Perkembangan Bank Waqaf Mikro Sangat Mengembirakan

ACEHTREND.COM,Yogyakarta- Pertumbuhan Bank Waqaf Mikro (BWM) di Indonesia sangat mengembirakan. Trendnya terus menunjukkan grafik peningkatan. Hingga kini telah tumbuh 52 BWM di seluruh Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Pengawasan Keuangan Mikro Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Suparlan, saat memberikan penjelasan pada pembukaan acara: Pelatihan dan Gathering Media Massa KR 5 Sumatera Bagian Utara, Kamis (12/9/2019) malam. Kegiatan ini digelar di Hotel Phoenix, Yogyakarta.

Suparlan menjelaskan, BWM merupakan nama lain dari Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang berbasis syariah. Digagas pertamakali oleh Presiden RI Ir. Joko Widodo, sebagai upaya untuk memberikan bantuan modal usaha kepada rakyat Indonesia di lapisan paling bawah, dengan basis pengelolaannya di pesantren.

Sumber pendanaan berasal dari sedekah individu dan sifatnya hibah. Penerima manfaat mendapatkan dana hibah yang pengelolaannya di bawah kendali sebuah unit yang dikelola oleh pesantren. Pengguna dana hibah hanya dikenakan biaya imbal jasa senilai 3% dan sifat pengelolaan personal dengan pembinaan terus menerus.

“Masyarakat yang ingin mendapatkan dana ini harus membentuk kelompok minimal 5 dan maksimal 10 orang per kelompok. Sifat tanggungjawabnya tanggung renteng. Ada pembinaan intensif sebanyak lima kali pertemuan sebelum dana tersebut digulirkan. Pendanaan awal sebanyak Rp1 juta per orang. Dana tersebut dikelola individu, yang akan dikembalikan secara cicilan mingguan. Setiap minggu juga digelar halaqoh mingguan sebagai upaya memperkuat pendidikan agama bagi kelompok tersebut,” ujar Suparlan.

Pendanaan program BWM dikumpulkan di Bank Syariah Mandiri yang kemudian diampu oleh tim Lasnas Bank Syariah Mandiri. “Uang tersebut, walau sifatnya hibah, tidak serta merta diberikan. Tim akan melakukan survey terhadap pesantren yang mengajukan diri untuk program tersebut. Kemudian bila memenuhi syarat, akan ditindak lanjuti dengan pendirian BWM, pelatihan kepada pengurus BWM, pengelola program serta kepada pendamping. Pendamping juga akan mendampingi pelaksanaan program selama enam bulan.

Suparlan yakin program tersebut akan mampu membangkitkan ekonomi umat di basis paling bawah. Dengan jumlah umat Islam yang mayoritas, serta jumlah pesantren yang mencapai 28 ribu unit, 800 ribu mesjid dengan lebih 33 ormas Islam, program tersebut akan sukses.

“BWM bukan bank. Itu harus dipahami dengan baik. Ini ikhtiar untuk membantu permodalan bagi pelaku ekonomi mikro yang jumlahnya mencapai 92 juta lebih. Bandingkan dengan usaha besar yabg hanya 0,01 %. Betapa besarnya peluang tumbuh BWM di tengah-tengah masyarakat,” imbuh Suparlan.

KOMENTAR FACEBOOK