Mampukah Banda Aceh Menjadi “Smart City”?

Ilustrasi

Oleh Cut Famelia*

Wacana “smart city” (SC) sudah mulai merebak di Indonesia sejak beberapa tahun silam. Melalui program “Gerakan Menuju 100 Smart City”, pemerintah pusat telah melakukan seleksi terhadap 514 kabupaten/kota di Indonesia untuk menetapkan 100 kabupaten/kota yang dinilai layak menjadi kota percontohan SC (sumber:detik). Proses seleksi ini telah dilakukan dalam tiga tahapan sejak tahun 2017. Di awal tahun 2019 ini, Kota Banda Aceh terpilih sebagai salah satu dari 25 kabupaten/kota yang lulus seleksi tahap tiga. (bandaacehkota.go.id). Meskipun belum menjadi “trending topic” di media massa dan media sosial di kalangan warga kota Banda Aceh, hal ini patut diapresiasi dan didukung dengan penuh komitmen.

Sejauh ini tidak ada definisi baku dari SC, dengan demikian makna SC bisa bervariasi di setiap negara atau kota, tergantung pada tingkat pembangunan, keinginan untuk berubah, sumber daya, dan aspirasi dari masyarakatnya (sumber: smartcities.gov.in). Di laman ini dituturkan, menurut US Office Technical and Scientific Information, SC adalah sebuah kota yang melakukan monitor dan integrasi terhadap kondisi dari seluruh infrastruktur pentingnya, termasuk jalan, jembatan, terowongan, rel, kereta api bawah tanah, bandara, pelabuhan, komunikasi, air, energi, dan juga bangunan besar, dapat mengoptimalisasi sumber dayanya, merencanakan aktivitas perawatan pencegahan, dan memonitor aspek keamanan, serta memaksimalkan pelayanannya terhadap masyarakat. Di Indonesia, SC dianggap sebagai bagian dari implementasi konsep Internet of Things (IoT). Untuk membangun sebuah SC, diperlukan integrasi dan kerja sama yang baik dari tiga komponen kota: masyarakat, pemerintah, dan infrastruktur (sumber: softwareseni.co.id). Jadi, partisipasi masyarakat menjadi sangat penting untuk mendukung terbentuknya SC yang ideal sesuai konteks lokal. Sebagai contoh, Boston, salah satu SC di Amerika Serikat yang berada di peringkat kedua setelah New York City, sudah menerapkan pendekatan “citizen centric” dalam membuat kebijakan (sumber: businesschief.com).

Secara sederhana, SC adalah sebuah konsep pembangunan kota yang menggunakan data dan teknologi informasi (TI) untuk meningkatkan efisiensi pelayanan publik. Di dalam SC, big data dan TI memainkan peran utama sehingga ada enam faktor yang mengindikasikan sebuah kota masuk ke dalam kategori SC, yaitu: smart people, smart mobility, smart living, smart economy, smart environment, dan smart government. (sumber: softwareseni.co.id).

Jika kita telisik, keenam indikator di atas bukanlah hal yang mudah untuk dicapai dalam kurun waktu setahun-dua tahun. Apalagi smart people dengan kelima indikator lainnya memiliki korelasi sebab-akibat. Tanpa smart people, bagaimana mau membangun kelima smart lainnya?

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, Banda Aceh merupakan kota yang sustainable serta punya kemampuan ruang fiskal, APBD dikurangi biaya rutin atau biaya yang bisa dimanfaatkan untuk pembangunan. Dengan demikian, Banda Aceh dianggap mampu menjadi salah satu pilot project untuk SC di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa secara fisik/materi, Banda Aceh cukup berpotensi untuk bertransformasi menjadi SC, sesuatu yang patut disyukuri dan ditindaklanjuti.

Bagaimana dengan kesiapan nonfisik, yang akan menunjang pencapaian indikator smart people? Indikator ini menjadi yang paling krusial di antara lima indikator lainnya karena terlalu sulit untuk dibayangkan bagaimana sebuah kota pintar dibangun oleh masyarakat yang tidak cerdas/pintar, bukan? Apalagi kecerdasan tidak hanya terletak pada kapasitas “Intelligence Quotient” (IQ). Untuk mengendalikan manusia agar menggunakan IQ-nya dengan tepat dibutuhkan “Emotional Question” (EQ) yang memadai.

Menurut Daniel Goldman, EQ adalah kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri, perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi dengan baik, dan berhubungan dengan orang lain. Setinggi apa pun IQ jika tidak dilengkapi dengan EQ yang kuat maka bisa berakibat buruk bagi orang-orang atau lingkungan di sekitarnya. Ketika muncul pertanyaan, mengapa sebuah institusi yang ramai digerakkan oleh orang pintar tapi masih sering memberikan efek negatif bagi orang lain atau lingkungan? Mengapa banyak orang yang menggunakan teknologi informasi berbentuk media sosial untuk melakukan black campaign menjelang pemilu? Mengapa data pengguna Facebook bisa dibocorkan untuk kepentingan politik oleh perusahaan secerdas Cambridge Analytica? Kapasitas EQ mereka mungkin menjadi salah satu jawaban. Mereka ingin menyelesaikan masalahnya dengan cara yang tidak tepat sehingga merugikan orang lain.

Kalau kita cermati contoh yang lebih sederhana di dalam kehidupan sehari-hari di kota Banda Aceh, masih sering terlihat orang-orang yang sedikit sekali menggunakan kapasitas EQ-nya. Contohnya, masih banyak orang yang paham bahwa tempat tinggal harus bersih bersih, tetapi dengan cara membuang sampah tidak pada tempatnya, seperti di sungai, jalanan, dan sebagainya sehingga lingkungan tercemar dan menjadi sumber penyakit. Masih banyak orang yang paham bahwa disiplin waktu sangat penting, tetapi dengan cara tidak menghentikan kendaraannya ketika lampu merah masih menyala sehingga mengganggu pengendara yang lain bahkan dapat mengancam nyawanya atau orang lain, dan masih banyak contoh lainnya di mana ego gagal dikendalikan.

Lantas apa hubungannya sikap egoisme dengan pembangunan SC? Tentu saja hubungannya sangat erat. Seperti yang disebutkan sebelumnya, masyarakat dan pemerintah merupakan unsur penting untuk membangun sebuah SC. Kualitas sebuah SC ditentukan oleh kualitas orang yang hidup di dalamnya. Jika SC yang hendak dibangun hanya mengandalkan kecerdasan IQ, maka akan sulit untuk menciptakan pelayanan publik yang bebas ego dan peduli terhadap lingkungan. Oleh karena itu, pemerintah kota banda Aceh perlu menjadikan smart people sebagai prasyarat untuk menciptakan SC sebelum membangun sebuah SC.

Salah satu cara untuk memenuhi prasyarat ini, mutu Pendidikan di Banda Aceh perlu ditingkatkan tidak hanya dalam dimensi IQ, tapi juga EQ. Peningkatan pendidikan yang dimaksudkan ini semestinya dilakukan pada semua lingkaran, tidak terbatas pada institusi pendidikan. Dengan demikian, ketika memulai pilot project SC ini, Banda Aceh sudah punya bekal yang cukup, fisik dan non-fisik, untuk meraih 6 indikator SC tersebut.  

Jadi, jika kita masih suka buang sampah sembarangan atau menerobos lampu merah, akan sangat sulit untuk mempercepat terwujudnya mimpi kota Banda Aceh menjadi Smart City. Oleh karenanya, mari kita belajar bersama-sama meningkatkan EQ untuk membangun Banda Aceh menjadi kota yang pintar secara penalaran maupun kepribadian!

Penulis adalah Data Scientist, Research and Publication Manager – The Aceh Institute

KOMENTAR FACEBOOK