ARC Unsyiah Berkomitmen Jadi Bank Atsiri

Ketua ARC PUI Unsyiah Syaifullah Muhammad @aceHTrend/Ihan Nurdin

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Atsiri Research Center (ARC) Pusat Unggulan Iptek (PUI) Nilam Universitas Syiah Kuala berkomitmen menjadi bank atsiri di Indonesia. Beberapa minyak atsiri yang saat ini telah dihasilkan ARC, yaitu nilam, minyak kayu putih, pala, cempaka, serai wangi, dan cengkeh.

Kepala ARC-PUI Unsyiah, Syaifullah Muhammad mengatakan, pengolahan minyak atsiri potensial dikembangkan di Aceh untuk mendongkrak perekonomian masyarakat. Dengan begitu masyarakat khususnya petani tidak hanya mengandalkan hidupnya pada satu komoditas pertanian saja.

Ia mencontohkan, untuk minyak atsiri kayu putih saja harga jualnya mencapai Rp250 ribu per kilogram, minyak pala Rp800 ribu per kilogram, serai wangi Rp200 ribu per kilogram, dan atsiri bunga mawar yang mencapai Rp30 juta per kilogram.

“Sedangkan untuk bunga cempaka atau bunga jeumpa itu harganya mencapai Rp8 juta perg kilogram,” ujar Syaifullah Muhammad kepada aceHTrend, Senin (10/9/2019).

Hanya saja kata dia, untuk beberapa komoditas atsiri seperti halnya bunga cempaka memang sangat kesulitan untuk mendapatkan bahan baku karena membutuhkan jumlah yang sangat besar. Ia mencontohkan, untuk menghasilkan 1 kg atsiri bunga mawar, membutuhkan bahan baku setidaknya 30 ton bunga. Sedangkan untuk atsiri serai wangi, per 100 kg bahan baku menghasilkan antara 1-3 kg atsiri.

“Di sinilah sebenarnya pemerintah bisa lebih berperan sehingga kita bisa saling berkolaborasi. Pemerintah bisa membuat program-program pengembangan budi daya bahan baku yang bisa menghasilkan minyak atsiri,” ujarnya.

Aneka atsiri yang telah diproduksi di ARC-PUI Unsyiah @aceHTrend/Ihan Nurdin

Di sisi lain kata Syaifullah, ada juga bahan baku yang selama ini melimpah dan terbuang percuma karena belum dimanfaatkan sama sekali.

“Contohnya seperti cengkeh. Atsiri cengkeh itu diambil dari daunnya yang sudah kering, bukan dari cengkehnya. Inikan selama ini belum ada yang melirik, daun cengkeh yang sudah kering itu terbuang percuma saja,” kata dosen Teknik Kimia Unsyiah itu.

Selain yang disebutkan di atas, beberapa bahan baku lainnya yang mudah ditemukan di Aceh dan potensial dijadikan atsiri seperti kulit jeruk, jeruk purut (boh kruet), kopi, hingga daun teumurui atau daun kari yang bisa digunakan untuk keperluan industri makanan.

Proses penyulingan minyak atsiri di ARC-PUI Unsyiah @aceHTrend/Ihan Nurdin

Bila cita-cita ini terwujud kata Syaifullah, Aceh bisa menjadi salah satu daerah penghasil minyak atsiri. ARC sebagai lembaga Pusat Inovasi Iptek akan terus melakukan riset dan inovasi-inovasi di bidang tersebut untuk mendampingi masyarakat. Apalagi saat ini pengembangan nilam Aceh telah masuk dalam program prioritas nasional dalam rentang waktu 2020-2025. Ini merupakan kesempatan besar bagi Aceh untuk mengembangkan atsiri lainnya.

ARC Unsyiah kata Syaifullah juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyuling sendiri atsiri yang ingin mereka hasilkan di ketel milik ARC. Masyarakat bisa datang ke ARC dengan membawa bahan baku dan melakukan prosesnya sendiri.[]

KOMENTAR FACEBOOK