Kampus yang Terbelah

Saiful Akmal

Idealnya, kampus saat ini berada dalam posisi yang sebenarnya sangat strategis untuk menjadi obat bagi permasalahan yang dialami masyarakat atau menjadi solusi dari tantangan yang dirasakan pemerintah. Lebih jauh lagi, harusnya setelah dibangun berpuluh tahun sejak dari Darul Harbi ke Darussalam, kampus bisa menjadi mitra strategis bagi industri sekaligus menjadi pionir dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik di masa depan.

Ke semua hal di atas merupakan harapan yang kemudian dikembangkan dalam konsep integratif di mana akademia dan kampus menjadi elemen penting dalam model relasi triple helix (kampus – industri – publik), quadruple helix (kampus – industri – publik – pemerintah), dan quintuple helix (kampus – industri – publik – pemerintah – lingkungan).

Hari Pendidikan Daerah Aceh, 2 September 2019, adalah upaya melihat kembali sejarah bahwa kampus dan ilmu pengetahuan menjadi instrumen penting dalam menyelesaikan konflik secara jangka panjang. Namun yang terjadi setelah enam dekade (60 tahun) adalah, Universitas Syiah Kuala, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, dan STIK Chik Pante Kulu serta Akademi Pendidikan Dalam Negeri (APDN- sekarang pindah ke Lampinenung) tidak lagi merasa layaknya saudara.

Sinar Darussalam yang begitu menggelora, Robur dan Damri yang tidak pernah lupa mengantarkan mahasiswa ke kampus ternyata memang benar-benar tinggal kenangan. Disparitas, miskomunikasi, dan tentunya semangat untuk menjadikan kampus lebih relevan secara sosial sudah tertukar dengan semangat mengejar pemenuhan ekonomi, BLU, keakuan dan identitas diri, BLU, atau legalitas hukum. Kini kampus berubah menjadi sumber masalah, sumber konflik, dan sumber problematika bagi elemen lain. Ironi!

Peristiwa klaim/sengketa tanah dan tugu darussalam, kejadian tuduhan pencemaran nama baik, pemblokiran sepihak gerbang Darussalam, serta peristiwa mundurnya sejumlah dosen dari jabatan, sudah lebih dari cukup untuk secara gamblang menjelaskan apa sebenarnya yang sedang berkecamuk di Jantong Hate Aceh saat ini. Di dunia yang semakin terbuka dan saling terkoneksi, kampus Darussalam seolah melakukan hal yang sebaliknya, menjadi jauh dari open society dan kembali ke closed system of society with a more individualized of economic approach.

Mereka bekerja sendiri-sendiri dengan iming-iming pay for performance, sertifikasi dosen, dana penelitian, tunjangan kinerja, remunerasi, dan segala macam variannya. Di sisi lain, peraturan, SOP atau regulasi yang berlebihan dan tidak dilaksanakan menjadikan budaya saling tidak percaya (culture of mistrust) tumbuh subur dan pada akhirnya terjebak dengan rivalitas kompetisi antarindividu  yang sangat ingin saling mendahului, mengalahkan, dan pada satu momen, terkadang bisa saling menjatuhkan, menjelekkan atau melaporkan ke polisi.

Tidak berhenti di situ, the fragmented university, kalau boleh meminjam istilah tersebut, tidak lagi berpikir strategis. Kampus dengan segala instrumen dan civitas akademiknya yang semakin terbelah cenderung menjadi semakin mekanistik yang bekerja seperti robot untuk menghasilkan uang dan berorientasi produksi. Kampus menarik banyak mahasiswa, yang berarti semakin banyak uang. Kampus mengejar nilai akreditasi tinggi meski itu pada akhirnya (baik sengaja atau tidak) terpaksa  harus bohong dan mengarang (borang).

Kampus tunduk pada scopus dan segala instrumen menuju kepadanya, tidak punya pilihan atau menciptakan pilihan. Kampus menjadi semakin tidak kreatif dan semakin terpusat. Terkadang ada kalanya organ-organ kampus menjadi semakin otonom dan tidak bisa diatur, komitmen yang kurang untuk pembangunan kampus atau menolak untuk dikelola atas nama independensi dan kebebasan intelektual. Bisa-bisa malah menjadi sumber kontroversi keilmuan dengan sensasi media yang luar biasa. Dari tidak ada menjadi ada. Dari yang tidak boleh menjadi boleh. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Sebagai orang yang lahir, hidup, dan berkembang di kampus, tentunya apa yang disampaikan di sini seringkali tidak bisa serta merta menjadi sumber referensi akademik yang valid, apalagi disitasi oleh sesama penggila jurnal berakreditasi internasional. Namun melihat kampus saat ini seperti mundur berpuluh tahun ke belakang. Ketegangan disiplin antaraindividu dan institusi, antara meneliti dengan mengajar, antara kontrol diri dan kontrol eksternal, dan pada akhirnya antara manajer dengan intelektual di kampus. Sesama elemen dalam dan antara sesama kampus sudah tidak bisa saling memahami lagi. 

Kampus tidak lagi menjadi sumber academic excellence dan social relevance, sebaliknya menjadi tempat mendidik dosen dan mahasiswa yang tidak saling melihat dan membantu, alias invincible colleagues. Sebuah kenyataan pahit. Semoga saja kita bisa duduk bersama dengan posisi yang setara demi kampus yang bersatu (unified academy) dan bukan kampus yang terpecah belah (fragmented university). Jika tidak, maka sangat disayangkan.[]

Peneliti The Aceh Institute dan dosen UIN Ar-Raniry

KOMENTAR FACEBOOK