siapa. Pastinya ada dua. Ini perlu segera dilakukan jangan biarkan berlarut dan nelayan yang dirugikan,” katanya.

Pantauan aceHTrend, tumpahan batu bara masih mencemari pantai di Gampong Peunaga Rayek. Hingga Minggu sore (8/9/2019), tumpahan batu bara tersebut belum dibersihkan.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK