Saudi Dibom, Turki Menguat?

Muhammad bin Salman, putra mahkota Arab Saudi lagi jengkel. Dua kilang minyak terbesar milik kerajaan itu dibom Houthi sabtu lalu. Lebih 50 persen produksi minyak Saudi terhenti. Harga minyak mendadak melambung. Tapi pasar saham Aramco- perusahaan minyak Saudi- terjun bebas. Kementerian Energi Kerajaan mengumumkan butuh waktu berbulan-bulan untuk memperbaiki 19 fasilitas dari dua kilang minyak itu yang rusak parah.

MBS (panggilan akrab Muhammad bin Salman), lebih jengkel lagi pada cara Presiden Trump merespons penyerangan itu. Reuters melaporkan Trump ragu-ragu membalas dendam dan melindungi Saudi. Apalagi kali ini, Iran dituduh di belakang serangan itu. Para pejabat Amerika tidak percaya Houthi menggunakan 10 drone menyerang kilang minyak di provinsi Saudi Timur itu. Mike Pompeo penuh yakin, serangan tidak datang dari arah Yaman. Senator Republik, Lindsey Graham meminta Trump menyerang balik kilang minyak Iran.

Kejengkelan MBS benar belaka. Trump tidak konsisten. Bahkan dalam berkicau. Sehari setelah pengeboman itu, Trump berkicau hebat di Twitter. Ia mengancam, Amerika akan angkat senjata. Dalam waktu kurang dari 24 jam kemudian Trump merevisi kata-katanya, Amerika tidak pernah berjanji melindungi Arab Saudi. Jika pun Trump konsisten dalam kata-kata, tetap saja ia tidak punya cukup keberanian bertindak memulai perang baru.

Kesetiaan Amerika pada sekutu-sekutunya sudah lama diragukan. MBS tidak patut berharap dapat pembelaan Paman Sam. Rekam jejak ketaksetiakawanan Amerika kelihatan terang benderang di berbagai kawasan. MBS bisa belajar dari ‘pengalaman ditinggalkan’ Amerika pada kasus Georgia (Ossetia Selatan) dan Ukraina (Crimea). Militer Rusia melenggang masuk menduduki Georgia pada 2008 dan Ukraina pada 2014. Setelah berkoar-koar di media, biasanya pemerintah Amerika memilih tidak bertindak apa pun membela aliansinya.

Di kawasan Timur Tengah, contoh sejenis ini lebih banyak. Amerika meninggalkan begitu saja kelompok-kelompok pemberontak di Suriah pada saat mereka terdesak di medan perang. Dalam kasus Turki, Washington bahkan menelikung kawan sendiri. Selain mendukung kudeta militer terhadap Erdogan pada 2016, Amerika secara serius mempersenjatai milisi Kurdi berhadapan dengan Ankara. Minggu lalu, Steven Mnuchin, Menteri Keuangan Amerika mengumumkan rencana penjatuhan sanksi atas Turki setelah Erdogan membeli S-400 Rusia.

Padahal sebelumnya, Turki sekutu terdekat Paman Sam di kawasan Timur Tengah. Amerika membangun dua pangkalan militernya di negara Erdogan itu, di Incirlik dan Izmir. Turki bahkan diizinkan memproduksi sendiri pesawat-pesawat tempur F-16 berlisensi AS. Ankara pula di antara mitra dagang terbesar Amerika di kawasan itu. Kedua negara pernah bahu-membahu mendukung revolusi di Suriah. Kedekatan Turki dan Amerika suatu waktu mencapai titik terbaik yang belum bisa dijangkau Arab Saudi hingga hari ini.  

Gesekan Saudi-Turki

Belakangan, Turki menyadari Amerika tidak dapat dipercaya. Lalu memilih jalan berbeda dari sekutu Amerika lainnya. Meski sesama anggota NATO, Pemerintah Erdogan tidak selalu patuh dan sejalan dengan kebijakan Amerika. Dalam banyak kasus perang proksi, keduanya seringkali mendukung pihak-pihak saling berlawanan. Di Suriah misalnya, Amerika mendukung Kurdi. Musuh Turki. Begitu pun di Palestina, Turki memihak HAMAS dan Amerika mengistimewakan Israel. Dalam kasus Mesir, Amerika membela kudeta Jenderal Abdel Fatah Al-Sisi. Turki mengecam penggulingan sekutu terdekatnya, Mohammad Morsi, pimpinan partai Ikhawanul Muslimin.

Amerika punya dua poros sekutu lainnya di Asia Barat. Poros Saudi dan Poros Israel. Karakter aliansinya juga berbeda. Poros Saudi jauh lebih penurut. Para analisis menilai poros Saudi adalah eksekutor terbaik kebijakan Amerika di kawasan itu. Agak berbeda, poros Israel menjalin pertemanan lebih setara dengan Amerika. Seringkali pula Paman Sam harus menuruti arah kebijakan Israel.

Poros Saudi tergabung di dalamnya Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Mesir. Poros ini kompak, bukan saja bersekutu dengan Amerika, bahkan dalam banyak kesempatan mulai memublikasi hubungan mesra mereka dengan Israel. Keempat negara ini senantiasa dalam satu barisan kokoh menghadapi musuh bersama. Di Sudan, poros Saudi memihak Dewan Transisi Militer membungkam kaum revolusioner. Di Libya, poros ini mendukung pasukan Jendral Khalifa Haftar merebut Ibu Kota Tripoli. Dalam perang Yaman, poros Saudi bersama-sama memerangi Houthi.

Di sisi lain, ada poros Turki mencakup Qatar, Tunisia, dan Yordania. Poros ini lebih kritis dan independen. Mereka mendukung HAMAS dan memusuhi Israel. Saat bersamaan poros ini menjalin hubungan perkawanan dengan AS. Poros Turki dan Saudi bergesekan di banyak negara. Dalam perang terkini di Libya, Turki memberikan bantuan drone militer kepada Pemerintah Libya memukul mundur pasukan Haftar yang di-backing poros Saudi.

Di Sudan, poros Turki menyokong pembentukan pemerintahan sipil di masa transisi pascatumbang rezim Omar Bashir. Otoritas Dewan Transisi Militer dukungan Saudi karenanya mulai melemah setelah perundingan-perundingan para pihak membuahkan hasil. Dalam krisis Qatar, Erdogan mengirim pasukan militernya ke Doha menghadapi rencana serangan militer Riyadh. Pada kasus pembunuhan wartawan Jamal Kashoggi, poros Turki paling lantang bersuara menyudutkan rezim Saudi. Di waktu bersamaan, Turki menyerukan Saudi menghentikan perang di Yaman dan mencari solusi politik dan diplomatik.

Turki Menguat

Tampaknya MBS telah memilih langkah-langkah keliru. Mendukung kudeta militer di Mesir, membunuh Jamal Kashoggi, membuat perang berkepanjangan di Yaman, dan membangun kemesraan dengan Israel. kebijakan-kebijakan ini dipandang destruktif. Popularitas kerajaan Saudi dari waktu ke waktu kian merosot. Berbanding terbalik dari tren ini, Erdogan dan Turki makin populer di mata publik Arab.

Publikasi hasil survei yang dilaksanakan jaringan riset Arab Barometer dua bulan lalu membuktikan itu. Lebih dari 25.000 orang diwawancarai antara akhir 2018 hingga pertengahan 2019 mengenai berbagai isu di 10 negara Timur Tengah dan Afrika utara serta kawasan Palestina. Salah satu pertanyaan survei adalah menggali pendapat publik Arab tentang seberapa positif kepemimpinan Amerika Serikat, Rusia dan Turki. Hasilnya: Trump berada paling dasar, Putin urutan berikutnya. Gabungan suara positif bagi keduanya masih kalah jauh dari angka positif terhadap Erdogan. Dari 11 kawasan yang disurvei, tujuh di antaranya menganggap positif Erdogan lebih dari 50%.

Dalam pandangan saya, popularitas Erdogan dan Turki terus meningkat ke depan seiring kebijakan negara ini menjauh sedikit demi sedikit dari kooptasi Amerika. Keberanian Erdogan mengabaikan tekanan-tekanan Pemerintahan Trump patut dipuji. Erdogan telah memberitahukan Trump, Turki bukan wilayah kolonial Amerika.

Di sisi lain, poros Saudi akan semakin rentan. Terlalu lama menjadi “sapi perah” Amerika memperlemah rezim-rezim teluk itu. Tiap tahun mereka membeli senjata Amerika. Mengeluarkan miliaran dolar untuk sistem pertahanan rudal patriot dan teknologi radar yang tidak berfungsi bahkan untuk sekadar menangkal drone Houthi dengan teknologi rendah. Sungguh konyol.

Presiden Putin kali ini benar-benar kasihan. Ia menyarankan Arab Saudi membeli sistem pertahanan Rusia untuk melindungi fasilitas-fasilitas kilang minyaknya. Dengan maksud terselubung mengejek senjata Amerika, Putin meminta Saudi lebih berani mengikuti pilihan cerdas Turki dan Iran membeli S-400 dan S-300 Rusia. Tapi apakah MBS seberani Erdogan? Membeli rudal-rudal Rusia bermakna menyiapkan diri dijatuhi sanksi-sanksi ekonomi rezim imperialis Amerika.

Turki kini penuh percaya diri. Sistem pertahanan canggih S-400 sudah dipasang dan mulai aktif melindungi negara itu pada maret 2020. Dalam waktu dekat pula, militer Turki akan memiliki jet tempur Su-35 dan Su-57 Rusia. Beginilah cara Erdogan meninggalkan Washington. Andai saja poros Saudi punya keberanian sejenis ini, Amerika dan Israel lebih mudah dikeluarkan dari kawasan itu.[]

KOMENTAR FACEBOOK