Kemiskinan Aceh dan Luka Perempuan

Oleh Muhajir Juli

Kemarin, saya mendapat kabar bila seorang perempuan Aceh yang suaminya bekerja tapi tidak lancar menghasilkan uang, harus bekerja dari pagi hingga pagi, untuk menopang ekonomi keluarga yang kian kritis. Tak ada jeda untuk istirahat. Waktu tidur hanya sebentar. Selebihnya ia harus menjalankan tugas “domestik” memasak di rumah, mencuci, membersihkan rumah, mengurus anak-anak, melayani suami -bila sang suami pulang ke rumah– hingga mengantar dan menjemput anak-anaknya sekolah dan mengaji.

Saya tidak terkejut mendengar kabar tersebut. Iba tentu saja ada. Tapi lahir dan besar di akar rumput, pemandangan tersebut adalah sesuatu hal biasa, walau saya tidak akan pernah mengatakannya sebagai sesuatu yang wajar.

Akhir-akhir ini, pencapaian Pemerintah Aceh yang bertahun-tahun sukses menempatkan Aceh di peringkat atas daerah termiskin di Sumatera, hanyalah angka statistik semata. Karena hingga saat ini, dengan dana yang sangat banyak digelontorkan ke Aceh, harkat dan martabat rakyat kelas akar rumput masih seperti haba nyan. Kemiskinan terus turun dari ayah ke anak, dari anak ke cucu. Banyak sekali yang frustasi dan akhirnya terjerambab ke dunia gelap sabu-sabu. Anda tentu sudah membaca berapa uang yang beredar di dunia narkoba di Aceh. Puluhan triliun. Dengan uang sebanyak itu, bukan saja telah menggoda laki-laki terjun ke dalamnya, dengan harapan bisa mewujudkan mimpi mereka untuk kaya. Tapi kaum perempuan pun telah banyak mengambil jalan pintas tersebut, menjadi agen sabu-sabu lintas propinsi.

Bila bicara keadilan pembangunan san ekonomi, saya melihatnya bahwa pemerintah hingga saat ini belum mampu menemukan formula yang tepat. Padahal di lingkaran mereka tidak sedikit yang berasal dari eksponen masyarakat sipil yang telah pensiun dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan kelompok profesional lainnya, yang sebelum dirangkul, 24 jam menyampaikan kritik terhadap kinerja pemerintah. Sekarang mereka sedang di mana dan sedang sibuk dengan apa? Apakah diam-diam turun ke masyarakat untuk menemukan problem dan sedang meramu solusi atas masalah yang dihadapi rakyat? Atau sedang terbuai dan tak sempat istirahat karena terlalu lincah menjadi calo sehingga membuat para kepala dinas tidak sempat berpikir merancang program, karena sibuk melayani “kelompok profesional” itu.

Lupakan mereka, karena mereka adalah bagian dari demokrasi yang harus dilayani oleh kekuasaan manapun, demi menciptakan stabilitas. Jangan berharap terlalu banyak pada mereka yang berasal dari “swasta profesional”. Karena SK mereka pun tidak pernah abadi. Selama masih “di dalam” maka misi utama memperbanyak pundi pribadi adalah keniscayaan. Karena setelah di luar, kesempatan itu tak mungkin terbuka. Istilah orang Aceh, gapiet ule rimung tak pernah abadi. Sangat tergantung masa dan ruang waktu.

***
Anda tentu sudah mendengar bila angka stunting di Aceh mencapai angka 37,9 % dari total anak Aceh yang lahir ke dunia. Itu prosentase yang mengkhawatirkan. Karena bila ditulis angka detailnya, ada 1,9 juta anak Aceh yang mengidap bukriek (stunting). Hasil Susenas 2016, 20,51 % anak Aceh hidup di bawah garis kemiskinan. Sangat timpang dengan rata-rata nasional yang hanya 13,31 %.

Lagi-lagi, di mata banyak orang angka-angka itu hanyalah statistik. Atau bila pun dibincangkan, hanya sebatas –semoga saya salah– komitmen kosong tanpa aksi holistik yang benar-benar tulus menuntaskannya.

Dengan angka di atas, Aceh 30 tahun ke depan akan menghadapi krisis sumber daya manusia. Generasi yang kelak tumbuh menjadi pengisi berbagai ruang, tidak akan mampu menjadi manusia yang kompetitif karena mengalami lemahnya daya pikir (perkembangan otak terganggu) dan gagal tumbuh dengan sempurna.

Punca masalah ini disebabkan oleh tidak tersebarnya kesejahteraan secara merata. Kesejahteraan telah dikooptasi oleh sebagian kalangan kecil yang hidup dengan uang yang seharusnya diperuntukkan untuk menumpas kemiskinan rakyat.

Ekonomi Aceh yang mengalami kesulitan untuk tumbuh yang secara nyata telah menyebabkan Aceh tidak mampu menyediakan lapangan kerja. Banyak manusia Aceh usia produktif justru tidak mampu menghasilkan pendapatan rutin ideal. Di kelas akar rumput, ketika banyak suami dan lelaki lajang tidak memiliki pekerjaan tetap atau bahkan tetap aktif sebagai pengangguran hingga waktu yang belum ditentukan, maka semua beban itu tertimpa para perempuan yang berstatus istri dan ibu. Lelaki boleh tak produktif, tapi perempuan tak mungkin tidak produktif. Mereka harus bergerak, walau badan remuk redam.

Di keluarga-keluarga miskin–yang masih sangat banyak di Aceh– perempuan sudah seperti robot. Hanya memiliki waktu jeda bekerja empat jam per hari. Itupun tidak bisa tidur nyenyak. Sejak pukul 04.00 WIB sudah bangun dan mengerjakan pekerjaan domestik. Pukul 06.00 WIB sudah bergerak ke berbagai lapangan kerja informal berbayar rendah hingga sore hari. Kemudian kembali ke urusan domestik hingga pukul 00.00 WIB.

Dalam kondisi kelelahan fisik, mental mereka juga tertekan. Para lelaki pengangguran kerap memiliki tabiat yang buruk. Penyebab buruknya tabiat itu bisa jadi karena pendidikan mereka, tapi stres menjadi penyebab utama.

Perempuan-perempuan perkasa itu yang tidak pernah hadir di berbagai perayaan anugerah ini itu, tertekan lahir dan batin. Suami dan anak laki-laki mereka, adalah intimidator utama, yang memandang mereka sebagai budak. Dicaci, dihina, diselingkuhi bahkan dikasari secara fisik, adalah makanan sehari-hari perempuan-perempuan malang itu.

Perempuan-perempuan yang hidup di bawah garis kemiskinan, adalah pahlawan. Bayangkan, bila 37,9 % anak Aceh mengalami stunting, berapa banyak perempuan di Aceh yang mengalami kekurangan gizi di daerah yang dikenal kaya sumber daya alam ini? Saya yakin bila disurvey atau disensus, angkanya akan mengejutkan. Karena bagi perempuan, membahagialan keluarga adalah segala-galanya.

Bayangkan, bila jutaan anak Aceh kekurangan gizi, berarti ada jutaan perempuan yang makan sehari sekali.

“Meunyo inong keu lakoe, ditheun deuk droe dibie keu lakoe. Meunyo ma keu aneuk, ata lam babah geusut u luwa.”

Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK