Semangat Guru Asal Tanah Rencong Giatkan Literasi di Pedalaman Borneo

Agus Riansyah

Oleh Agus Riansyah*

Berawal dari penugasan saya ke sebuah sekolah dasar di Kalimantan Barat sebagai Guru Garis Depan (GGD) program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), dari situlah saya melihat betapa memprihatinkannya pendidikan di negara ini.

Bayangkan, sebuah sekolah dasar yang memiliki 30 orang siswa, hanya memiliki lima orang guru. Artinya, dengan enam rombongan belajar (rombel) ada satu guru yang harus mengajar kelas rangkap. Ditambah kondisi sekolah yang lantainya rusak dan atapnya bocor.

Hasil rapat pembagian tugas guru, saya diamanahkan mengajar di kelas V di mana hanya ada lima siswa. Sebagai seorang guru baru dan mengajar di pertengahan semester, pastinya persiapan saya tidaklah sematang guru-guru lainnya.

Hari pertama ke sekolah, saya meminta anak-anak membaca lalu saya menjelaskan. Alangkah terkejutnya saya ketika mengetahui bahwa mereka masih terbata-bata dalam membaca padahal mereka sudah kelas V.

Melihat alat pendukung belajar di sekolah, tidaklah heran bila kemampuan mereka seperti itu. Kekurangan buku dan juga infrastruktur lainnya seperti listrik yang belum masuk juga menjadi penyebabnya sehingga kegiatan mereka terbatas hanya sampai sore hari.

Jangan membayangkan sekolah yang punya ruangan tersendiri untuk perpustakaan. Untuk kelas saja kami harus berbagi dengan ruangan guru yang juga dipakai untuk dapur, rak buku seadanya (lebih tepatnya dua buah meja tersusun), dan juga meja khusus untuk kepala sekolah.

Bukankah kendala belajar siswa menjadi tanggung jawab guru untuk menyelesaikannya?

Salah satu kendala di pedalaman adalah akses bacaan yang masih sulit. Termasuk di sekolah kami. Kondisi ini menyebabkan anak-anak hanya bisa memperoleh praktik belajar membaca di sekolah yang durasinya cuma lima sampai enam jam sehari. Durasi waktu tersebut tidaklah cukup mengingat sumber belajar mereka hanya di sekolah, sisa waktu lainnya mereka gunakan untuk membantu orang tua di ladang.

Dari situlah kami para guru yang bertugas di Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat memanfaatkan momen marak-maraknya kegiatan bertema #literasi dengan mendirikan sebuah Taman Baca Masyarakat (TBM) yang kami namai TBM Rumah Inspirasi Kita.

Sebuah TBM tidak bisa jauh-jauh dari yang namanya buku. Untuk memenuhi kebutuhan buku kami manfaatkan dari program pengiriman buku gratis dari PT POS Indonesia. Program ini bermula dari pertemuan antara Presiden RI dengan penggiat literasi saat bertatap muka di Istana Negara bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2017.

Pada pertemuan tersebut, para penggiat literasi menginginkan pemerintah dapat membantu pengiriman buku gratis tiap satu bulan sekali, dan Presiden RI Joko Widodo menyetujui dan memerintahkan PT Pos Indonesia untuk melaksanakan perintah tersebut. (sumber:www.posindonesia.co.id)

Berkat program tersebut, setiap bulannya kami bisa mendapatkan dua hingga tiga paket buku yang per paketnya dibatasi seberat 10 kg. Sebelumnya kami mendaftarkan TBM di pos sebagai syarat bahwa kami sebagai anggota dari program pengiriman buku gratis tersebut. Sayangnya, program yang bagus ini sekarang dihentikan karena faktor biaya.

Buku sejumlah itu belum mencukupi untuk mendukung kegiatan kami. Namun, pepatah “satu juta langkah dimulai dari langkah pertama” memacu semangat kami. Dengan buku seadanya kami membentuk tim untuk terjun ke sekolah-sekolah dengan membawa buku-buku yang dimasukkan ke dalam kardus atau tas punggung. Sesampai di sekolah, buku-buku dipinjamkan sementara ke anak-anak untuk dibaca dan dibimbing dengan memberi penjelasan. Namun karena belum memiliki perpustakaan, kegiatan kami adakan dengan sistem jemput bola. Kami membawa buku-buku tersebut ke sekolah-sekolah yang sebelumnya sudah kami minta persetujuan dari kepala sekolah setempat.

Awal dari kegiatan literasi ini hanyalah membaca untuk anak-anak. Lama-kelamaan kegiatan ini kami modifikasi dengan lebih menarik. Ada kegiatan tambahan seperti permainan tradisional, percobaan sains sederhana, kuis berhadiah, hingga tanya jawab pengetahuan umum yang dipandu oleh teman-teman guru garis depan yang bertugas di sini.

Teman-teman penggiat TBM di sini selain saya sendiri yang berasal dari Aceh, ada juga dari provinsi lain seperti dari Sumatera Barat, NTB, Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan, serta dari provinsi lain yang tergabung dalam Guru Garis Depan penempatan di Kecamatan Tumbang Titi.

Bersama-sama kami mencoba berbagi sedikit ilmu yang kami miliki. Kegiatan masyarakat tidak bisa lepas dari peran pemerintah melalui dinas terkaitnya. Nah, kegiatan TBM ini terkait dengan Dinas Kearsipan. Setelah berkonsultasi dengan Dinas Kearsipan Kabupaten Ketapang, akhirnya kami diminta untuk memasukkan proposal pengadaan buku bacaan yang ditembuskan ke Dinas Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat.

Alhamdulillah, usaha kami ini berbuah manis dengan mendapatkan bantuan hibah buku sebanyak 500 judul dengan total seribu eksemplar dari Dinas Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat.

Kegiatan kami juga mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Tumbang Titi dan Kecamatan Tumbang Titi. Hal tersebut juga karena keinginan terbentuknya sebuah desa mandiri yang salah satu indikatornya adalah memiliki perpustakaan desa. Bentuk dukungan dari pemerintah desa yaitu TMB diizinkan menempati sebuah bangunan atau gedung untuk dijadikan tempat atau Pos TBM. Alhamdulillah, berkat adanya tempat ini, kegiatan TBM bisa terpusat dan menanti pembaca yang datang berkunjung untuk menikmati koleksi bacaan.

Antusiasme warga khususnya anak-anak sangat besar terhadap kehadiran TBM ini, senang rasanya melihat mereka telah tiba dan menunggu di lokasi sebelum jadwal TBM beroperasi pada pukul tiga sore. Insyaallah, gerakan literasi akan semakin gencar di negara kita supaya bisa mengimbangi serbuan gadget yang lebih menggoda.

Filsuf Yunani Aristoteles pernah mengatakan, “Mereka yang mengetahui, melakukan, mereka yang memahami, mengajar”. Selama 16 tahun kita menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal dari sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas, sampai perguruan tinggi. Banyak hal yang sudah diketahui, kita lakukan, dan banyak hal yang sudah dipahami, saatnya kita ajarkan!

Salam literasi dari Tanah Borneo untuk Tanah Rencong.

Penulis merupakan alumnus FKIP Bahasa Inggris Universitas Serambi Mekkah. Saat ini bertugas sebagai Guru Garis Depan di Desa Tumbang Titi, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat.

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK