Habibie, Ayah dan Kenangan Lama

Dr. Hendra Syahputra*

SAYA masih benar-benar ingat saat pertama kali melihat sosok Pak Habibie. Kala itu, saya ikut seleksi Program Mahasiswa Berprestasi Indonesia tahun 1997-1998. Salah satu event dalam kegiatan itu adalah memperkenalkan pesertanya lebih dekat pada wawasan Nusantara. Saya beserta teman-teman yang terlibat, berlayar bersama di dalam kapal laut milik TNI Angkatan Laut dalam bentuk Jambore Teknologi Indonesia.

Saat itu kami diajarkan tentang kepulauan Indonesia dan wawasan Nusantara. Host kegiatan adalah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sebuah lembaga pemerintah non Departemen Indonesia yang berada di bawah koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi (kini Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia). Kementerian yang memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan teknologi.

Bersama teman-teman seluruh Indonesia, menumpang kapal besar dan keliling pulau-pulau cantik di Indonesia, mulai dari Sabang, tentu bukan pengalaman sederhana. Apalagi berkesempatan mengikuti kegiatan bersama dengan para tokoh-tokoh penting di Indonesia. Saya senang, girang.

Yang lebih membuat saya girang lagi adalah ada seorang tokoh Indonesia yang sangat saya idolakan, Prof.Dr. BJ Habibie, turut dalam pelayaran kapal tersebut. Seorang putra bangsa kebanggaan Indonesia, pendiri industri pesawat terbang pertama di Indonesia dan Asia Tenggara.

Saya mengenal nama Pak Habibie saat saya duduk di kelas 6 SD, di tahun 90-an. Almarhum Ayah saya-lah yang pertama kali memperkenalkan sosok itu pada saya. Bukan bertemu langsung, namun mengenalkannya melalui media televisi dan surat Kabar.

Pak Habibie juga diidolakan oleh almarhum Ayah dan Mama saya. Dari mereka, saya mendengar kisah hebat seorang Pak Habibie, setiap kali menyemangati saya untuk belajar keras bila ingin sukses dan berhasil menggapai cita-cita.

Setiap bercerita tentang sosok Habibie, bola mata kedua orang tua saya berbinar-binar. Mereka terlihat sangat senang sekali. Tersirat, setiap bercerita, mereka seperti turut bangga Indonesia memiliki seorang teknokrat yang hebat, berkualitas dan baik hati itu.
Selain mendengar kisah dari Ayah dan Mama, saya juga terbantu oleh mereka untuk membaca semua informasi terkait Pak Habibie melalui surat kabar dan majalah. Saat saya SD dan SMP, satu-satunya televisi Indonesia, TVRI, rajin sekali memberitakan kisah-kisah keberhasilan dan kemajuan kinerja Pak Habibie.

Ayah memperkenalkan sosok Habibie melalui caranya sendiri pada saya. Kadang dalam diskusi kecil sepulang dari kantor, kadang bercerita di depan anggota keluarga lain, dan kami mendengar. Sementara Mama dan Abang saya, orang yang rajin mengkliping foto dan berita tentang beliau lalu menempelkannya di kertas HVS ukuran kwarto dan memberikan kumpulannya kepada saya, untuk dibaca. Saat itu Ayah berlangganan surat kabar nasional, Kompas. Selain Harian Kompas, dan surat kabar lokal plus majalah anak-anak untuk saya dan adik-adik. Pak Habibie sering sekali muncul dengan foto-fotonya saat berkunjung ke luar negeri di koran dan majalah yang dilanggan Ayah.

Jika Pak Habibie muncul di televisi, seperti acara Dunia Dalam Berita (DDB) di TVRI, Ayah memanggil saya yang sedang belajar di kamar. Jadwal belajar saya dibolehkan break, lalu saya dipersilakan menonton sebentar. Entah kenapa Ayah seperti ingin betul mengenalkan sosok itu kepada saya. Jika TVRI membuat Laporan Khusus tentang lawatan luar negeri Presiden Soeharto dan Pak Habibie ada di dalam rombongan itu, maka saya dipersilakan Ayah menonton full. Biasa tayangan itu ada di malam Minggu. Jadi saya boleh menontonya sampai selesai, mulai pukul 21.00 sampai 22.00 WIB.

Sejak saat itu, sosok Pak Habibie menjadi bagian motivasi saya untuk belajar. Ada yang menarik cara saya menyemangati diri dalam belajar saat itu. Saya meletakkan foto Ayah di sebelah sampul buku. Setiap kali saya membuka buku, ada foto Ayah sebagai motivasi. Lalu ada foto Mama di sampul buku bagian dalam akhir sebelum buku ditutup. Saya ingin selalu kerja keras dan merasa selalu dalam doa Mama.
Lalu, uniknya saya punya foto Pak Habibie sebagai pembatas buku. Saya merasa ada motivasi di balik itu. Di belakang foto Pak Habibie, kakak saya Dini menempelkan rumus-rumus kimia, untuk saya hafalkan. Kakak saya seorang Sarjana Kimia, ia juga mengidolakan Habibie.

Demikianlah sosok Pak Habibie “masuk” dalam lingkungan keluarga kami saat itu. Saya seperti meyakini, Insya Allah, ia tidak hanya dikenal dalam keluarga kami, juga dalam keluarga yang lain. Setelah dewasa, saya mengenal sosok tersebut dari banyak sumber.

Bagi saya, Pak Habibie tidak saja seorang teknokrat. Ia juga seorang suami dan ayah yang luar biasa. Banyak orang memujinya karena kemampuan belajar dan kejeniusannya dalam urusan sains dan teknologi. Kecintaanya pada keluarga, tentu bisa “dibaca” dari kisah-kisah inspiratifnya bersama Ibu Ainun, istrinya. Tetapi iya juga menjadi sosok yang lemah lembut dan memiliki adab yang baik. Tidak hanya pada keluarganya, tetapi juga pada bangsa melalui peran dan karyanya. Ia menjadi sosok konsisten pada apa yang diperjuangkannya sejak muda sampai akhir hayatnya.

Semua orang tahu, tidak mudah bagi Pak Habibie menjalankan roda kepemimpinan di Indonesia. Ia hanya menjabat 17 bulan saja. Beban amanah yang diberikan kepadanya juga tidak enteng. Ia banyak diprotes orang-orang yang tidak sepaham dengan visi dan misi perjuangannya.
Saat itu Indonesia sedang menghadapi lima isu besar: reformasi, masa depan ABRI, pergolakan yang marak di daerah-daerah yang ingin lepas dari Indonesia, pengadilan Presiden Soeharto dan tentu juga melepaskan Indonesia dari krisis moneter.

Kala itu, 11 Maret 1998, 21 tahun yang lalu. MPR memilih dan melantik Pak Habibie sebagai wakil presiden. Ia mengemban amanah itu saat masa-masa paling genting menjelang reformasi. Dua bulan kemudian, 21 Mei, Presiden Suharto mengundurkan diri dan Pak Habibie menggantikannya.

Terlepas persoalan negara yang ia hadapi saat menjadi presiden Indonesia ke-3, selama 17 bulan, Pak Habibie tetap dikenal sebagai pemimpin yang humble, baik kepada semua orang, sayang pada sahabat dan keluarga, peduli serta sungguh-sungguh mencintai bangsanya.

Di puncak karier kepemimpinannya sebagai orang nomor 1 di Indonesia saat itu, di tengah masalah besar yang datang dari segala sisi, kemampuannya untuk tetap menjadi pribadi yang baik, tidak tergadaikan. Data beberapa kisah yang saya baca, itu yang membuat orang-orang yang bekerja di sekitarnya tidak stres.
Kita tentu harus berani bicara tentang fakta, bahwa lingkungan pekerjaan dengan tingkat stres yang tinggi bukanlah sesuatu yang diterima orang dari pemimpin saat ini. Marah-marah tanpa alasan bila tidak didengar, mau menang sendiri, tidak mau menerima masukan, selalu melihat dari sisinya saja, adalah cara lama yang mengkhatirkan dari sosok seorang pemimpin.

Dalam satu episode talk show Mata Najwa, yang saya ikut tonton, dimana Pak Habibie sebagai salah satu pembicaranya, saya bisa melihat kembali sosok Pak Habibie. Sosok yang sangat diterima berbagai kalangan umur dan profesi. Saya masih melihat semangat kepemimpinan yang humble dan mencerahkan. Ia sama sekali jauh dari kesan kasar, egois, dan sangat semau gue.

Darinya, saya dan kita bisa belajar, bahwa identitas pemimpin sejatinya adalah sesuatu yang lebih besar dibandingkan identitasnya sendiri sebagai individu. Kemampuan pemimpin untuk berbicara dengan baik adalah sebuah proses yang tentu ada puncaknya, yaitu kebaikan dan menjadi baik, bukan saja bagi dirinya tapi juga bagi banyak orang disekelilingnya.

Kita bisa banyak belajar dari sisi baik orang lain, seperti Pak Habibie. Bagi masyarakat Indoensia dan orang-orang yang mengenalnya secara dekat, tentu kehilangan sosok anak bangsa yang sangat luar biasa, bukanlah sesuatu yang mudah. Seseorang yang memiliki peran besar di Indonesia. Dikenal dekat dengan banyak kalangan. Seseorang yang banyak diidolakan anak-anak, remaja, bahkan orang tua.

Meski tidak kenal, banyak orang mengagumi kebaikannya. Sosok humble sejati. Ia juga hadir sebagai sosok yang dengan hati yang begitu besar, mencintai bangsanya, memiliki banyak cita-cita dan terus mau belajar dan semangat. Seseorang yang taat dalam beragama.

Penulis terkenal dan juga seorang sahabat saya Ahmad Fuadi, mengatakan “jika kita ukur sukses manusia adalah seberapa besar manfaat hidupnya buat orang lain, maka Pak Habibie adalah salah satu orang yang tersukses.”

Pak Habibie adalah manusia yang “hadir” di dimensi ruang dan waktu banyak orang dan banyak generasi. Sosoknya juga sukses “tumbuh” menyelusup ke impian anak-anak kampung seperti saya. Bukan saja itu, Habibie juga menjadi super minister dan presiden dengan cara pandang teknologi tinggi. Ia juga muncul dengan alami di alam pop culture, dalam bentuk film dan novel untuk semangat, menjadikan Pak Habibie seperti menjelma menjadi sahabat semua dimensi.

Dari semua itu, jadi teringat kembali kata almarhum Ayah saya: “Nak, hidup ke depan bukan perkara mudah, agama dan keluarga adalah benteng yang terus harus engkau rangkul dengan erat. Dari orang-orang terdekatmu, engkau bisa minta nasehat, masukan dan semangat. Dari sahabatmu engkau bisa belajar memperbaiki kekuranganmu. Dari yang tidak menyenangimu, engkau bisa belajar bahwa dunia membutuhkan keseimbangan.”

Saat sebulan sebelum Ayah saya meninggal, 7 tahun lalu, ia pun sempat menyemangati saya yang saat itu tengah menyelesaikan S3. “Tetap semangat, jadikan orang-orang yang kamu sayangi sebagai penguat, menghilangkan rasa letih dan malas. Sabar, dan kerja keras. Semoga bisa lulus dengan baik, dan jadi dosen yang baik. Semoga bisa menjadi Profesor, seperti Pak Habibie,” kata Ayah sampil menggerak-gerakkan bahu saya yang sedang memijat tangannya saat sakit. Saya tersenyum saat itu. Pak Habibie masih terus ada sebagai penyemangat Ayah untuk saya.

Ketika kolom ini saya tulis, ketiganya sudah tiada lagi di dunia ini. Pak Habibie, Ayah dan Mama saya, adalah sosok yang saya kagumi dan cintai. Dari mereka pula saya belajar banyak, tentang satu visi yang kuat. Cintai agamamu, keluargamu, dan benar-benar cintai bangsamu. Indonesia.

Terima kasih Pak Habibie, Ayah dan Mama. Semoga Allah memberikan tempat terbaik, tempat yang istimewa di sisi-Nya. Terimakasih sudah menyiapkan “panggung” yang besar untuk kami berkarya.[]

*)Alumnus Program Penguatan Kapasitas Pemimpin Indonesia yang diselenggarakan oleh Lemhanas, Kemenristekdikti dan Kementrian Kemaritiman Tahun 2018. Alumnus Program Cendikia Kemenristekdikti 2019. Kini sedang menerima amanah sebagai Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. E-mail; hsyahputra@gmail.com

Foto: Penulis dan almarhum Prof. BJ Habibie. (Koleksi pribadi).

KOMENTAR FACEBOOK