Menuju Aceh Carong

T. Qadarisman (Ist)

Oleh T. Qadarisman*

September, adalah bulan yang dinantikan oleh kaum berpendidikan di Aceh. Karena 60 tahun yang lalu, 02 September 1959 – 02 September 2019. Di mana Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam menjadi pusat sejarah dalam penguatan pendidikan di bumi serambi mekkah. Hal ini terbukti atas diresmikannya tugu Darussalam dan penandatanganan prasasti yang bertuliskan ‘Tekad Bulat Melahirkan Perbuatan Nyata, Darussalam Menuju Pelaksanaan Cita-Cita’ yang ditandatangani oleh Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno serta pada hari itu juga ditetapkan Hari Pendidikan Daerah yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Aceh almarhum Prof Ali Hashimy sebagai Gubernur Aceh saat itu yang didasari atas berdirinya Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala sebagai fakultas pertama di Darussalam.

Memaknai Pendidikan

Berbicara masalah pendidikan, salah satu visi-misi Pemerintah Aceh dengan slogan Aceh Carong di bawah Komando Irwandi Yusuf – Nova Iriansyah adalah upaya di mana untuk memajukan dan meningkatkan mutu pendidikan di Aceh. Program ini merupakan satu dari 15 program unggulan Pemerintah Aceh lainnya. Rencana ini telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh 2017 – 2022.

Dalam sebuah Buku Menyemai Kreator Peradaban. Karya Prof, Dr. Muhammad Nuh. Beliau menulis Pendidikan yang hebat adalah pendidikan yang mampu memanusiakan manusia lainnya. Maka untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya pelaksanaan pendidikan berkarakter di seluruh sektor pendidikan di Aceh. Maka melalui tulisan ini, penulis akan mencoba melihat beberapa faktor yang perlu diperhatikan, sebagai pijakan pengembangan mutu pendidikan Aceh ke depan.

Pertama, pembentukan pendidikan karakter yang merupakan salah satu tujuan dari pendidikan nasional. Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Tujuan pendidikan tersebut dibuat agar pendidikan itu tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau lebih berkarakter. Sehingga nantinya akan melahirkan generasi-generasi bangsa yang unggul, tumbuh dan berkembang dengan karakter yang bernafaskan nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Kedua, pendidikan emosional. Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara, tanpa diskriminasi dan dikotomi. Pemerintah telah menetapkan ketentuan, dengan alokasi dana minimal 20 persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Di Tahun 2019, Pemerintah Aceh telah memperioritas anggaran Pendidikan sebesar 2.7 Triliun. Kedua terbanyak setelah Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Serambi Indonesia).

Salah satu kekuatan pendidikan yang akan mampu mengubah mindset peserta didik adalah dengan pendekatan emosional. Guru-guru harus dilatih memahami psikologi peserta didik. Guru harus mampu membaca kemampuan tiap peserta didik. Pembelajaran yang terlalu dipaksa akan berujung pada depresi atau kejenuhan belajar. Ali Bin Abi Thalib Ra. berkata, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. Sungguh mereka akan menghadapi masa yang berbeda dari masamu”. Maka seorang pendidik harus mengetahui apa yang disukai oleh peserta didik agar terjadi keharmonisan dalam proses perjalanan pendidikan.

Ketiga, pendidikan spiritual. Nilai–nilai spiritual yang diajarkan di sekolah dalam bentuk pelajaran agama merupakan tonggak dan pilar dasar bagi pembentukan mental dan moral yang kokoh di tengah-tengah arus informasi dan globalisasi yang sangat cepat berkembang. Permasalahan mendasar yang terjadi pada generasi millenial saat ini adalah penyalahgunaan narkoba, tawuran, free sex. Untuk itu nilai–nilai spiritual memegang peranan yang sangat penting bagi perilaku kita di tengah masyarakat yang semakin individualis. Pendidikan spiritual merupakan benteng utama bagi penguasaan nafsu dan emosi.

Kegembiraan dan Kekecewaan

Pasca dilantiknya Muhajir Efendi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, beliau pernah menawarkan agar Ujian Nasional (UN) ditiadakan di Indonesia. Hal ini sempat membuat para pelajar dan publik gembira. Namun ide tersebut hanya bersifat wacana semata. Keputusan itu terpaksa dibatalkan karena pemerintah tidak menyetujui Ujian Nasional di moratorium. Kita paham bahwa Ujian Nasional dilaksanakan dengan tujuan baik, di antaranya agar siswa punya semangat belajar tinggi, mendorong penguasaan kompetensi, dapat dijadikan sebagai penilaian antar provinsi dan juga menjadi standar acuan Pendidikan Nasional.

Perlu kita ketahui, ada yang mengembirakan di sektor pendidikan Aceh di tahun 2019. Hasil kelulusan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMA, SMK, dan MA di Aceh mengalami kenaikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terjadi setelah Dinas Pendidikan Aceh melakukan bimbingan intensif ke seluruh kabupaten/kota sejak akhir tahun 2018 hingga April 2019, sehingga berhasil menaikkan peringkat Ujian Nasional (UN) dari sebelumnya berada di urutan ke-34 menjadi peringkat ke-27 secara nasional. Inilah prestasi yang bisa kita banggakan walaupun perlu adanya evaluasi untuk mendapatkan peringkat yang terbaik ke depan, Pertama.

Kedua, Beragam prestasi yang diraih dalam dua tahun terakhir ini merupakan keberhasilan bersama yang sangat luar biasa, salah satunya prestasi yang diraih adalah Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang digelar di Manado, Sulawesi Utara. Keberhasilan ini berkat usaha dan ketekunan siswa-siswi yang mewakili Provinsi Aceh di tingkat nasional,” Mereka adalah anak-anak yang mengikuti Olimpiade dengan meraih enam gelar juara pada perlombaan tingkat nasional tersebut.

Begitu juga, akhir-akhir ini kembali prestasi ditorehkan oleh generasi millenial Aceh. Pada saat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI Ke-74. Dua putra-putri terbaik Aceh mampu menjadi pasukan pengibar bendera di Istana Negara. meraka bergabung bersama teman teman lainnya di seluruh Indonesia. Dia adalah M. Faris Abqari, siswa MAN Insan Cendekia Aceh Timur dan Indrian Puspita Rahmadhani, siswi SMA Negeri 1 Bireuen. Inilah generasi hebat yang telah mengharumkan nama Aceh di Nasional.

*)Penulis mantan Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Kab. Bireuen 2015-2016. Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.

KOMENTAR FACEBOOK