Bandara Adisutjipto, Gerbang Jogja dengan Tiga Bahasa

Laporan Muhajir Juli

Bahasa menunjukkan bangsa, begitulah pepatah Melayu menyebutnya. Bandara Internasional Adisutjipto, Jogjakarta, menerapkan itu. Begitu pesawat landing di aspal dan para penumpang turun, kesan Jawa segera menyambut, melalui bentuk bangunan, tulisan dan juga bahasa.

Ketika rombongan wartawan dari Aceh, Rabu Kamis (12/9/2019) menapak di terminal kedatangan, segera terdengar suara petugas bandara dalam tuga bahasa, yaitu Jawa, Indonesia dan Inggris.

Sulaiman, Pemimpin Umum Harian Rakyat Aceh-Group Jawa Pos– tersenyum dan segera berbisik kepada saya. “Mereka menggunakan tiga bahasa.”

Awalnya saya tidak begitu peduli, karena lebih sibuk memperhatikan bentuk bangunan bandara yang kental dengan ornamen Jawa. Tapi, setelah Sulaiman berbisik, saya segera memasang telinga. Tidak lama kemudian tersenyum.

“Hmm, pendekatan lokal yang luar biasa,” ujar saja sembari membetulkan ransel di punggung.

Sejak turun dari pesawat, di bawah sengatan sinar matahari yang terik, saya lebih fokus pada ornamen. Juga tulisan sugeng rawuh di pintu masuk terminal.

Bandara ini, berstatus internasional. Hal ini kiranya pantas, karena manusia lintas negara memang terlihat lalu lalang, walau tidak sepadat di Bandara Soekarno Hatta, Banten. Pun demikian, manusia Indonesia dengan wajah Jawa, adalah yang paling dominan. Juga orang-orang Indonesia Timur yang silih berganti berpapasan dengan kami.

Kedatangan kami ke Jogja dalam rangka menghadiri acara: Pelatihan dan Gathering Media Massa KR 5 Sumatera Bagian Utara, yang digelar oleh Otoritas Jasa Keuangan. Kegiatan ini digelar di Hotel Phoenix, Jogjakarta.

Di hotel ini suasananya pun sangat kental dengan budaya Jawa. Gedung hotel yang bergaya Eropa tempo dulu, dipenuhi dengan simbul budaya Jawa di berbagai sudutnya.

Sebelum tiba di hotel, kami juga dibawa makan siang ke sebuah rumah makan Lombok Ijo. Hmm, sambalnya sangat pedas. Saya yang sejak beberapa bulan ini sedang mengurangi asupan karbohidrat, tanpa sadar telah terlalu banyak makan nasi, hanya karena ingin menghilangkan rasa pedas sambal ijo. Warung yang juga dibalut dengan ornamen Jawa sangat ketat soal asap rokok. Perokok hanya diperbolehkan menyundut di bagian luar bangunan utama.

Penulis adalah CEO aceHtrend.

KOMENTAR FACEBOOK