Pesantren Al Munawwir, Digandeng OJK Memberdayakan Umat

Ponpes Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Pesantren ini berdiri sejak 1911. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

Berdiri sejak 1911 di era masih bercokolnya Pemerintah Hindia Belanda, Pesantren Al Munawwir bukan saja berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam. Tapi juga tempat para santri belajar menjadi bagian dari masyarakat sosial. Kini, pesantren tersebut dipercaya oleh Otoritas Jasa keuangan (OJK) sebagai bagian dari mitra untuk program Bank Wakaf Mikro (BWM) yang dikelola di bawah nama BWM Al Muna Berkah Mandiri.

Minggu, 14 September 2019, aceHTrend dan sejumlah wartawan dari lima propinsi di Sumatera Bagian Utara, berkesempatan berkunjung ke Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kehadiran para wartawan dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, dan Sumatera Barat, dalam rangka kegiatan: Pelatihan dan Gathering Media Massa KR 5 Sumatera Bagian Utara, yang diselenggarakan di Hotel Phoenix, Yogyakarta dari 12-15 September 2019.

Kunjungan aceHtrend dan puluhan wartawan lainnya ke sana, dalam rangka meninjau Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Syariah yang oleh Presiden Jokowi menyebutnya Bank Waqaf Mikro (BWM) Syariah yang diasuh oleh OJK. BWM Al Muna Berkah Mandiri, merupakan salah satu LKM Syariah di Indonesia yang sukses menjalankan misinya memberdayakan umat kelas bawah.

Pesantren yang Terbuka

Dalam sambutannya di depan para wartawan dan perwakilan OJK, salah seorang pengasuh Ponpes Al Munawwir Kyai H. Fairuzi Afiq, menjelaskan bahwa sejak awal didirikan pesantren tersebut tidak menutup diri untuk terhubung dengan masyarakat sekitar pondok. Para santri yang datang dari berbagai daerah, diberikan kemudahan, berupa boleh berbelanja di berbagai warung di luar pondok. Bahkan santri juga dibenarkan menggunakan jasa warga sekitar untuk mencuci pakaian mereka.

“Ini pesan leluhur pendiri Pesantren Al Munawwir. Pengasuh dan santri diamanahkan untuk berinteraksi dengan masyarakat. Untuk itu, santri dibebaskan untuk berbelanja makanan dan sebagainya di luar pagar ponpes. Bahkan untuk mencuci pakaian juga dibolehkan dilakukan oleh warga sekitar,” ujar Kyai H. Fairuzi Afiq.

Santri Ponpes Al Munawwir Krapyak, sedang bersantap di sebuah warung di depan pondok tersebut. Interaksi antara warga pesantren dan masyarakat sekitar pondok sudah berlangsung sejak lama. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

Dia melanjutkan, dengan keterbukaan yang demikian, ada guyonan bila di Pesantren Al Munawwir, lebih besar biaya jajan ketimbang biaya pendidikan.

Interaksi yang terbangun secara alamiah tersebut, berdampak pada kegiatan pesantren yang mendapatkan dukungan masyarakat. Salah satunya adalah ketika OJK dan Ponpes Al Munawwir membuka BWM Al Muna Berkah Mandiri pada Rabu (18/11/2017). Masyarakat, setelah diberikan pemahaman tentang LKM Syariah tersebut, beramai-ramai ikut serta bergabung ke dalamnya.

Terus Bertumbuh untuk Kelompok Kecil

Ketua BWM Al Muna Berkah Mandiri Eka Kartika Sari, M. Sc., menjelaskan, sejak didirikan dua tahun lalu, hingga saat ini, masyarakat kelas kecil yang bergabung sudah sebanyak 730 orang. Sampai Minggu (14/9/2019) BWM tersebut sudah membiyaia kegiatan ekonomi masyarakat senilai 1,272 miliar Rupiah.

“Awalnya ini pilot project dari OJK. BWM Al Muna Berkah Mandiri juga masih satu-satunya LKM Syariah yang memiliki kluster batik,” ujar Eka Kartika Sari.

ia menjelaskan, pada awal program, LKM Syariah yang ia pimpin hanya diberikan kewenangan mengelola masyarakat di satu kecamatan. Akan tetapi, setelah melihat perkembangan yang luar biasa, lembaga keuangan mikro yang ia pimpin, diberikan kewenangan oleh OJK untuk mengelola satu kabupaten yaitu Bantul.

“Sejak 2018, Alhamdulillah kami dipercaya mengelola satu kabupaten,” ujarnya sembari menayangkan slide kemajuan LKM yang ia pimpin.

Ketua BWM Al Muna Berkah Mandiri Eka Kartika Sari. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

Saat ini, kluster yang dikelola di bawah LKM Al Muna Berkah Mandiri terdiri dari angkiran/cemilan, batik, kerajinan, loundry dan menjahit.

Tantangan saat ini menurut Eka adalah persoalan pemasaran. Untuk menjawab hal tersebut, pihaknya dengan bekerjasama dengan pihak lain, telah membangun platform online bernama Almunakrapyak.com. Di situs online tersebut, para anggota memiliki akun masing-masing dan bebas memasarkan produk yang telah dihasilkan.

Pada kesempatan tersebut, Eka juga menjabarkan, bila konsep menjalankan LKM tersebut dimulai dari mapping kelompok sasaran. Kemudian melakukan pendekatan dan menawarkan kerjasama. Sebelum dana dicairkan, calon nasabah akan mendapatkan pelatihan serta kemudian pendampingan.

Untuk tiap nasabah, pinjaman yang diberikan masing-masing Rp 1 juta Rupiah, yang dibayar setiap satu minggu sekali. Pinjaman tersebut tidak memerlukan agunan. Hanya saja, tiap nasabah digabung dalam satu kelompok, yang tiap kelompok dibatasi lima orang saja. Dalam satu juta pinjaman/tahun, nasabah hanya membayar biaya administrasi sebesar 3 % dari total pinjaman, yaitu hanya Rp 30 ribu Rupiah.

“Ini lembaga non provit. Angsuran pun sampai 40 sampai 50 kali. Dibayar seminggu sekali pada halaqah mingguan. Halaqah tersebut, selain pertemuan untuk membayar iuran, juga sebagai media belajar bersama, baik peningkatan pengetahuan agama, maupun lainnya.

“Ke depan, untuk pembiayaan tahun kedua, akan diberikan 1,5 sampai 2 juta Rupiah per orang. Ada juga yang kami hentikan karena tidak memiliki etos yang baik. Bila ada yang menunggak, akan ditanggung renteng oleh sesama anggota.”

Mengelola kelompok ekonomi yang mendapatkan bantuan keuangan, bukanlah pekerjaan mudah. Eka mengakui itu. Ia mengatakan ada juga personal yang enggan membayar iuaran, tentu dengan berbagai alasan. Untuk yang demikian, pihak Al Muna akan melakukan pendekatan kekeluargaan. Setelah lunas, yang bersangkutan tentu akan masuk daftar hitam yang tidak bisa lagi meminjam uang dari lembaga yang ia pimpin.

Terasa Sangat Membantu

Kehadiran BWM Al Muna Berkah Mandiri, diakui manfaatnya oleh dua pembuat batik asal Wukirsari, Imogiri, Bantul. Mereka adalah Wasihatun (54) dan Siti Aisah (50). mereka bergabung di dalam kluster batik Paguyuban Batik Giriloyo.

Usaha mereka di bidang batik hancur total paska musibah gempa Yogya pada tahun 2006. Setelah itu, mereka mendapatkan bantuan dari lembaga swadaya masyarakat.

Tahun 2018 mereka bergabung sebagai nasabah BWM Al Muna Berkah Mandiri. Mereka bergabung pada September. Pada Oktober tahun yang sama diikutkan pameran di Jakarta oleh OJK Pusat.

Wiwik (50) salah seorang nasabah BWM Al Muna Berkah Mandiri. ia bergabung dalam kluster batik. Harga batik yang ia produksi berkisar 400 sampai 1 juta Rupiah. tergantung motif dan kualitas kain yang digunakan. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

“Pinjaman memang kecil. Tapi sangat berguna untuk pengembangan usaha kami dalam membatik. Apalagi di luster kami ada anggota seluruhnya 40 orang. per orang 1 juta. Berarti ada dana 40 juta. kami bisa sharing untuk membeli bahan batik setengah jadi. kemudian kami warnai bareng-bareng,” ujar keduanya.

Perkembangan BWM Kian Positif

Pertumbuhan Bank Waqaf Mikro (BWM) di Indonesia sangat mengembirakan. Trendnya terus menunjukkan grafik peningkatan. Hingga kini telah tumbuh 52 BWM di seluruh Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Pengawasan Keuangan Mikro Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Suparlan, saat memberikan penjelasan pada pembukaan acara: Pelatihan dan Gathering Media Massa KR 5 Sumatera Bagian Utara, Kamis (12/9/2019) malam. Kegiatan ini digelar di Hotel Phoenix, Yogyakarta.

Suparlan menjelaskan, BWM merupakan nama lain dari Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang berbasis syariah. Digagas pertamakali oleh Presiden RI Ir. Joko Widodo, sebagai upaya untuk memberikan bantuan modal usaha kepada rakyat Indonesia di lapisan paling bawah, dengan basis pengelolaannya di pesantren.

Sumber pendanaan berasal dari sedekah individu dan sifatnya hibah. Penerima manfaat mendapatkan dana hibah yang pengelolaannya di bawah kendali sebuah unit yang dikelola oleh pesantren. Pengguna dana hibah hanya dikenakan biaya imbal jasa senilai 3% dan sifat pengelolaan personal dengan pembinaan terus menerus.

Dua wartawan Aceh sedang mewawancarai salah seorang pengurus BWM Al Muna Berkah Mandiri di kantor LKM tersebut. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

“Masyarakat yang ingin mendapatkan dana ini harus membentuk kelompok minimal 5 dan maksimal 10 orang per kelompok. Sifat tanggungjawabnya tanggung renteng. Ada pembinaan intensif sebanyak lima kali pertemuan sebelum dana tersebut digulirkan. Pendanaan awal sebanyak Rp1 juta per orang. Dana tersebut dikelola individu, yang akan dikembalikan secara cicilan mingguan. Setiap minggu juga digelar halaqoh mingguan sebagai upaya memperkuat pendidikan agama bagi kelompok tersebut,” ujar Suparlan.

Pendanaan program BWM dikumpulkan di Bank Syariah Mandiri yang kemudian diampu oleh tim Lasnas Bank Syariah Mandiri. “Uang tersebut, walau sifatnya hibah, tidak serta merta diberikan. Tim akan melakukan survey terhadap pesantren yang mengajukan diri untuk program tersebut. Kemudian bila memenuhi syarat, akan ditindak lanjuti dengan pendirian BWM, pelatihan kepada pengurus BWM, pengelola program serta kepada pendamping. Pendamping juga akan mendampingi pelaksanaan program selama enam bulan.

Suparlan yakin program tersebut akan mampu membangkitkan ekonomi umat di basis paling bawah. Dengan jumlah umat Islam yang mayoritas, serta jumlah pesantren yang mencapai 28 ribu unit, 800 ribu mesjid dengan lebih 33 ormas Islam, program tersebut akan sukses.

“BWM bukan bank. Itu harus dipahami dengan baik. Ini ikhtiar untuk membantu permodalan bagi pelaku ekonomi mikro yang jumlahnya mencapai 92 juta lebih. Bandingkan dengan usaha besar yabg hanya 0,01 %. Betapa besarnya peluang tumbuh BWM di tengah-tengah masyarakat,” imbuh Suparlan. []

KOMENTAR FACEBOOK