Obituary: Mengenang Kahar

Almarhum Abdul Kahar Muzakkir @ist

Oleh Ahmad Mirza Safwandy*

Abdul Kahar Muzakkir, saya telah mengenalnya sejak lama. Dikha, istrinya masih terhubung kekerabatan dengan keluarga kami. Bang Kahar, begitu saya memanggilnya, saat itu ia masih menjabat Kepala Seksi (Kasi) Intelijen di Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh. Saya sering ke sana, selain pernah magang saat kuliah dulu, juga karena sahabat saya Raden Bayu Ferdian bertugas Kejari Banda Aceh.

Dulu, kami sering berdiskusi soal hukum dan banyak hal lain. Ia orang yang humble dan mudah bergaul. Setiap amanah yang ia emban merupakan potret kesungguhannya, semua proses jenjang karier ia jalani dengan gigih.

Lima tahun terakhir karena alasan kesibukan kami jarang bertemu. Beberapa kali mencoba janjian, tapi tak kunjung ketemu. Kadang tanpa sengaja di saat hari libur justru bertemunya di sebuah kedai kopi di Jalan Twk. Muhammad Daudsyah, ia bersama keluarga.

Terakhir saya memberi ucapan selamat kala ia di percayakan menjadi Kajari Simeulu. “Selamat Bang atas amanah baru. Barakallahu fiik,” kata saya medoakan. “Terima kasih banyak adoe atas doanya,” jawab Bang Kahar melalui pesan singkat.

Setelah itu kami tidak pernah lagi berkomunikasi. Pagi tadi kabar duka membuat saya terhenyak, sekitar pukul 08.30 WIB Bang Kahar meninggal dunia, Senin, 9 September 2019 di RSUZA Banda Aceh. Informasi duka itu menyebar dengan cepat hingga terkabar melalui WAG IKAKUM Unsyiah.

Memori silam kembali terekam mengingatnya. Bagi Bayu, Kahar bukan sekadar senior dan atasan di kantor, melainkan seperti teman dan abang. “Saya bukan hanya kehilangan senior yang baik, tapi kami juga kehilangan seorang abang yang mendidik,” lirih Raden Bayu Ferdian.

Sejak berkarier menjadi jaksa, Kahar pernah menoreh beberapa prestasi. Pada tahun 2012 ia mendapatkan penghargaan sebagai Jaksa Berprestasi se-Aceh.

Kamis, 1 Agustus 2019 lalu di Aula Kejati Aceh, ia dilantik bersama tiga kajari lainnya. Hari ini tepat 40 hari ia menjadi Kajari Simeulu, ajal memanggilnya sebelum kami menunaikan janji untuk bertemu. Di waktu duha ia menghadap Sang Khalik, ia pergi meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.

Matahari belum meninggi, tetapi mendung duka terus menyelimuti angkasa. Selamat jalan Bang, semoga Allah Taala berikan tempat yang tertinggi.[]


Founder Media aceHTrend

KOMENTAR FACEBOOK