Abu Razak, Eks Kombatan GAM yang Terus Berperang di Tengah Damai

Kamis sore, jelang magrib, 19 September 2019, adalah akhir kisah petualangan Tun Sri Muhammad Azrul Mukminin alias Abu Razak, salah seorang eks kombatan GAM, yang memilih terus melawan Republik Indonesia di bawah ideologi baru bernama “Kerajaan Islam Aceh Darussalam” dan pernah mengeluarkan maklumat perang terhadap Pemerintah Indonesia satu tahun yang lalu.

Di ujung jembatan Trienggadeng, Pidie Jaya, aparat kepolisian yang telah membuntutinya sejak keluar dari Bukit Cerana, Simpang Mamplam, Bireuen, melepaskan tembakan beruntun. Abu Razak dan empat koleganya yang berada di dalam mobil tak mampu menghindar. Tubuh mereka ditembusi timah panah. Menurut sejumlah saksi mata, tidak ada kontak senjata. Hanya pemberondongan oleh aparat penegak hukum.

Tiga orang menghadap Ilahi di tempat kejadian. Mereka adalah Abu Razak, Zulfikar alias Wan Ompong dan Hamni. Wan Neraka mengalami kritis. Sedangkan Muhammad Taufiq, penduduk Ie Rhop, Simpang Mamplam, selamat dari terjangan peluru. Ketika serangan itu terjadi, ia sempat melihat Abu Razak roboh setelah membuka pintu mobil. Taufiq segera tiarap di kolong mobil.

“Saat melihat Abu Razak roboh ketika membuka pintu mobil, saya yang duduk di deret belakang, segera tiarap di kolong mobil,” ujar lelaki ceking itu, ketika dihadirkan dalam konferensi pers yang digelar Polres Bireuen, Jumat (20/9/2019).

Nama Abu Razak cukup populer setelah kelompok Din Minimi turun gunung dan menyerahkan senjata kepada Kepala BIN Sutiyoso pada akhir Desember 2015.

Selama hidupnya, Abu Razak, dikenal sebagai loyalis Hasan Tiro. Menurut catatan seorang koleganya, alumnus Sekolah Teknik Menengah (STM) Bireuen itu, adalah lelaki yang pintar. Setelah lulus STM, mendapatkan undangan untuk kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Setelah lulus ia mendapatkan tawaran kerja dari perusahaan asing di luar negeri. Tapi Abu Razak menolak. Ia memilih pulang ke Aceh dan bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka. Ia sangat yakin di bawah Hasan Tiro Aceh akan menjadi sebuah negara.

“Bila Aceh sudah merdeka, aku ingin membangun industri senjata api seperti Pindad. Namanya Guns Sumatera Industries,” celetuknya kepada sang teman.

Seusai perjanjian damai di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005, pada sebuah momen, Abu Razak sempat menyatakan kekecewaannya terhadap hasil perdamaian yang di luar ekspektasinya. Tapi, ia tidak melanjutkan akan melakukan apa. Seperti eks kombatan lainnya yang turun gunung, Abu Razak pun sibuk dengan aktivitasnya.

Hingga suatu ketika sang teman mendengar bila Abu Razak sudah menjadi buronan aparat penegak hukum karena telah melakukan berbagai tindakan pidana sekaligus manuver-manuver politik yang meresahkan. Dalam sebuah video pendek, ia membalut tubuhnya dengan jubah, menyatakan sebagai pelanjut perjuangan melawan Indonesia atas nama Kerajaan Islam Aceh Darussalam. Ia tidak lagi memakai emblem GAM. Karena menurutnya perjuangan GAM sudah selesai. Ia pun didaulat sebagai Sultan Kerajaaan Islam Aceh Darussalam.

Menurut Kapolres Bireuen AKBP Gugun Hardi Gunawan, S.I.K., M.Si., kepada wartawan, Jumat (20/9/2019) menyebutkan Abu Razak telah melakukan serangkaian kekerasan terhadap orang lain dalam beberapa waktu sebelumnya. Ia seringkali melakukan penculikan yang diakhiri dengan permintaan tebusan kepada keluarga korban.

Sejak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) itu beraksi di wilayah hukum Polres Bireuen, tujuh warga sipil telah menjadi korban pemerasan yang dilakukan oleh Abu Razak Cs. “Itu hasil pengembangan sementara, ada tujuh korban yang diperas oleh Abu Razak,” ujar Gugun Hardi Gunawan.

Abu Razak kembali dilaporkan oleh salah seorang warga berinisial B, yang mengaku telah diperas oleh KKB tersebut, setelah sebelumnya sempat disandera. Atas laporan tersebut, tim Polda Aceh dan Polres Bireuen melakukan penyisiran. Hanya dalam beberapa hari, keberadasn kelompok tersebut terdeteksi.

Polisi pun menunggu momen yang pas. Begitu Abu Razak keluar dari Buket Cerana, Gampong Ie Rhop, segera dibuntuti. Hingga tiba di ujung jembatan Trienggadeng, Pidie Jaya. Menurut AKBP Gugun Hardi Gunawan, polisi terpaksa melepaskan tembakan, karena Abu Razak memberikan perlawanan dengan cara menembaki aparat.

Abu Razak pun bersimbah darah dan tersungkur ke bumi. Ia menghadap ilahi bersama tiga rekannya yang lain. Di senja jelang magrib itu, ia berpulang, meninggalkan jejak perlawanan terhadap negara, 14 tahun setelah MoU ditandatangani di Helsinki, Finlandia oleh Meuntroe Malik Mahmud al Haytar dan Menteri Hukum dan HAM RI Hamid Awaluddin.

KOMENTAR FACEBOOK