Yah Cang

Di warung kopi Corner, Karang Baru, Aceh Tamiang. Awalnya saya hanya duduk sendiri. Ada penelitian yang sedang saya kerjakan. Jadi, sambil menunggu informan, saya duduk di warung itu. Namun, informan itu tidak datang. Pesan WhatsApp masuk. Tapi tidak dibalas. Begitu juga panggilan telepon, tidak direspon. Tapi, ya sudah. Ini resiko peneliti.

Di warung itu, itu, saya pun menghubungi Amir Hasan Nazri. Saya memanggilnya Om Acang. Tapi teman-temannya, dari segala lapisan, memanggilnya Yah Cang. Satu panggilan kehormatan.

Dia adalah anak bungsu dari Amir Husin al Mujahid. Anak ke-17 dari seluruh anak yang dimiliki oleh Mujahid, dari dua istrinya di Idi dan Tamiang. Orangnya tinggi, kurus. Rambutnya ikal. Tapi selalu dipotong pendek. Foto lamanya, sewaktu masih muda, ikal dan bergelombang, seperti rambut Gito Rollies muda, penyanyi favoritnya. Akan tetapi karena sudah menjelang angka 60 tahun, rambutnya sudah memutih juga. Sudah jadi kakek, dari satu cucu.

Di warung itu, awalnya kami berdua. Dia diantar oleh anak laki-laki satu-satunya. Anaknya itu baru saja menyelesaikan strata satu di Unsyiah Banda Aceh. Amir Hasan memiliki tiga anak. Dua anaknya yang lain sudah bekerja, sebagai perawat dan guru.

Yah Cang itu sangat populer. Tidak lama kami berjumpa dan sedikit berbasa basi. Satu per satu orang lewat, dan pasti menyalaminya, sambil menyapa dengan takzim, “Yah Cang.”

Ketika saya memutuskan untuk minum kopi di warung itu, sudah berfikir, pasti ramai nanti yang akan duduk dan minum kopi bersamanya. Perkiraan saya tidak salah. Satu persatu orang mulai merapat ke kursi kami. Totalnya ada empat orang. Oleh Yah Cang, diperkenalkan satu persatu. Ada Edi, Zul, Blam dan, saya orang yang tidak saya ingat namanya, kecuali kalau yang bersangkutan bekerja sebagai wartawan di Metro TV. Awalnya, dia diminta untuk mengambil foto kami. Saya bilang, “ini cakep, ambil kodak sekali.” Lalu, setelah itu, dia pun duduk bersama kami.

Pembicaraan ke sana kemari, khas di warung kopi. Dan, pasti, sampai kepada topik politik. Saya menyimak, dari pembicaraan mereka, ada rasa geram tentang kepemimpinan di Aceh Tamiang.

Amir Hasan memulai percakapan dengan agak dramatis “Ini yang bilang ke saya, anak raja, mamak saya.” Sesuatu yang disampaikan itu adalah tentang mengenai karakter khas masyarakat Melayu Tamiang. Setelah itu, bersahut sambutlah. Edi cepat menyergah, dia mengatakan dengan rasa percaya diri yang penuh, “untuk Bupati ke depan, kali ini kita pilih orang Aceh. Biek Aceh. Harus asli Aceh, dari garis laki-laki. Ayahnya sampai kakeknya,” sambil melempar pandangan ke Amir Hasan.

Yang lain masih diam. Amir Hasan angkat bicara, “Tidak. Kali ini yang akan pilih orang Jawa. Kenapa memangnya?” dia menantang.

Seisi meja ciut. Membantah sungkan. Amir Hasan sepertinya tahu, bahwa pengaruhnya besar di daerah itu.

***
Saya mengenal Amir Hasan Nazri, sekitar lima tahunan yang lalu. Saat pembicaran antara anak-anak dan cucu PUSA mulai dibangun kembali. Saya dikenalkan oleh salah satu kakaknya, Zainal Arifin.
Zainal, adalah salah satu petinggi di pemerintahan Kota Langsa. Saya tidak lama berkomunikasi dengannya. Tahun 2014, dia berpulang. Praksis, kemudian, saya hanya mengenal Amir Hasan, dari keluarga besar Husin Mujahid.

Namun, dia mumpuni. Banyak hal yang telah menempanya, sekaligus bangunan pengetahuan yang dia dapat di Fakultas Hukum UII, membuat Amir Hasan menjadi teman diskusi yang menarik.

Tahun 2015-2017, saya semakin intensif berkomunikasi dengannya. Saya ikut mendorong terbitnya biografi Amir Husin Mujahid. Kami kerap berdiskusi tentang penerbitan buku itu. Walau dia, jauh-jauh hari, mengatakan akan berjarak dengan buku karya Ahmad Fauzi tersebut. “Saya tidak akan mengintervensi apapun yang ditulis tentang Husin Mujahid,” ujarnya satu waktu.

Husin Mujahid adalah satu nama yang diperbincangkan secara pelik. Di satu sisi, dia dipuji, karena kecerdasan dan aktivismenya. Namun pada bagian lainnya, konstruksi sejarah, menuntut Husin Mujahid bertanggung jawab atas salah satu fragmen dalam peristiwa Aceh kontemporer, yaitu revolusi sosial.
Amir Hasan bergeming ketika permasalahan itu disampaikan. Suaranya yang keras, terkadang parau, ketika dia selalu menjelaskan apa yang menurutnya sebagai misleading sejarah itu.

“Bicarakan sejarah secara adil dan objektif. Berikan data. Kita bicara sejarah dengan data yang ada,” katanya.

Amir Hasan tumbuh dari keluarga yang kompleks. Dia terlahir sebagai anak dari tokoh besar revolusi di Aceh, sekaligus dari ibu, Tengku Mariani, anak dari raja Kerajaan Karang terakhir, Tengku Muhammad Arifin. Kompleksitas itu, yang membuatnya harus menjelaskan berulang-ulang, terutama kepada penentang jalannya revolusi di Aceh, bahwa dari sejarah yang terus diratapi itu, dia merupakan orang yang merasakan langsung dari dalam

Satu kali, dia menceritakan tentang pengalaman masa kecilnya. Dirinya begitu kalut, ketika teman-temannya di sekolah dasar di Idi, memberi penilaian miring tentang ayahnya di masa revolusi.
Kekalutan yang hanya dapat diselesaikan oleh ibunya. Tengku Mariani memberi penjelasan mengenai kesalahpahaman orang atas Husin Mujahid, karena rumor yang berkembang, dari mulut ke mulut. Amir Hasan mengingat peristiwa itu dengan baik.

Sebagai anak yang paling bungsu, umurnya berjarak jauh dari ayahnya. Sehingga Tengku Mariani lebih banyak menjadi teman bicaranya. Namun, Amir Hasan juga menerima gelegak darah ayahnya yang revolusioner itu. Hal tersebut terlihat dari aktivitasnya sosial politiknya.

“Saya pernah mengundang Teungku Ahmad Dewi untuk berceramah maulid. Apa yang saya lakukan itu, ternyata menimbulkan kehebohan. Dan, setelah itu, harus memberi penjelasan di kantor Kodim,” kenangnya.

Walaupun berjarak dengan ayahnya, Amir Hasan berusaha memahami Aceh seperti apa yang dikehendaki oleh Husin Mujahid, yaitu Aceh yang terbuka, memiliki kemerdekaan berfikir, egaliter dan modern. Oleh karenanya, dia tidak pernah berhenti untuk menyeru, supaya Aceh kembali kepada asal muasalnya, sebagai entitas yang terhormat.

Amir Hasan, juga hampir seperti Husin Mujahid, orang dapat berinteraksi dengan segala lapisan Amir Hasan juga demikian. Pagi sampai siang hari, dia dapat menjadi orang yang sangat keras ketika bicara masa depan Aceh, dengan berbagai pendekatan dan bacaannya. Akan tetapi, di sore hari bisa menjadi kakek yang ngemong dengan cucu yang sangat dekat dengannya. Kemudian, di malam harinya, Amir Hasan berdiri di atas panggung, dia menjelma menjadi ”Ucok AKA” atau “Delly Rollies.”

Kini, di usianya yang ke-58 tahun, dia tidak berhenti. Kakinya seperti tidak bisa diam. Pikirannya terus bergerak. Usia yang bertambah, baginya, seperti sekumpulan angka. Selamat ulang tahun, Yah Cang.

KOMENTAR FACEBOOK