Ahli Geologi Tawarkan Solusi Atasi Kekeringan Mata Ie

Kondisi kolam Mata Ie di Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar yang kering. @aceHTrend/Taufik Ar-Rifai

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Geolog Abdillah Imron Nasution menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi kolam Mata Ie di Aceh Besar yang mengalami kekeringan. Kondisi ini kata dia terjadi karena fungsi mata airnya sudah berubah. Dulu kata Abdillah, kolam tersebut menjadi sumber mata air yang mengalir sepanjang tahun, sekarang mengandalkan pada hujan.

“Ini menjadi masalah serius dikarenakan kondisi karst yang sudah kronis harus segera dipulihkan. Tujuannya agar mata air kembali mengalir sepanjang tahun sehingga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Abdillah Imron Nasution saat dihubungi aceHTrend, Sabtu (14/9).

Mahasiswa Ph.D di Bioscience Kampus Northern Federal University, Rusia ini menjelaskan, karst merupakan kawasan yang berisi gua dan sistem air bawah tanah yang luas. Untuk memulihkan karst Mata Ie kata Abdillah, ada beberapa solusi alternatif.

Pertama, perlu dilakukan pencegahan agar vegetasi asli kawasan Mata Ie yang belum mengalami kerusakan tidak terganggu.

“Karena ini bukan hanya kolam Mata Ie sebagai sumber air. Di kawasan ini juga ada mata air pintu air yang sejak tahun 2006 kering. Kawasan ini berhubungan dengan lahan karst Lhoknga sehingga perlu upaya penyelamatan terpadu yang meliputi kawasan itu,” ujar Abdillah.

Selanjutnya, Pemerintah Aceh harus membuat aturan untuk melarang aktivitas pengambilan batu dan kayu di daerah-daerah yang mengalami degradasi parah. Ini dikarenakan penggunaan air diutamakan untuk kebutuhan primer masyarakat dengan mempertimbangkan daya dukung air Mata Ie hingga 20 tahun ke depan.

Kemudian ia berharap agar Pemerintah Aceh segera membuat peraturan dan sanksi wajib dilaksanakan sesegera mungkin untuk mendorong kepatuhan. Begitu juga lahan Mata Ie yang miring lebih dari 25 derajat dialihkan menjadi hutan dengan penanaman pohon berbuah, yang ditanam di beberapa daerah yang terindikasi adanya sinkhole atau aliran air perguaan. Menurutnya, Lahan dengan kemiringan lebih dari 25 derajat diketahui sebagai daerah yang berpotensi merevitalisasi air.

“Begitu juga dengan lereng bukit dibuat bertingkat-tingkat untuk mempertahankan kelembaban dan memperluas water catchment area atau wilayah tangkapan air. Water catchment alami dibangun dengan mempertimbangkan jaringan 12 sistem perguaan di Mata Ie, untuk mengumpulkan curah hujan dan menyediakan air tambahan,” ujarnya lagi.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK