Keluarga Kunci Meningkatkan Literasi bagi Anak

Rahmat Aulia

Oleh Rahmat Aulia*

Saya tengah duduk di warung kopi ketika melihat seorang anak bermain gawai. Di sebelah kiri dan kanan depan, ada ayahnya yang lagi serius mengobrol dengan teman-temannya.

Lantas saya berpikir, bukankah lebih bagus bila anak tersebut diberikan buku daripada gawai? Ketika ayahnya sibuk bercengkerama dengan teman-temannya, anak ini “disogok” agar tidak rewel dengan gawai. Fenomena yang lazim saya temui di banyak warung kopi di Banda Aceh. Kota dengan julukan negeri 1001 warung kopi.

Gegara melihat anak itu, saya jadi terus menoleh ke arahnya. Saya khawatir kalau dia menonton yang tidak pantas. Soalnya ketika saya perhatikan, ayahnya tidak sekali pun menoleh ke arahnya untuk mengecek apa yang sedang ditonton anaknya.

Kekhawatiran saya bukan tanpa alasan. Beberapa waktu yang lalu, sempat heboh terkait beredarnya sebuah video yang memperlihatkan seorang anak balita (bayi lima tahun) tengah menonton video porno di gawai orang tuanya. Kejadian ini terjadi di Banda Aceh dan direkam oleh seseorang ketika mereka sama-sama mengantre pada sebuah kantor kependudukan. Lantas video ini tersebar ke mana-mana. Dari rekaman tersebut, terlihat si ibu tidak memperhatikan apa yang sedang ditonton anaknya. Duh, miris sekali.

Terkait penggunaan gawai pada anak. Kejadian yang menyedihkan juga terjadi pada tetangga teman saya. Seorang anak yang masih berusia dua tahun tidak mau makan sebelum menonton video di YouTube. Untuk membuat sang anak mau makan, orang tuanya harus memberikan gawai dulu kepada anaknya. Duh!

Setiap tahun, penggunaan gawai di Indonesia terus meningkat. Mengutip data Hootsuite, populasi pengguna gawai per Januari 2018 mencapai 177,9 juta pengguna, dengan tingkat penetrasi mencapai 67%.

Kehadiran gawai telah menggantikan banyak hal. Permainan tradisional yang dulunya dimainkan anak-anak perlahan menghilang digantikan aneka permainan di gawai. Kehadiran gawai juga telah menciptakan jarak antara orang tua dan anak.

Padahal dalam masa tumbuh kembang anak, kedekatan orang tua dan anak haruslah diprioritaskan. Pada masa inilah nilai-nilai kejujuran, keberanian, simpati, empati, dan nilai sosial pada anak ditanamkan. Nilai-nilai yang seringnya luput diajarkan di sekolah tetapi akan sangat menentukan perilaku dan cara berpikir anak ke depannya.

Pada 2014, sebuah studi dilakukan para peneliti di Universitas California Los Angeles. Studi mengungkapkan, anak-anak yang melewatkan lima hari tanpa ponsel, televisi, atau komputer, mereka memiliki kemampuan membaca emosi yang lebih baik. Dibandingkan anak yang memiliki akses cukup banyak terhadap semua benda elektronik tersebut.

Studi lain di tahun 2010, menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam bermain gawai, memiliki masalah psikologis yang lebih tinggi. Studi mengenai paparan gawai pada balita juga menunjukkan dampak negatif, yang mengakibatkan mereka mengalami keterlambatan tumbuh kembang dan bicara.

Refleksi Hari Anak Nasional di Tengah Gempuran Gawai

Hari Anak Nasional (HAN) jatuh pada 22 Juli setiap tahunnya. Hampir setiap daerah menyambut dan memperingati HAN dengan meriah.

Jika kita lihat lebih jauh, maka dunia anak-anak pada saat ini kian terancam dengan hadirnya gawai. Ditambah dengan jumlah penduduk Indonesia yang begitu banyak sehingga menjadi target utama pemasaran gawai dari berbagai perusahaan telekomunikasi dunia.

Sejatinya setiap anak mempunyai hak yang harus mereka dapatkan, seperti hak untuk tidak terpapar atau kecanduan gawai, hak untuk mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua dan hak untuk mendapatkan pendidikan yang memadai.

Namun jika kita telisik lebih jauh, maka hak ini kian terabaikan seiring hadirnya gawai. Misalnya ada banyak kasus kecanduan gawai pada anak dan kian berjaraknya hubungan orang tua dengan anak.

Menjauhkan anak dengan melarangnya untuk tidak boleh menggunakan gawai sama sekali tentu bukanlah pilihan yang tepat. Biasanya ketika dilarang, anak akan semakin penasaran terhadap sesuatu hal, apalagi sudah sifat dasar manusia yang memiliki rasa penasaran.

Namun ada beberapa cara yang bisa diterapkan orang tua guna mencegah kecanduan gawai pada anak. Pertama, adanya aturan yang dikomunikasikan atau disepakati kapan dan berapa lama anak boleh bermain gawai. Kedua, adanya pengawasan orang tua terhadap anak, bagusnya gawai dalam penguasaan orang tua sehingga anak harus meminta izin jika akan menggunakannya. Terakhir, adanya keteladanan orang tua dalam menggunakan gawai, jangan sampai orang tua melarang anaknya menggunakan gawai tetapi ia sendiri sibuk bermain gawai.

Saya sendiri cenderung lebih suka sedia payung sebelum hujan. Artinya awasi anak sedari dini agar tidak kecanduan gawai, misalnya dengan menumbuhkan rasa cinta terhadap buku.

Buku mempunyai banyak sekali manfaat dalam menemani tumbuh kembang anak. Adanya kebiasaan membaca buku sejak dini akan membuat anak menjadi seorang yang berpikir kritis, mempunyai wawasan yang luas,  pemikiran yang terbuka serta terlatih untuk tidak terbiasa mendapatkan sesuatu secara instan.

Orang tua mempunyai peran penting dalam membentuk kebiasaan ini. Salah satunya, orang tua harus menyediakan waktu khusus untuk bermain dan mengajari anak membaca serta menulis. Saya ingat ketika masih kecil, setelah magrib kami semua harus berkumpul di ruang keluarga. Di sini, ayah akan mengajari kami mengaji. Setelah mengaji, kami akan mengobrol seputar aktivitas seharian tadi jika tidak ada PR (pekerjaan rumah) yang harus dikerjakan.

Semua anggota keluarga ikut terlibat dalam acara ini. Tidak ada yang boleh menonton televisi yang saat itu menjadi satu-satunya hiburan bagi kami. Aktivitas ini berlangsung setelah salat Magrib hingga menjelang waktu Isya.

Pada waktu ini juga, saya menggunakannya untuk membaca beberapa buku yang dipinjam kakak dari perpustakaan sekolahnya. Kebanyakan adalah novel teenlit terbitan lama. Namun saya tetap membacanya. Maklum, kami lahir dan tinggal di sebuah dusun kecil di mana saya tidak bisa mengakses buku-buku bacaan. Kejadian ini sudah berlangsung 15 tahun silam. Namun kebiasaan membaca terus terbawa hingga saat ini.

Hal yang sama rupanya juga berlaku pada keluarga teman saya. Ayahnya membuat satu ruangan belajar yang dilengkapi dengan rak buku agar anak-anaknya mencintai buku sejak dini. Setelah magrib hingga waktu isya semua anggota keluarga wajib berkumpul di sini. Apakah mengerjakan PR, mengaji, membaca, atau aktivaitas lainnya. Dari kebiasaan inilah membuat teman saya ini jadi begitu akrab dengan buku. Bahkan saya melihat di tempat tinggalnya ada banyak sekali buku dari berbagai genre.

Kebiasaan membaca sejak dini yang diterapkan keluarganya membuat kakak dan abangnya berhasil menempuh studi di kampus terbaik dunia. Sering berinteraksi dengannya, saya juga melihat ia berpikiran terbuka dan kritis.

Sejalan dengan apa yang orang tua dan teman saya terapkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas juga membuat gerakan 1820. Gerakan 1820 adalah ajakan menjauhkan telepon seluler dari jangkauan orang tua dan anak dari pukul 18.00 s.d 20.00. Melalui gerakan ini diharapkan orang tua mempunyai waktu khusus dengan anak-anak dalam membersamai tumbuh kembang mereka.

Melihat fenomena kecanduan gawai pada anak, melalui gerakan ini diharapkan meminimalisir penggunaan gawai berlebihan pada anak sehingga anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.

Pada akhirnya semoga semakin banyak orang tua yang paham akan bahaya gawai bagi anak. Tidak memberikan gawai secara sembarangan bagi anak karena gawai akan jadi virus mematikan bagi tumbuh kembangnya.

Bukankah setiap orang tua ingin anaknya tumbuh menjadi insan yang cerdas, kritis, dan punya rasa sosial yang tinggi? Kalau iya, yuk sediakan waktu khusus bagi mereka dan buat anak mencintai buku sedari dini.[]

Penulis adalah seorang bloger dan santri di Dayah Ulee Titi, Aceh Besar

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK